Land4Lives: Lima Tahun Menjahit Ketangguhan Iklim dari Desa ke Kebijakan
Program Land4Lives adalah inisiatif ICRAF Indonesia yang selama lima tahun bekerja bersama petani, kelompok perempuan, pemerintah desa dan kabupaten di NTT untuk memperkuat ketangguhan iklim melalui rehabilitasi hutan dan lahan, praktik bertani berkelanjutan, serta integrasi pembelajaran lapangan ke dalam perencanaan pembangunan daerah, sehingga pengelolaan sumber daya alam tidak lagi terpisah dari kebutuhan nyata masyarakat di desa.
Inti dari kisah lima tahun Land4Lives adalah satu hal: ketangguhan iklim tidak lahir dari dokumen kebijakan, tetapi dari kebun, mata air, dan kelompok warga yang konsisten merawat ruang hidupnya. Pemerintah Provinsi NTT secara terbuka mengapresiasi capaian program Land4Lives sebagai buah kerja bersama yang melibatkan petani, kelompok perempuan, dan pemerintah lokal selama lima tahun ini. Pengakuan politik ini penting, karena mengirim pesan bahwa rehabilitasi hutan NTT dan penguatan mata pencaharian warga bukan sekadar proyek, melainkan arah pembangunan daerah. Ketika Sekda NTT Fransiskus Sales Sodo menutup kegiatan "Jejak Kolaborasi Land4Lives di Nusa Tenggara Timur" di Kupang pada 17 September 2026, ia sekaligus menegaskan bahwa jejak desa harus menjadi kompas kebijakan, bukan catatan pinggiran.
Rehabilitasi Hutan dan Lahan: Ketangguhan Iklim Dimulai dari Petani dan Kelompok Perempuan
Selama lima tahun, program Land4Lives bertumpu pada pemberdayaan petani lokal dan kelompok perempuan sebagai motor perubahan di tingkat tapak. Pendekatan ini menantang paradigma lama yang menempatkan rehabilitasi hutan NTT sebagai urusan teknokrat dan proyek jangka pendek. Di kebun dan desa, praktik bertani berkelanjutan dipadukan dengan penguatan peran perempuan, sehingga keputusan tentang pohon apa yang ditanam, bagaimana air dikelola, dan ke mana hasil panen diolah menjadi proses kolektif, bukan keputusan elit. Sekda NTT Fransiskus Sales Sodo secara khusus memuji hasil kerja sama ICRAF Indonesia dan pemerintah daerah melalui Land4Lives, termasuk dalam pemberdayaan masyarakat, praktik bertani berkelanjutan, dan kesetaraan gender.
Di sisi lain, pengakuan dan penghargaan bagi petani pelopor menunjukkan bahwa ketangguhan iklim lahir dari figur-figur lokal yang berani mencoba cara baru dan menginspirasi tetangganya. Petani dan kelompok perempuan yang terlibat bukan sekadar penerima bantuan; mereka adalah perancang sistem produksi yang lebih tahan terhadap kekeringan, erosi, dan fluktuasi musim. Di wilayah yang sering dipersepsikan sebagai "ringkih" terhadap perubahan iklim, pendekatan berbasis komunitas ini menggeser narasi: warga NTT bukan korban, melainkan aktor utama dalam membangun ketangguhan iklim. Program Land4Lives dengan demikian memperlihatkan bahwa pemberdayaan petani lokal adalah strategi iklim yang politis, karena mengubah struktur kuasa dalam pengelolaan lahan dan hutan.
Dari Kebun ke RPJMD: Ketangguhan Iklim Harus Masuk ke Jantung Perencanaan
Land4Lives menjadi menarik bukan hanya karena kuat di lapangan, tetapi karena berani menyeberangkan praktik desa ke meja perencanaan daerah. Sekda NTT menegaskan bahwa Land4Lives tidak berhenti pada pendampingan, tetapi mengintegrasikan hasilnya ke dokumen perencanaan resmi seperti Masterplan Ekonomi Hijau atau Green Growth Plan (GGP) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Ini langkah politis yang penting: tanpa integrasi, keberhasilan di beberapa desa akan mudah hilang ketika siklus proyek berakhir. Dengan masuk ke RPJMD, praktik rehabilitasi hutan NTT dan pertanian cerdas iklim menjadi kewajiban anggaran dan mandat birokrasi, bukan lagi inisiatif sukarela.
