Kolam Retensi Air: Bukan Lagi Pelengkap, Melainkan Tulang Punggung Kota
Kolam retensi air adalah infrastruktur penanganan banjir yang dirancang sebagai tampungan sementara limpasan hujan, memotong kecepatan aliran, menyimpan air dalam kapasitas penyimpanan air yang terukur, lalu melepaskannya kembali secara terkendali agar genangan kota besar berkurang dan sistem drainase tidak kolaps saat curah hujan tinggi. Di tengah intensitas hujan yang kian tak menentu, kota-kota besar mulai menempatkan kolam retensi bukan sebagai proyek tambahan, tetapi sebagai tulang punggung kebijakan ruang kota. Pilihan ini adalah pengakuan terang: pendekatan lama yang memaksa air “dibuang secepat mungkin” sudah gagal, dan kita membutuhkan strategi yang mengutamakan penahanan, pengaturan, dan pemulihan fungsi ruang sebagai penyimpanan air.
Palembang: Perluasan Kolam Simpang Polda Sebagai Etalase Strategi Baru
Perluasan dan pendalaman Kolam Retensi Simpang Polda resmi dimulai sebagai bagian paket restorasi sungai bernilai Rp385 miliar, hasil kolaborasi pemerintah provinsi, pemerintah kota, dan otoritas pengelola sungai. Proyek ini bukan sekadar galian tanah; kapasitas tampungan dinaikkan dari sekitar 9.600 meter kubik menjadi 30.000 meter kubik, hampir tiga kali lipat, lengkap dengan perluasan lahan hingga mendekati satu hektare dan kedalaman 2–3 meter. Langkah ini tegas: Palembang memilih menahan air di pusat masalah genangan kota besar, bukan memindahkannya ke tempat lain. Wali kota berharap kawasan Ilir Timur I, Ilir Timur III, dan Kemuning merasakan penurunan genangan yang selama ini mengganggu kenyamanan warga.
Yang menarik, proyek ini dikejar dengan kesadaran waktu: gubernur menekankan bahwa dalam satu bulan wilayah akan memasuki musim hujan, sehingga setiap hari kerja menentukan seberapa besar volume tampungan yang siap menghadapi puncak curah hujan. Ini menunjukkan pergeseran penting: infrastruktur penanganan banjir diperlakukan sebagai urusan kedaruratan terencana, bukan proyek fisik yang berjalan tanpa ritme cuaca. Dengan menyasar peningkatan kapasitas penyimpanan air dan perbaikan saluran permukiman secara simultan, Palembang mengirim pesan jelas bahwa kota yang ingin bebas genangan harus berani mengorbankan lahan, anggaran, dan kenyamanan jangka pendek demi ketahanan jangka panjang.
| Spesifikasi | Sebelum Proyek | Setelah Proyek |
|---|---|---|
| Kapasitas tampungan kolam retensi | ±9.600 m³ | 30.000 m³ |
| Luas lahan kolam | 0,4–0,56 ha | Hampir 1 ha |
| Estimasi durasi pengerjaan | - | ±15 bulan, target selesai Januari 2028 |

Bandung Selatan: Genangan Kronis yang Menuntut Rekayasa Penyimpanan Air
Bandung mengambil rute yang sejalan dengan Palembang, tetapi dengan skala masalah yang lebih pelik. Kawasan Bandung Selatan, terutama di selatan koridor Soekarno-Hatta, sudah menjadi langganan genangan kota besar yang mengganggu aktivitas harian. Dulu, pendekatan yang diambil adalah menjadikan wilayah timur sebagai “tol air” dengan memperbesar saluran drainase agar air cepat dialirkan ke selatan. Hasilnya? Genangan berpindah, kabupaten tetangga kebanjiran, dan kapasitas saluran akhirnya diperkecil lagi hingga air justru kembali menumpuk di dalam kota. Ini adalah contoh klasik bagaimana kebijakan yang hanya berorientasi mengalirkan air tanpa menyimpan malah memproduksi krisis baru.
