Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Vlogger Goes To Campus: Literasi Digital yang Nyata di Dunia Kampus

Vlogger Goes To Campus: Literasi Digital yang Nyata di Dunia Kampus
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

VGTC: Literasi Digital Mahasiswa yang Turun ke Lapangan

Program Vlogger Goes To Campus (VGTC) adalah sebuah program edukasi konten kreatif yang dirancang untuk menggabungkan literasi digital mahasiswa dengan praktik langsung pembuatan konten, sehingga teori komunikasi di bangku kuliah bertemu dengan realitas industri digital melalui aktivitas produksi video, tantangan konten, dan interaksi dengan praktisi yang aktif berkarya di platform media sosial. Astra Motor Bali bersama PT Astra Honda Motor menggelar VGTC di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana pada 2 September 2026, menghadirkan semangat kreativitas dan literasi digital di lingkungan kampus. Sekitar 150 peserta dari mahasiswa FISIP, komunitas, hingga vlogger dan blogger Bali mengikuti rangkaian agenda interaktif yang bukan sekadar sosialisasi merek, tetapi eksperimen pendidikan digital yang relevan dengan kebutuhan industri konten modern. Jika kampus sering dituduh lambat mengikuti dinamika dunia digital, VGTC memberikan jawaban konkret bahwa kolaborasi dengan industri dapat mengubah ruang kuliah menjadi laboratorium konten yang hidup.

Saat Teori Komunikasi Bertemu Kamera dan Reels

Kekuatan utama VGTC terletak pada keberanian menggabungkan teori akademis dengan praktik nyata produksi konten. Pernyataan Liem Hok Lay bahwa VGTC adalah kesempatan memperdalam ilmu sekaligus praktik nyata menghasilkan konten kreatif dan berbobot, “selaras dengan konsentrasi ilmu yang sedang mereka tempuh di bangku kuliah”, bukan basa-basi promosi. Materi pembuatan konten digital dibawa oleh narasumber yang aktif di dunia otomotif digital, seperti Den Dimas (@buburayamracer), A.A Istri Putri Dwi Jayanti, dan Andi Gusti Zena, lalu langsung dipraktikkan melalui Content Creation Challenge. Literasi digital di sini bukan daftar tips etika online, melainkan pembelajaran praktis vlogger: mahasiswa diminta mengeksplorasi sudut visual menarik, mengembangkan konsep, dan mengemasnya dalam format yang cocok untuk media digital. Ini persis yang dibutuhkan generasi muda yang ingin bekerja di industri kreatif—kemampuan membaca tren sekaligus mengeksekusi ide menjadi karya yang dapat diukur dampaknya.

Hands-on: Dari Konten Otomotif ke Keterampilan Karier

Banyak program literasi digital berhenti di ruang seminar; VGTC memilih jalur berbeda dengan menjadikan konten otomotif sebagai medium pembelajaran praktis. Lewat Content Creation Challenge, peserta diminta mengambil angle visual terbaik menggunakan motor terbaru Honda seperti Honda Scoopy, Honda Stylo, dan Honda ADV, lalu mengolahnya menjadi konten digital yang menarik. Kompetisi Reels yang menghasilkan pemenang @d3kdaa, @gunghanata_, dan @0annisaptrrr menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya mendengar teori, tetapi menghasilkan karya nyata yang dapat diuji kualitasnya. Di sinilah literasi digital mahasiswa naik kelas: mereka belajar membaca brief, memahami audiens, memilih format, dan memproduksi konten yang kreatif sekaligus berbobot. Keterampilan digital generasi muda dibangun melalui tekanan deadline, tuntutan kualitas visual, dan kebutuhan bercerita tentang produk tanpa kehilangan integritas sebagai komunikator.

Kolaborasi Industri–Kampus: Kurikulum yang Menyentuh Dunia Kerja

Kolaborasi Astra Motor Bali dengan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana menunjukkan bagaimana industri dapat ikut menajamkan relevansi kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada sesi edukasi, tetapi memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam mengembangkan konsep konten dan mengemasnya untuk media digital—persis keterampilan yang dicari industri. Di balik riding test, display unit sepeda motor, dan Bengkel Siaga Honda dengan servis gratis, diskon jasa servis 50%, diskon sparepart 5%, hingga free coating senilai Rp1.500.000, terdapat pesan penting: brand siap berinvestasi pada kompetensi digital generasi muda, bukan sekadar mengejar exposure sesaat. Mahasiswa belajar bahwa kerja sama dengan korporasi tidak otomatis berarti tunduk pada kepentingan promosi; jika dirancang dengan jelas, ia dapat menjadi sarana pelatihan yang menghubungkan kelas teoretis dengan realitas konten komersial dan peluang karier di era digital.

Mengapa Model VGTC Patut Ditiru Kampus Lain

VGTC layak diposisikan sebagai contoh program edukasi konten kreatif yang menjawab kegelisahan pendidikan tinggi: bagaimana menyiapkan mahasiswa untuk karier di ekosistem digital yang berubah cepat. Dengan sekitar 150 peserta yang diajak berani tampil, bijak memanfaatkan media sosial, dan konsisten melahirkan karya kreatif bermanfaat bagi masyarakat, program ini memperlihatkan dampak sosial sekaligus profesional. Literasi digital mahasiswa dibangun bukan hanya lewat nasihat etika, tetapi lewat pengalaman diperlakukan seperti kreator yang bertanggung jawab atas kualitas dan dampak kontennya. Kampus lain seharusnya melihat bahwa pembelajaran praktis vlogger bukan ancaman bagi akademisi, melainkan perpanjangan alami dari teori komunikasi, media, dan budaya populer. Kesimpulannya, jika universitas ingin lulusannya relevan dengan kebutuhan industri, model seperti VGTC—menggabungkan teori, praktik, dan kolaborasi dengan pelaku industri—bukan lagi pilihan tambahan, melainkan komponen wajib kurikulum era digital.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!