Latihan Militer ASEAN: Dari Kegiatan Teknis Menjadi Isu Politik
Latihan militer ASEAN adalah rangkaian aktivitas gabungan angkatan bersenjata negara-negara Asia Tenggara, baik di darat, laut, maupun udara, yang dirancang untuk meningkatkan koordinasi pertahanan regional, memperkuat diplomasi maritim, dan menjaga stabilitas kawasan sekaligus menghindari kesan keberpihakan dalam persaingan kekuatan besar. Polemik terbaru bermula dari kabar rencana latihan gabungan TNI Angkatan Laut dengan Angkatan Laut Tiongkok di perairan dekat Taiwan, yang memantik respons keras dari otoritas Taipei. Bagi angkatan laut, passage exercise (PASSEX) adalah hal lumrah dalam diplomasi pertahanan, tetapi ketika dilakukan di salah satu titik panas geopolitik paling krusial di dunia, maknanya berubah menjadi isu politik dan simbolik. Jika ASEAN tidak segera membangun kerangka latihan militer bersama, setiap manuver kapal perang di sekitar kawasan akan terus dibaca dengan kacamata kecurigaan, bukan kerja sama.

Ketiadaan Pedoman Regional: Pintu Terbuka bagi Politisasi
Kasus PASSEX antara kapal perang China Honghe dan fregat KRI I Gusti Ngurah Rai-332 di timur Taiwan menunjukkan betapa mudah aktivitas teknis militer berubah menjadi amunisi propaganda geopolitik ketika tidak dibingkai dengan narasi yang jelas. Kegiatan tersebut berlangsung di kawasan yang sangat sensitif secara geopolitik, di tengah meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Taiwan. Tanpa pedoman latihan militer ASEAN, setiap negara bergerak sendiri-sendiri dengan koridor komunikasi yang berbeda-beda. Akibatnya, peta interaksi militer di kawasan tampak seperti kepingan puzzle terpisah, dan mudah disalahpahami atau dipolitisasi oleh pihak eksternal. Jika tidak ada panduan tata kelola bersama, kawasan ini berisiko terus dijadikan panggung demonstrasi kekuatan yang memicu salah paham geopolitik dan menggerus stabilitas kawasan. ASEAN sedang membuka pintu lebar-lebar bagi narasi “siapa di kubu siapa”, padahal secara prinsip ingin netral.
Klarifikasi TNI AL: Diplomasi Maritim Butuh Transparansi Kolektif
TNI AL menegaskan bahwa aktivitas bersama dengan Angkatan Laut China di timur Taiwan bukan latihan tempur maupun bentuk keberpihakan dalam konflik China-Taiwan, melainkan PASSEX yang lazim dilakukan ketika kapal perang berlayar berdekatan. Kegiatan itu disebut sebagai bagian dari diplomasi maritim rutin dalam perjalanan pulang KRI I Gusti Ngurah Rai-332 setelah latihan dengan Angkatan Laut Rusia di Vladivostok. Kepala Dinas Penerangan TNI AL menjelaskan bahwa PASSEX adalah bentuk persahabatan antarmiliter sekaligus instrumen diplomasi maritim, bukan uji kemampuan menyerang atau bertahan melawan musuh. Klarifikasi ini penting, namun datang setelah perhatian internasional terlanjur tajam. Di sinilah kelemahan ASEAN: transparansi masih bersifat sporadis dan defensif, muncul ketika kontroversi sudah menggelinding. Latihan laut bersama seharusnya menjadi instrumen membangun kepercayaan, bukan pemicu rasa curiga di antara tetangga kawasan.
Mengapa ASEAN Butuh Guidelines untuk Latihan Militer dengan Kekuatan Besar
Selama ini, interaksi militer negara anggota dengan kekuatan besar seperti Tiongkok, Amerika Serikat, Australia, dan Rusia ditangani secara bilateral. Hasilnya adalah mosaik latihan yang tidak terhubung, yang mudah dibaca sebagai tarik-menarik pengaruh di halaman rumah ASEAN. Tanpa kerangka bersama, kawasan ini akan terus menjadi panggung show of force, bukan ruang konsolidasi stabilitas kawasan. Sudah saatnya ASEAN menyusun guidelines untuk latihan militer dengan pihak eksternal, terutama latihan laut. Kerangka ini perlu menetapkan kejelasan zona geografis agar aktivitas difokuskan pada perairan netral atau ZEE nasional yang tidak bersinggungan langsung dengan flashpoint sensitif. Selain itu, harus ada kedaulatan narasi bersama melalui rilis pers independen atau joint statement yang menegaskan orientasi pada keselamatan maritim dan mitigasi bencana, bukan dukungan klaim politik tertentu. Tanpa itu, diplomasi maritim akan terus dibajak oleh framing pihak luar.
Meneguhkan Sentralitas ASEAN dan Konklusi: Saatnya Menjaga Dapur Sendiri
Sebagai pemimpin informal di kawasan, Indonesia memegang peran kunci untuk mengubah gesekan militer di sekitar Selat Taiwan dan Laut Cina Selatan menjadi momentum perbaikan tata kelola regional. Latihan militer ASEAN harus ditempatkan sebagai instrumen koordinasi pertahanan regional yang memperkuat prinsip Zone of Peace, Freedom and Neutrality (ZOPFAN), bukan sebagai perpanjangan tangan agenda kekuatan besar. Tanpa aturan main yang jelas, halaman rumah ASEAN akan terus menjadi arena tarik-menarik kepentingan, sementara negara-negara anggota sibuk memadamkan persepsi miring satu per satu. Pertanyaannya sederhana: apakah ASEAN akan membiarkan narasi keamanan kawasan dikendalikan oleh pihak luar, atau berani mengambil kendali? Jawabannya seharusnya tegas. Dengan guidelines latihan militer yang transparan, berbasis diplomasi maritim dan kepercayaan, ASEAN dapat menjaga dapur sendiri sekaligus mengirim pesan bahwa stabilitas kawasan bukan komoditas, melainkan kepentingan bersama yang tidak bisa ditawar.






