Pengerukan menjadi langkah mendesak sebelum hujan
Normalisasi Kali Mampang adalah upaya memperbaiki kapasitas aliran sungai melalui pengerukan lumpur, pelebaran alur, dan pembenahan infrastruktur pendukung agar risiko genangan dan banjir berkurang. Menjelang puncak musim penghujan, Pemprov DKI mempercepat pekerjaan tersebut dan Gubernur Pramono Anung meninjau langsung lokasi di Jakarta Selatan. Percepatan ini masuk akal: kawasan Mampang berkontur cekung dan kerap tergenang ketika hujan deras, sehingga kapasitas sungai yang menyusut oleh endapan dapat memperburuk keadaan. Namun, pengerukan bukan solusi tunggal. Perbaikan dinding tanggul, jalan, dan saluran perumahan juga menentukan apakah air dapat mengalir tanpa meluap ke lingkungan warga. Pekerjaan serupa berlangsung di Ciliwung, Krukut, Cakung Lama, dan Angke. Musim hujan diperkirakan mulai pada akhir November, jadi ukuran keberhasilan bukan sekadar alat berat bekerja, melainkan seberapa siap kawasan menghadapi hujan.
Anggaran yang aman harus terlihat dalam pekerjaan
Di tengah penyesuaian APBD, Pramono memastikan anggaran penanganan banjir yang dikelola Dinas SDA DKI tidak dipangkas. Ia menegaskan, “Pokoknya anggaran untuk SDA ngga dipotong,” pada Kamis, 29 Oktober. Kepastian ini penting karena normalisasi memerlukan dukungan teknis dan pendanaan yang berkesinambungan, bukan hanya pengerukan sesaat. Pemprov DKI dan DPRD telah memastikan dukungan anggaran serta kesiapan teknis untuk mengurangi risiko luapan. Meski demikian, pernyataan bahwa anggaran aman seharusnya menjadi dasar untuk menuntut hasil yang dapat dilihat warga: aliran lebih lancar, tanggul terawat, dan saluran lingkungan berfungsi. Dengan kata lain, anggaran banjir Jakarta baru bermakna ketika diterjemahkan menjadi pekerjaan tepat waktu dan pemeliharaan yang konsisten. Kepastian dana mengurangi risiko pekerjaan terhenti, tetapi tidak otomatis menjamin banjir tertangani.
Sungai, saluran, dan embung mesti ditangani sebagai satu sistem
Pengerukan Kali Mampang dapat menambah ruang tampung air, tetapi manfaatnya terbatas bila saluran yang mengalirkannya tersumbat atau infrastruktur di sekitarnya tak dibenahi. Karena itu, Pemprov DKI juga mengeruk saluran air dan membenahi embung, selain menormalisasi sungai. Di Mampang, pelebaran alur dan perbaikan tanggul dilengkapi pembenahan jalan serta saluran perumahan. Rangkaian ini menunjukkan hubungan langsung antara pekerjaan lapangan dan dukungan Dinas SDA DKI: anggaran memungkinkan beragam titik aliran ditangani, sementara pelaksanaan yang terkoordinasi membantu mengurangi dampak banjir di permukiman. Bagi warga, hasilnya bukan sekadar sungai yang tampak lebih bersih, melainkan peluang lebih kecil untuk menghadapi genangan yang mengganggu perjalanan, rumah, dan kegiatan sehari-hari. Tantangannya adalah memastikan seluruh komponen selesai dan berfungsi sebelum hujan lebat datang.
Keberhasilan ditentukan oleh kesiapan sebelum hujan
Percepatan normalisasi dan kepastian anggaran memberi Jakarta peluang lebih baik untuk mengurangi risiko banjir, tetapi keduanya bukan jaminan bahwa genangan akan hilang. Kali Mampang berada di kawasan cekung, dan hujan deras tetap dapat membebani sungai serta saluran. Karena itu, pemerintah perlu menjaga kesinambungan pengerukan, memeriksa tanggul, dan memastikan saluran lingkungan maupun embung berfungsi. Pekerjaan di sejumlah sungai utama juga perlu dipandang sebagai bagian dari sistem pengendalian, bukan proyek yang berdiri sendiri. Dengan musim hujan diperkirakan mulai akhir November, waktu untuk menuntaskan pekerjaan dan menguji kesiapan semakin terbatas. Kesimpulannya, anggaran banjir Jakarta yang tidak dipangkas adalah modal penting; nilainya baru terbukti ketika pengerjaan sungai dan saluran benar-benar mengurangi risiko yang dirasakan warga.