Direktur ICRAF Indonesia sekaligus Project Coordinator Land4Lives, Andree Ekadinata, menyebut bahwa sejak awal tahun telah disusun strategi keberlanjutan yang terstruktur dengan integrasi ke perencanaan daerah sebagai bagian utama. Pembelajaran proyek didokumentasikan dalam berbagai publikasi seperti buku, flyer, taklimat, dan sistem informasi yang diserahkan resmi kepada pemerintah daerah dan dapat diakses publik. Langkah dokumentasi ini bukan sekadar formalitas; ia adalah cara memastikan bahwa pengetahuan tidak tertinggal di komputer konsultan, melainkan menjadi referensi nyata bagi perencana daerah, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil. Ketika dialog di Kupang mempertemukan perencana daerah, akademisi, petani, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta, pertanyaan yang diangkat sangat tepat: bagaimana capaian bersama ini dilanjutkan untuk menjaga ketangguhan iklim NTT.
Kemitraan dan Penutupan Program: Akhir Proyek Bukan Akhir Gerakan
Land4Lives juga menunjukkan bahwa kerja iklim di NTT adalah bagian dari kemitraan lebih luas. Kepala Kerja Sama Pembangunan dari Kedutaan Besar Kanada, Alice Birnbaum, menyebut Land4Lives sebagai contoh kemitraan erat antara Kanada dan Indonesia yang berfokus pada tujuan bersama: ketahanan pangan, ketangguhan iklim, dan kesetaraan gender. Kehadiran donor di desa-desa pilot di Kabupaten Timor Tengah Selatan bukan hanya seremoni; ia membawa konsekuensi politik, karena menempatkan praktik lokal sebagai referensi global tentang bagaimana ketangguhan iklim dibangun secara inklusif. Delapan stan pameran yang menampilkan dokumen perencanaan, perangkat analisis, produk kelompok usaha, dan kisah Sekolah Perempuan memperlihatkan bahwa hasil program menyentuh banyak sisi kehidupan: dari dapur hingga dokumen resmi.
Namun, momen penutupan juga memunculkan kegelisahan wajar: apa yang terjadi setelah proyek selesai? Rangkaian penutupan Land4Lives akan berlanjut ke Sulawesi Selatan dan Sumatera Selatan pada Oktober 2026, lalu ditutup di tingkat nasional. Di NTT, Sekda berharap program tidak berakhir, dan meminta pemerintah desa, kabupaten, dan provinsi untuk melanjutkan praktik baik yang sudah ada. Di sinilah ukuran keberhasilan nyata: jika rehabilitasi hutan NTT dan pemberdayaan petani lokal tetap berjalan tanpa kehadiran proyek, berarti Land4Lives telah berubah dari program menjadi gerakan. Penutupan administrasi tidak boleh dimaknai sebagai penutupan komitmen; justru ini ujian apakah integrasi ke kebijakan benar-benar terjadi.
Pelajaran Lima Tahun: Ketangguhan Iklim Butuh Politik Komunitas, Bukan Sekadar Proyek
Pelajaran utama dari lima tahun Land4Lives di NTT adalah bahwa ketangguhan iklim lahir dari kombinasi tiga hal: komunitas yang berdaya, kebijakan yang terbuka terhadap bukti lapangan, dan kemitraan yang melihat warga sebagai subjek, bukan objek. Pendekatan berbasis komunitas terbukti menjadi kunci kesuksesan dalam mengintegrasikan kebijakan dengan praktik lapangan, karena sejak awal program bekerja bersama petani, kelompok perempuan, pemerintah desa, dan kabupaten, bukan berjalan paralel di luar struktur lokal. Ketika rehabilitasi hutan NTT dipahami sebagai bagian dari ketahanan pangan dan kesetaraan gender, bukan hanya teknis penghijauan, ketangguhan iklim menjadi agenda yang relevan bagi rumah tangga, bukan hanya bagi ruang konferensi.
Ke depan, pertanyaan penting bagi NTT adalah apakah pola yang dibangun Land4Lives akan menginspirasi program lain untuk menempatkan komunitas di pusat pengambilan keputusan. Dialog di Kupang yang mempertemukan perencana daerah, akademisi, petani, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta adalah awal dari percakapan lebih panjang tentang bagaimana menjaga ketangguhan iklim setelah donor pergi. Jawabannya kemungkinan besar tidak ada di dokumen baru, tetapi pada konsistensi merawat kebun, memperkuat sekolah perempuan, dan mempertahankan posisi petani pelopor dalam forum perencanaan desa. Jika itu terjadi, maka lima tahun Land4Lives bukan hanya catatan capaian, melainkan tonggak perubahan cara kita memaknai pembangunan di wilayah yang rentan iklim.






