Banjir meluas, dampaknya langsung terasa
Banjir Jakarta adalah genangan yang terjadi ketika hujan deras dan luapan sungai melampaui kemampuan lingkungan serta saluran kota untuk mengalirkan air. Pada 20 Februari 2026, BPBD DKI melaporkan 123 RT dan sembilan ruas jalan tergenang hingga pukul 12.00 WIB.
Jakarta Selatan menjadi wilayah terdampak terbesar, dengan 90 RT tergenang. Di Petukangan Utara, ketinggian air mencapai 100 sentimeter, sementara Pejaten Timur mencatat 95 sentimeter. Angka tersebut bukan sekadar catatan cuaca: air di jalan menghambat perjalanan, sedangkan genangan di permukiman mengganggu aktivitas harian dan menambah beban warga.
Hujan berintensitas tinggi dan luapan beberapa sungai menjadi pemicu utama. BPBD mengerahkan tim gabungan untuk menyedot air dan memastikan saluran berfungsi, dengan sasaran genangan surut secepatnya. Namun, selama hujan susulan masih mungkin terjadi hingga sore, penanganan darurat tetap penting—dan genangan Jakarta tak bisa dinilai hanya dari seberapa cepat air disedot.
Normalisasi Kali Mampang bagian dari mitigasi, bukan jalan pintas
Di tengah ancaman banjir, Pemprov DKI mempercepat normalisasi dan pengerukan sejumlah aliran sungai menjelang puncak musim penghujan. Gubernur Pramono Anung meninjau pekerjaan normalisasi di Kali Mampang, Jakarta Selatan, sebagai gambaran langkah mitigasi banjir yang sedang dijalankan.
Kali Mampang menjadi perhatian karena wilayah sekitarnya berbentuk cekungan dan kerap tergenang saat hujan deras. Pekerjaan mencakup pengerukan lumpur, pelebaran aliran, serta pembenahan infrastruktur pendukung, termasuk jalan dan saluran di kawasan permukiman. Pemerintah juga menyebut pengerukan endapan dan perbaikan dinding tanggul sebagai upaya meningkatkan daya tampung sungai.
Langkah ini masuk akal, tetapi tidak patut dipasarkan sebagai solusi instan. Normalisasi Kali Mampang dapat membantu mengurangi risiko luapan, namun banjir yang dipicu hujan deras juga bergantung pada saluran lingkungan, kondisi sungai lain, dan kesiapan respons saat air naik. Tinjauan gubernur penting sebagai tanda perhatian; ukuran keberhasilannya tetap dampak yang dirasakan warga.
Keberhasilan perlu diukur dari risiko yang benar-benar turun
Pemprov menyatakan percepatan pekerjaan dilakukan menjelang puncak musim penghujan, yang menurut keterangan gubernur diperkirakan mulai akhir November dan berlanjut setelahnya. Karena ancaman dapat datang berulang, pengerukan dan pembenahan sungai perlu berjalan bersama pemantauan, penyedotan genangan, dan pemeliharaan saluran.
Banjir 20 Februari memperlihatkan bahwa dampak tidak berhenti pada rumah warga: sembilan ruas jalan ikut tergenang dan akses transportasi terganggu. Pemerintah menargetkan air surut dalam waktu cepat, tetapi respons darurat hanya meredakan keadaan saat itu. Untuk menilai hasil normalisasi, publik perlu melihat apakah frekuensi, tinggi, dan lama genangan berkurang, bukan hanya panjang pekerjaan yang dilaporkan.
Kesimpulannya, normalisasi Kali Mampang merupakan bagian penting dari mitigasi banjir, tetapi bukan jaminan bahwa semua genangan akan segera hilang. Percepatan pengerukan patut didukung sambil menuntut pemeliharaan berkelanjutan dan penanganan saluran yang menyeluruh. Bagi warga, ukuran paling berarti sederhana: risiko banjir menurun dan aktivitas dapat berlangsung lebih aman.






