Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Strategi Komprehensif Dukungan Psikososial untuk Penyintas Bencana Alam

Strategi Komprehensif Dukungan Psikososial untuk Penyintas Bencana Alam
Minat|Kesehatan Mental

Dukungan Psikososial Bukan Pelengkap, Tapi Inti Penanganan Bencana

Dukungan psikososial penyintas adalah rangkaian upaya terencana untuk melindungi, memulihkan, dan memperkuat kesehatan mental, emosi, serta hubungan sosial orang-orang yang terdampak bencana, mulai dari pertolongan pertama psikologis, deteksi dini masalah kejiwaan, hingga pendampingan jangka panjang agar mereka mampu kembali merasa aman dan menjalankan kehidupan sehari-hari secara bermakna.

Menganggap urusan jiwa sebagai urusan belakangan adalah kesalahan strategis. Gempa mungkin berhenti dalam hitungan menit, tetapi dampak psikologisnya dapat bertahan jauh lebih lama. Pengalaman kehilangan harta benda dan menghadapi situasi bencana memperbesar risiko gangguan kecemasan, depresi, hingga trauma berkepanjangan pada penyintas. Karena itu, penanganan bencana tidak boleh berhenti pada tenda, pangan, dan infrastruktur; tanpa pemulihan mental pascagempa, seluruh investasi fisik bisa runtuh oleh krisis kejiwaan yang dibiarkan.

Di NTT, pola baru mulai terlihat: PMI, pemerintah daerah, universitas, dan sektor swasta menyusun pendekatan trauma healing bencana alam yang lebih terkoordinasi, dari asesmen awal hingga intervensi lanjutan. Ini bukan lagi kegiatan seremonial pengisi waktu di posko, melainkan intervensi kesehatan publik yang strategis.

Strategi Komprehensif Dukungan Psikososial untuk Penyintas Bencana Alam

Kolaborasi PMI, Kampus, dan Pemda: Kerangka Baru Layanan Psikososial

Contoh paling nyata pendekatan komprehensif adalah layanan dukungan psikososial penyintas gempa di Manggarai dan Ende. Tim KKN dari sebuah universitas menyiapkan dukungan psikososial bagi warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai, dimulai pada 23 September 2026. Mereka turun langsung ke tengah masyarakat, mendengarkan keluhan, memetakan kebutuhan, dan mengidentifikasi penyintas yang membutuhkan perhatian psikologis lanjutan.

Di Ende, PMI menghadirkan Layanan Dukungan Psikososial (PSS) di SD Inpres Rojabai yang menjangkau 121 penerima manfaat, terdiri atas 116 anak dan 5 guru. Program ini tidak berdiri sendiri; Tim PSS PMI Kabupaten Ende bekerja bersama tim dari Jakarta Timur, Manado, dan Jawa Timur dalam penugasan respons kemanusiaan terpusat. Kutipan yang patut digarisbawahi: “Melalui layanan dukungan psikososial, PMI tidak hanya memberikan respons terhadap kebutuhan fisik pascabencana, tetapi juga berupaya mendukung pemulihan psikososial masyarakat terdampak.”

Di sisi lain, Pemerintah Daerah Manggarai Timur menegaskan komitmen deteksi dini masalah kejiwaan bagi penyintas di posko, dengan menugaskan lintas sektor hingga tingkat kecamatan dan desa untuk memantau kondisi psikososial warga. Data resmi mencatat 783 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) pada 2026; 715 tertangani dengan obat, 51 masih dipasung, dan satu orang telah bebas pasung. Angka ini menjadi alarm keras: bencana baru hanya akan memperparah beban jika dukungan psikososial diabaikan.

Strategi Komprehensif Dukungan Psikososial untuk Penyintas Bencana Alam

Trauma Healing dan Psikoedukasi: Dari Lapangan Sekolah hingga Pertemuan Nasabah

Trauma healing bencana alam di NTT tidak lagi terbatas pada sesi konseling formal; ia hadir dalam bentuk aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di SD Inpres Rojabai, kegiatan untuk anak-anak dikemas sebagai permainan dan edukasi interaktif untuk mengembalikan rasa aman, membangun kembali rutinitas, sekaligus mengajarkan mitigasi gempa dan langkah praktis ketika guncangan terjadi. Anak-anak juga diberi penguatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), sehingga intervensi psikososial bersandingan dengan edukasi kesehatan dasar.

Guru tidak dibiarkan memikul beban sendiri. Melalui Focus Group Discussion (FGD), mereka diajak berbagi tantangan pascagempa, mengekspresikan emosi, dan mengidentifikasi bentuk dukungan yang dibutuhkan untuk mendampingi diri sendiri dan murid. Pendekatan ini menunjukkan pemahaman penting: pemulihan mental pascagempa akan rapuh jika orang-orang kunci di lingkungan sekolah tidak diperkuat.

