Bantuan harus terasa di lapangan
Dana karhutla Tabalong adalah bantuan pemerintah yang diarahkan untuk menyediakan peralatan, armada, dan dukungan operasional agar kebakaran hutan dan lahan dapat ditangani lebih cepat. DPRD Tabalong mendorong bantuan presiden Tabalong senilai Rp10 miliar digunakan untuk memperkuat relawan dan sarana prasarana, bukan berhenti sebagai angka dalam anggaran. Wakil Ketua I DPRD Tabalong, Mustafa, menyambut baik bantuan tersebut dan menekankan pentingnya kesiapsiagaan, terutama di tengah cuaca ekstrem yang dapat memperbesar risiko kebakaran. Menurutnya, penanganan karhutla memerlukan kerja bersama pemerintah daerah, BPBD, DPRD, relawan, dan masyarakat. Prioritas ini tepat: saat api muncul, kemampuan menjangkau titik kebakaran dan perlengkapan yang tersedia menentukan seberapa cepat tim dapat bertindak. Karena itu, ukuran keberhasilan bantuan semestinya terlihat pada kesiapan petugas dan dukungan nyata di lapangan.

Armada dan pompa menjadi tulang punggung
Pemkab Tabalong memprioritaskan tujuh mobil tangki air, 90 mesin pemadam jinjing dan gendong beserta alat pelindung diri, serta 90 mesin pemadam portabel untuk UPBS. Rangkaian sarana pemadam kebakaran ini menjawab kebutuhan yang berbeda: mobil tangki membawa pasokan air, sementara pompa membantu relawan menangani titik api dengan peralatan yang dapat dibawa ke lapangan. Jumlah pompa yang besar juga menunjukkan bahwa respons tidak cukup bertumpu pada satu armada atau satu tim. Namun, pengadaan baru akan berguna bila peralatan tersedia bagi petugas saat dibutuhkan. Dorongan DPRD agar bantuan memperkuat kapasitas relawan karena itu penting: kendaraan dan mesin harus menjadi bagian dari kesiapan kerja, bukan sekadar daftar pengadaan. Fokus pada sarana operasional memberi relawan alat yang dibutuhkan untuk bergerak lebih cepat ketika kebakaran terjadi.
Dukungan relawan mencakup kesehatan dan operasional
Respons kebakaran juga menuntut perlindungan bagi orang-orang yang bekerja di lapangan. Anggaran mencakup 5.000 kotak masker, dukungan ruang oksigen di 18 puskesmas dan satu PSC, serta 17.000 liter BBM untuk operasional relawan dan UPBS. Komponen ini memperluas arti kesiapsiagaan: bukan hanya pompa dan kendaraan, tetapi juga perlindungan kesehatan dan bahan bakar agar tim dapat menjalankan tugas. Bupati Tabalong Haji Muhammad Noor Rifani menjelaskan bahwa penggunaan dana difokuskan pada sarana prasarana dan kebutuhan operasional, termasuk alat pelindung diri, BBM, mesin pompa, dan mobil tangki. Pemerintah juga menyebut uang makan tidak dimasukkan dalam alokasi tersebut. Pilihan itu menegaskan fokus anggaran pada perlengkapan dan dukungan kerja langsung, meski kemampuan relawan tetap bergantung pada koordinasi dan ketersediaan kebutuhan saat bertugas.
Keberhasilan bergantung pada kesiapan bersama
Prioritas dana ini masuk akal karena peralatan yang memadai dapat membantu relawan merespons lebih cepat, sementara dukungan kesehatan dan BBM menjaga operasi tetap berjalan. Bagi masyarakat, dampak yang diharapkan adalah kesiapan lebih baik dan penanganan kebakaran yang lebih cepat sebelum api meluas. Namun, bantuan Rp10 miliar tidak dengan sendirinya menyelesaikan tantangan karhutla: pemerintah daerah, BPBD, UPBS, relawan, DPRD, dan warga tetap perlu bekerja selaras. Penekanan DPRD pada penguatan relawan patut dipandang sebagai pengingat bahwa sarana harus sampai kepada pengguna dan mendukung tindakan nyata. Kesimpulannya, pilihan untuk mengutamakan armada, ratusan pompa, alat pelindung diri, dukungan kesehatan, dan BBM adalah arah yang tepat. Nilai bantuan akan ditentukan oleh seberapa siap seluruh unsur menggunakannya saat kebakaran mengancam.