Wali kota kini mengakui perlunya perubahan paradigma dan mengarahkan solusi pada pembangunan kolam retensi air berukuran besar di kawasan timur sebagai infrastruktur penanganan banjir utama. Secara historis, jalur Soekarno-Hatta merupakan area resapan dan penampungan alami yang telah digantikan deretan bangunan. Merebut kembali fungsi itu melalui rekayasa teknik kompleks diperkirakan memerlukan anggaran sekitar Rp800 miliar untuk menuntaskan masalah di sisi timur saja. Rencana besar ini akan dibawa ke tingkat pusat untuk mendapatkan legitimasi desain dan skema pendanaan bersama. Pilihan Bandung jelas: ketimbang terus menyesuaikan saluran untuk menyingkirkan air, kota ini mencoba membangun ulang sistem penyimpanan air yang hilang—meski dengan harga yang mahal dan proses politik panjang.
Kolam Retensi Sebagai Strategi Preventif, Bukan Tambal Sulam Musim Hujan
Dari Palembang hingga Bandung, arah kebijakan baru ini memberi pelajaran keras: kota besar tidak bisa lagi mengandalkan saluran drainase yang diperbesar sebagai jawaban tunggal terhadap banjir. Infrastruktur penyimpanan air menjadi strategi preventif utama menghadapi intensitas curah hujan tinggi, karena hanya dengan menahan debit saat puncak hujan, sistem kota punya waktu mengalirkan air tanpa ambruk. Peningkatan kapasitas penyimpanan air pada kolam retensi Simpang Polda, sampai tiga kali lipat, menunjukkan komitmen serius mengganti logika “buang air secepatnya” dengan “kelola air setepatnya”. Sementara itu, gagasan kolam retensi raksasa di Bandung merepresentasikan upaya merehabilitasi memori ekologis kota: mengembalikan ruang air yang telah diklaim beton demi stabilitas jangka panjang.
Namun strategi ini bukan tanpa konsekuensi. Kolam retensi air membutuhkan lahan yang dalam banyak kasus berarti merelokasi fungsi lain, memaksa pemerintah menegosiasikan kepentingan investasi, jaringan jalan, dan permukiman. Biaya Rp385 miliar di Palembang dan proyeksi Rp800 miliar di Bandung mengirim sinyal bahwa adaptasi terhadap perubahan pola hujan adalah investasi, bukan pengeluaran tak penting. Yang perlu dikritisi adalah konsistensi jangka panjang: kolam retensi akan gagal bila dibiarkan terokupasi kembali, tercemar, atau tak terintegrasi dengan kebijakan tata ruang. Kota yang berani memperluas kolam hari ini juga harus berani menahan godaan mengubahnya menjadi lahan komersial esok hari.
Kesimpulan: Mengukur Keseriusan Kota dari Ruang yang Diberikannya pada Air
Jika ada ukuran sederhana untuk menilai keseriusan sebuah kota menghadapi banjir, itu adalah seberapa banyak ruang yang berani ia berikan kembali kepada air. Palembang menjawabnya dengan meningkatkan kapasitas kolam retensi Simpang Polda hingga 30.000 meter kubik disertai perluasan lahan dan perbaikan saluran permukiman. Bandung, meski masih pada tahap rencana, menunjukkan bahwa genangan kronis di Bandung Selatan tidak akan diselesaikan dengan saluran yang diperbesar, tetapi dengan kolam retensi air raksasa yang menampung dan memompa balik limpasan secara terukur.
Dua contoh ini mengirim pesan lantang ke kota-kota lain: genangan kota besar bukan sekadar urusan musim hujan, melainkan konsekuensi akumulatif dari pilihan tata ruang yang menyingkirkan air dari lanskap kota. Dengan menjadikan kolam retensi sebagai infrastruktur penanganan banjir utama, pemerintah daerah mulai mengakui bahwa air tidak bisa terus diusir; ia harus diberi tempat, dikelola, dan diintegrasikan dalam desain kota. Pertaruhannya jelas: menyerahkan sebagian ruang hari ini demi menghindari lumpuhnya seluruh kota ketika hujan datang esok.