Di sektor swasta, sebuah lembaga pembiayaan menghadirkan program trauma healing bertajuk “Bangkit Berusaha” bagi lebih dari 700 nasabah dan juga karyawan yang terdampak gempa. Pendampingan psikologis mencakup teknik pengaturan napas, latihan fokus dengan mengenali lima benda di sekitar, hingga butterfly hug sebagai cara menenangkan diri secara mandiri. Seorang peserta menyebut latihan ini membuatnya merasa lega karena tidak perlu menunggu orang lain untuk bisa tenang. Di sini terlihat sinergi: relawan terlatih dan psikolog profesional bekerja bersama, menghubungkan dukungan emosional dengan pemulihan ekonomi keluarga.

Strategi Komprehensif Dukungan Psikososial untuk Penyintas Bencana Alam

Deteksi Dini dan Psikologi Bencana: Dari Pertolongan Pertama hingga Asesmen Trauma

Rapat lintas sektor di Manggarai Timur menegaskan bahwa kesehatan jiwa membutuhkan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif secara menyatu. Deteksi dini masalah kejiwaan pada penyintas gempa di posko bukan slogan, melainkan mandat: perangkat daerah bekerja sama dengan pemerintah kecamatan dan desa untuk menemukan Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) sebelum gejala memburuk. Tanpa asesmen sistematis, banyak kasus akan baru tampak ketika sudah berat, menambah daftar ODGJ yang selama ini pun belum tertangani tuntas.

Di sisi pengetahuan, buku mengenai psikologi bencana menguraikan teori stres, coping, asesmen trauma, hingga strategi pemulihan jangka panjang yang relevan dengan pengalaman berbagai bencana besar di tanah air. Salah satu fokusnya adalah Psychological First Aid (PFA): bantuan awal yang manusiawi, suportif, dan praktis, dengan tetap menghormati martabat dan budaya penyintas. PFA menekankan tindakan sederhana—mendengarkan tanpa memaksa, membantu mengenali kebutuhan mendesak, dan menghubungkan penyintas dengan layanan atau komunitas—yang dapat dilakukan relawan terlatih.

Psikoedukasi relawan bencana menjadi kunci. Pemahaman PFA dianjurkan tidak hanya bagi tenaga profesional, tetapi juga bagi relawan dan masyarakat yang terlibat dalam penanganan bencana. Tanpa peningkatan kapasitas ini, niat baik di lapangan bisa berbalik menjadi intervensi yang memperburuk trauma, misalnya dengan memaksa penyintas menceritakan ulang pengalaman secara detail. Dengan landasan teori yang kuat, relawan PMI, mahasiswa KKN, dan kader desa punya panduan untuk bertindak terukur, bukan sekadar mengandalkan empati spontan.

Pendekatan Holistik: Mengikat Pangan, Pendidikan, dan Jiwa dalam Satu Gerak

Pelajaran utama dari rangkaian inisiatif ini jelas: dukungan psikososial penyintas tidak bisa dipisahkan dari dukungan pangan, layanan kesehatan, dan pendidikan. Penanganan bencana tidak hanya soal evakuasi, logistik, dan pembangunan ulang infrastruktur, tetapi juga tentang pemulihan kondisi psikologis penyintas sebagai bagian yang tidak kalah penting. Tim KKN menegaskan perlunya penanganan aspek mental bersamaan dengan layanan kesehatan dan kebutuhan dasar agar dampak gempa tidak semata dilihat dari kerusakan fisik.

Di sekolah, pendekatan holistik terlihat dari kombinasi edukasi kebencanaan, PHBS, dan kegiatan bermain yang memulihkan rasa aman anak. Di sektor keuangan mikro, trauma healing dihubungkan dengan pemulihan usaha dan kepercayaan diri nasabah untuk kembali bangkit demi keluarga. Sementara itu, pemerintah daerah berusaha menghapus stigma terhadap ODMK dan ODGJ, meski masih terkendala obat dan tenaga terampil. Tanpa menantang stigma, deteksi dini masalah kejiwaan akan menemui tembok penolakan di tengah masyarakat.

Kesimpulannya, pemulihan mental pascagempa harus dipandang sebagai investasi sosial jangka panjang, bukan layanan tambahan. Trauma healing bencana alam, deteksi dini masalah kejiwaan, psikoedukasi relawan bencana, dan koordinasi lintas sektor adalah empat pilar yang saling menguatkan. Jika salah satu pilar absen, penyintas berisiko terjebak dalam lingkaran trauma, kemiskinan, dan stigmatisasi. Jika keempatnya berjalan bersama, bencana tidak lagi otomatis berarti kehancuran permanen, melainkan bisa menjadi titik balik untuk membangun

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!