Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Terminal Penyangga Tayan, Jawaban Pertamina atas Tantangan Biosolar ke Hulu Kalbar

Terminal Penyangga Tayan, Jawaban Pertamina atas Tantangan Biosolar ke Hulu Kalbar
Minat|Asia Tenggara

Terminal Penyangga Tayan: Bukan Sekadar Titik Suplai Tambahan

Terminal Penyangga Tayan adalah fasilitas suplai BBM yang dirancang Pertamina untuk mendekatkan sumber Biosolar ke wilayah hulu Kalimantan Barat, mengurangi ketergantungan pada jalur sungai yang rentan terhadap perubahan musim dan memastikan distribusi BBM terpencil tetap berjalan meskipun kondisi alam tidak bersahabat.

Kunci cerita Terminal Penyangga Tayan-Sanggau adalah satu: ketahanan energi di tengah krisis iklim. Ketika Sungai Kapuas surut karena kemarau panjang yang dipengaruhi El Nino, jalur suplai utama ke hulu terganggu dan potensi kelangkaan Biosolar Kalimantan Barat mengintai. Alih-alih menunggu situasi membaik, Pertamina Patra Niaga mengoperasikan Terminal Penyangga Tayan-Sanggau sejak 8 September 2026 untuk memperkuat penyaluran Biosolar ke wilayah hulu Kalimantan Barat. Ini bukan reaksi sesaat, tetapi penataan ulang infrastruktur Pertamina agar lebih luwes menghadapi gangguan iklim yang kini nyaris menjadi pola baru, bukan pengecualian.

Terminal Penyangga Tayan, Jawaban Pertamina atas Tantangan Biosolar ke Hulu Kalbar

Dari Sungai ke Aspal: Direct Loading dan Peran Truk Tangki

Selama ini, Sungai Kapuas adalah nadi distribusi BBM ke hulu. El Nino mengubahnya menjadi titik lemah: kapal suplai sulit mencapai Fuel Terminal Sintang maupun terminal alternatif di Sanggau karena permukaan air menyusut. Jawaban Pertamina adalah memindahkan titik permainan ke darat, dengan Terminal Penyangga Tayan sebagai simpul baru. Sebelumnya, distribusi dioptimalkan melalui jalur darat dari Integrated Terminal Pontianak menggunakan mobil tangki. Kini, skemanya dibuat lebih efisien.

Di Tayan, Pertamina menerapkan sistem direct loading: Biosolar dipindahkan langsung dari kapal ke mobil tangki lalu menuju SPBU. Pola ini memangkas satu lapis proses bongkar-muat dan langsung mengubah energi sungai yang tersisa menjadi pasokan di jalan raya. Menurut Fuel Terminal Manager Sintang, Risky Firmansyah, pola distribusi baru ini mempersingkat jarak dan waktu pengiriman ke wilayah hulu secara signifikan. Inilah contoh konkret bagaimana infrastruktur Pertamina dipaksa beradaptasi dan keluar dari pola lama yang terlalu bergantung pada satu moda transportasi.

Menjaga Nadi Ekonomi Hulu: Distribusi BBM Terpencil sebagai Prioritas

Keputusan mengoptimalkan Terminal Penyangga Tayan bukan soal teknis logistik semata; ini soal keberlangsungan kehidupan ekonomi di Sanggau, Sintang, Melawi, Sekadau, dan Kapuas Hulu. Daerah-daerah ini bergantung pada Biosolar untuk menggerakkan transportasi, distribusi barang, hingga aktivitas produksi skala kecil. Dengan mendekatkan titik suplai, penyaluran ke SPBU bisa tetap berjalan, meski sungai menyusut dan jarak pandang di jalan terganggu asap karhutla.

Pertamina mengatur pengiriman berdasarkan kebutuhan tiap wilayah serta kondisi akses distribusi, sambil menyesuaikan jadwal perjalanan mobil tangki demi keselamatan di tengah asap kebakaran hutan dan lahan. Edi Mangun menegaskan bahwa pihaknya memahami betapa penting BBM bagi mobilitas dan kegiatan ekonomi masyarakat, sehingga distribusi diupayakan tetap menjangkau hingga wilayah hulu. Di sisi lain, imbauan agar masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan adalah pengingat bahwa ketahanan pasokan juga bergantung pada perilaku konsumen, bukan hanya pada infrastruktur Pertamina.

Infrastruktur Pertamina di Era Disrupsi Iklim

Terminal Penyangga Tayan-Sanggau menunjukkan bahwa infrastruktur Pertamina kini harus dirancang dengan asumsi dunia yang lebih tidak pasti: sungai bisa mengering lebih lama, karhutla bisa mengganggu jarak pandang, dan jalur distribusi bisa terputus sewaktu-waktu. Di tengah kondisi ini, terminal penyangga berfungsi sebagai bantalan logistik yang membuat sistem tidak rontok saat satu simpul terganggu. Ini adalah bentuk minimal dari ketahanan energi yang seharusnya menjadi standar, bukan pengecualian.

Ke depan, nilai strategis Terminal Penyangga Tayan akan bergantung pada konsistensi koordinasi Pertamina dengan pemerintah provinsi, kabupaten, dan pemangku kepentingan lain untuk menjaga kelancaran operasional. Saluran komunikasi seperti Pertamina Contact Center 135 juga menjadi alat kontrol sosial bagi distribusi BBM terpencil melalui laporan masyarakat. Kesimpulannya, langkah ini patut diapresiasi, tetapi juga harus dibaca sebagai peringatan: tanpa jaringan infrastruktur yang adaptif seperti ini, wilayah hulu akan selalu menjadi korban pertama setiap kali iklim berubah arah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!