Verifikasi harus menjadi awal pembenahan
Verifikasi dapur MBG adalah proses pemeriksaan data dan pelaksana Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk memastikan layanan makan bergizi dijalankan oleh dapur yang tercatat dan dapat diawasi. BGN menyebut 26.723 dari 27.485 dapur yang tercatat telah melalui proses verifikasi, sebuah capaian besar yang sekaligus menegaskan skala pekerjaan yang tersisa. Dalam paparan 100 hari kerja Sudaryono sebagai Kepala BGN pada 29 Oktober 2026, lembaga itu menyatakan akan memperkuat tata kelola, transparansi anggaran, dan pengawasan keamanan pangan. Langkah tersebut tepat, tetapi verifikasi tidak boleh berhenti sebagai pencocokan administrasi. Jika hasilnya tak diikuti pemeriksaan lapangan, data yang rapi belum tentu menggambarkan dapur yang aman atau layanan yang layak. Karena itu, angka verifikasi seharusnya menjadi pintu masuk untuk memastikan setiap dapur memenuhi kewajiban dan benar-benar siap melayani penerima manfaat.
Pembenahan ini muncul di tengah sorotan Sudaryono terhadap pengadaan yang ia nilai tidak masuk akal, termasuk rencana pengadaan LED senilai Rp535,3 miliar. Ia mengatakan pengadaan itu dibatalkan dan pegawai terkait diberhentikan. Kasus tersebut memperlihatkan bahwa masalah tata kelola bukan urusan administratif belaka: keputusan pengadaan dan pengelolaan dana dapat menggerus kepercayaan terhadap program. BGN menyebut pemberantasan korupsi, penguatan tata kelola dan pengawasan, serta transparansi dan kolaborasi sebagai tiga prioritas MBG 2.0. Ketiganya perlu diterjemahkan menjadi aturan yang terukur, pemeriksaan yang konsisten, dan tindak lanjut yang terbuka. Tanpa itu, verifikasi berisiko menjadi angka laporan, bukan jaminan mutu.

Transparansi anggaran mesti terhubung dengan dapur
Salah satu perubahan yang lebih konkret adalah kewajiban bagi seluruh SPPG untuk membuat laporan penggunaan dana harian sebelum menerima pengisian ulang anggaran bulan berikutnya. Sudaryono menegaskan bahwa dapur harus mempertanggungjawabkan dana yang sudah digunakan sebelum menerima dana tambahan; BGN juga menyatakan pencairan akan dihentikan bagi dapur yang tidak melaporkan penggunaan dana harian. Ini arah yang benar: transparansi tidak cukup berupa janji, melainkan harus menjadi syarat operasional yang dapat diperiksa. Laporan harian dapat membantu pengawasan dapur MBG menelusuri belanja, menemukan kejanggalan, dan menghubungkan penggunaan anggaran dengan layanan yang diberikan. Namun, laporan hanya berguna jika datanya diperiksa dan pelanggaran ditindak secara konsisten. BGN juga menyebut pengembalian insentif yayasan menjadi Rp2.000 per porsi. Kepatuhan administrasi semestinya berjalan seiring dengan pemeriksaan mutu makanan, bukan menggantikannya.
Digitalisasi dapat memperkuat keterlacakan bila sistemnya mudah diaudit dan informasinya cukup terbuka. BGN memperbarui perjanjian kerja sama SPPG, memverifikasi data penerima manfaat dan pelaksana, serta memantau alur kerja melalui sistem digital. Radar MBG dirancang agar masyarakat dapat melihat menu harian, sementara LokaMBG menjadi platform belanja bahan baku untuk mencatat transaksi dan memperjelas asal produk. Kombinasi data dapur, transaksi, dan menu berpotensi membuat pengawasan lebih tajam, termasuk membuka ruang bagi masyarakat untuk membandingkan pelaksanaan dengan layanan yang dijanjikan. Tetapi teknologi bukan pengganti pemeriksaan dan akuntabilitas. Sistem digital harus menghasilkan tindak lanjut yang jelas saat data janggal, bukan sekadar menambah lapisan pelaporan.
Standar keamanan menentukan manfaat bagi penerima
Pada akhirnya, standar dapur MBG harus dinilai dari keamanan makanan yang diterima anak dan kelompok penerima manfaat lainnya. BGN menyebut kewajiban Sertifikat Laik Higiene Sanitasi, penggunaan juru masak berpengalaman, inspeksi mendadak, dan apel harian sebagai bagian dari penguatan keamanan pangan. Pengawasan direncanakan mencakup seluruh rantai, mulai dari pengadaan bahan hingga makanan sampai kepada penerima. Kualitas bahan baku, kebersihan, proses memasak, penyimpanan, dan distribusi perlu dijaga secara konsisten agar risiko gangguan kesehatan berkurang. Di sinilah hubungan verifikasi, transparansi, dan pengawasan menjadi nyata: verifikasi memastikan siapa yang beroperasi, transparansi membantu menelusuri apa yang dibeli dan dikerjakan, sementara inspeksi menguji apakah standar benar-benar dipatuhi.
BGN juga merencanakan CCTV yang terhubung ke pusat dan pemanfaatan kecerdasan buatan untuk membantu mendeteksi potensi pelanggaran. Rencana ini dapat memperluas pemantauan, tetapi kamera tidak dapat menggantikan pemeriksaan sanitasi, penilaian bahan pangan, atau tanggung jawab pengelola. Jangkauan program yang ditujukan pula kepada masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar serta daerah dengan angka stunting tinggi membuat konsistensi mutu semakin penting. Kesimpulannya, verifikasi lebih dari 26 ribu dapur adalah fondasi yang berarti, bukan garis akhir. Tata kelola BGN akan dinilai dari kemampuannya memastikan data akurat, dana dapat dipertanggungjawabkan, dan setiap dapur memenuhi standar keamanan secara nyata.






