Pendampingan Psikososial Bencana: Dari Kampus ke Lapangan
Pendampingan psikososial bencana adalah rangkaian dukungan terstruktur yang menggabungkan bantuan emosional, sosial, dan layanan kesehatan mental bagi korban, dilakukan sejak fase tanggap darurat hingga pemulihan, untuk mencegah kerusakan psikologis jangka panjang dan memperkuat kembali fungsi kehidupan sehari-hari mereka. Di NTT, pendekatan ini mulai digerakkan bukan oleh lembaga kemanusiaan semata, melainkan oleh kampus-kampus yang berani mengambil peran sentral. Universitas Negeri Malang mengirim 10 relawan kemanusiaan ke wilayah terdampak dengan misi pendampingan psikososial, pelayanan kesehatan, dan pendataan cepat tingkat kerusakan. Sementara itu, sebuah universitas di Surabaya mengalihkan fokus penanganan korban gempa dari kebutuhan darurat ke tahap pemulihan lewat pendampingan psikososial dan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak. Ini bukan sekadar aksi bakti sosial, melainkan embrio model intervensi kesehatan mental berbasis kampus yang layak ditiru.

UM: Relawan Kesehatan Jiwa yang Terorganisasi Sejak Hari Pertama
Langkah Universitas Negeri Malang menunjukkan bagaimana relawan kesehatan jiwa idealnya dimobilisasi: cepat, terencana, dan berbasis kebutuhan warga. Tim tahap pertama, beranggotakan sembilan mahasiswa lintas fakultas dan seorang dokter, diberangkatkan dari kampus pada 27 Agustus bersama tiga pengemudi untuk menuju lokasi penugasan di NTT. Mereka tidak hanya membawa bantuan, tetapi mandat jelas tiga fokus utama: pendampingan psikososial, pelayanan kesehatan, serta rapid assessment damage atau pendataan cepat tingkat kerusakan. Rektor menekankan bahwa kebutuhan masyarakat pascabencana tidak berhenti pada logistik; pemulihan psikologis dan layanan kesehatan harus segera ditangani agar penanganan lebih terarah. Kutipan kuncinya tegas: "Kita ingin tunjukkan bahwa kita juga kampus yang peduli". Dengan tim lanjutan yang disiapkan pada 29 Agustus untuk memperkuat layanan kesehatan dan pendampingan, kampus ini membangun pola respon berlapis yang secara praktis mempertemukan pendampingan psikososial bencana dengan intervensi medis dasar.

Ubaya: Pendekatan Bertahap dari Logistik ke Kesehatan Mental
Universitas di Surabaya memilih strategi multiphase yang patut diapresiasi: memenuhi kebutuhan dasar dulu, baru bergerak ke dukungan kesehatan mental korban dan layanan medis lanjutan. Pada tahap pertama, mereka menyalurkan ratusan paket kebutuhan darurat ke tiga wilayah terdampak, berisi terpal, makanan instan, perlengkapan mandi dan tidur, kebutuhan anak dan perempuan, serta obat-obatan. Bantuan ini jelas disesuaikan dengan kebutuhan mendesak masyarakat setelah bencana. Namun keunggulan pendekatan kampus ini tampak pada tahap kedua: pendampingan psikososial dan layanan kesehatan dipersiapkan dengan melibatkan tim pendamping dari berbagai fakultas, tenaga medis rumah sakit kampus, dan alumni. Pendekatan tersebut diharapkan membantu masyarakat menghadapi tekanan dan dampak psikologis setelah bencana, menjadi fondasi pemulihan trauma bencana alam yang tidak berhenti pada tenda dan sembako. Penggalangan dana bersama organisasi alumni sejak 17 Agustus hingga 31 Oktober memberi ruang untuk dukungan berkelanjutan, bukan intervensi sesaat.
Model Kolaborasi: Skala Intervensi Kesehatan Mental Berbasis Kampus
Jika dicermati, kedua kampus tersebut sedang membangun prototipe intervensi kesehatan mental yang skalabel: tim relawan kesehatan jiwa yang terintegrasi dengan tenaga medis, didukung pemetaan kerusakan, dan bergerak dalam beberapa fase. Di satu sisi, UM menempatkan pendampingan psikososial, pelayanan kesehatan, dan pendataan cepat kerusakan sebagai tiga misi utama sejak keberangkatan tim. Di sisi lain, kampus di Surabaya menggeser fokus dari bantuan darurat ke pemulihan melalui pendampingan psikososial dan layanan kesehatan yang melibatkan fakultas, rumah sakit, dan alumni. Kombinasi ini menunjukkan bahwa dukungan kesehatan mental korban tidak bisa dilepaskan dari layanan medis dan pemahaman kondisi sosial setempat. Ketika relawan diingatkan agar menyesuaikan diri dengan budaya lokal, tidak menjadi beban, dan membangun kerja sama dengan berbagai pihak, tampak bahwa kampus menyadari pentingnya konteks sosial dalam pemulihan trauma bencana alam. Inilah inti model kolaborasi: jaringan akademik, medis, dan komunitas bekerja sebagai satu ekosistem.
Kesimpulan: Saatnya Pendampingan Psikososial Menjadi Standar Respon Bencana
Pelajaran yang paling tajam dari respon dua kampus terhadap gempa di NTT adalah bahwa pendampingan psikososial bencana tidak boleh diperlakukan sebagai pelengkap, melainkan pilar utama setara logistik. UM menunjukkan bahwa mengirim mahasiswa dan dokter sebagai relawan kesehatan jiwa dengan mandat jelas pendampingan psikososial dan layanan kesehatan mampu menjawab kebutuhan jangka pendek dan panjang warga. Kampus di Surabaya menegaskan bahwa setelah ratusan paket bantuan darurat disalurkan, fase berikutnya harus menyasar pemulihan psikologis dan medis melalui tim lintas fakultas, rumah sakit kampus, dan alumni. Kelak, standar respon bencana ideal adalah paket lengkap: bantuan dasar, dukungan kesehatan mental korban, layanan kesehatan, pemetaan kerusakan, dan keterlibatan aktif lembaga pendidikan tinggi. Tanpa itu, kita hanya menambal luka fisik dan meninggalkan trauma tanpa pendampingan yang layak. Universitas telah menunjukkan jalannya; tugas pemerintah dan lembaga lain adalah mengadopsi dan memperluas model ini.






