Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pengangguran Turun, tetapi Gelombang PHK Tetap Membebani Pekerja

Pengangguran Turun, tetapi Gelombang PHK Tetap Membebani Pekerja
Minat|Industri Fashion

Angka pengangguran turun, persoalan belum selesai

Pengangguran adalah keadaan ketika penduduk yang termasuk angkatan kerja belum memperoleh pekerjaan, sedangkan tingkat pengangguran terbuka mengukur bagian angkatan kerja yang menganggur. Di Jawa Barat, indikator ini membaik pada Agustus 2026, tetapi perbaikannya belum cukup untuk menghapus kecemasan pekerja.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 6,67 persen, berkurang 0,10 poin persentase dibandingkan Agustus 2025. Meski begitu, masih ada 1,77 juta orang menganggur. Jumlah penganggur menyusut sekitar 10.000 orang dalam setahun, sementara penduduk yang bekerja mencapai 24,77 juta orang. Jadi, kabar penurunan pengangguran Jawa Barat patut dicatat, tetapi tidak layak dibaca sebagai tanda bahwa pasar kerja sudah aman.

Di sinilah kontrasnya: angka agregat bisa membaik pada saat pekerja tertentu kehilangan mata pencaharian. Statistik yang lebih baik adalah kemajuan, bukan bukti bahwa risiko kehilangan pekerjaan sudah mereda.

Serapan kerja menutup sebagian dampak PHK

BPS mencatat jumlah penduduk bekerja bertambah sekitar 256.000 orang dibandingkan Agustus 2025. Tambahan ini jauh melampaui penurunan jumlah penganggur sekitar 10.000 orang, tetapi kedua angka tersebut mengukur hal berbeda: satu menghitung pertambahan orang bekerja, sementara yang lain menunjukkan perubahan jumlah orang yang menganggur. Keduanya tidak membuktikan bahwa pekerja yang terkena PHK langsung mendapatkan pekerjaan baru.

Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menyebut bertambahnya penduduk yang terserap ke lapangan kerja sebagai salah satu faktor penurunan pengangguran. Angka serapan tenaga kerja yang besar memang membantu menjelaskan perbaikan statistik, tetapi tidak menghapus kebutuhan untuk melihat mutu, kestabilan, dan kecocokan pekerjaan yang tersedia.

Karena itu, membandingkan 256.000 tambahan pekerja dengan 13.000 korban PHK hanya memberi gambaran skala, bukan jawaban tentang nasib setiap orang yang kehilangan pekerjaan.

Perdagangan menyerap pekerja, industri menanggung PHK

Laporan Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sekitar 13.000 pekerja mengalami PHK di Jawa Barat selama Januari hingga Agustus 2026, mayoritas di sektor industri. Sementara itu, perdagangan besar dan eceran menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, dengan porsi 23,04 persen dari total penduduk bekerja. Perbedaan arah ini menjelaskan bagaimana pengangguran dapat turun ketika PHK tetap berlangsung: peluang kerja bertambah di satu bagian ekonomi, sedangkan pekerjaan hilang di bagian lain.

Sektor industri pengolahan tetap penting bagi struktur pekerjaan daerah, tetapi dominannya PHK di sektor tersebut menjadi peringatan bahwa pertumbuhan lapangan kerja tidak tersebar merata. Perdagangan menyerap banyak pekerja, namun data yang tersedia tidak menunjukkan apakah pekerjaan baru itu menggantikan pekerjaan industri dari segi kestabilan atau kecocokan keterampilan.

Bagi pekerja, perpindahan kesempatan antarsektor bukan sekadar perubahan statistik. Kehilangan pekerjaan di industri dan memperoleh pekerjaan di sektor lain adalah pengalaman yang berbeda, dan angka agregat tidak menangkap seluruh dampaknya.

Perbaikan statistik harus dibaca dengan hati-hati

Penataan kawasan dan perubahan kebijakan juga dapat menggeser aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk mata pencaharian warga yang bergantung pada ruang publik. BPS menilai perubahan kebijakan dan penataan ruang dapat memindahkan kegiatan ekonomi; dampaknya bagi pekerja kecil tidak tercermin sepenuhnya dalam angka tingkat pengangguran terbuka.

BPS menyampaikan bahwa serapan tenaga kerja selama setahun lebih besar daripada penurunan jumlah penganggur, sementara laporan PHK mencatat sekitar 13.000 pekerja terdampak hingga Agustus. Pernyataan itu membantu menjelaskan mengapa dua tren yang tampak bertentangan bisa terjadi bersamaan. Namun, ukuran keberhasilan pasar kerja semestinya tidak berhenti pada jumlah orang yang bekerja: kestabilan kerja dan dampak kehilangan pekerjaan juga penting.

Kesimpulannya, pengangguran Jawa Barat memang menurun, tetapi 1,77 juta orang masih menganggur dan 13.000 pekerja tercatat terkena PHK. Serapan kerja memberi alasan untuk optimistis, bukan untuk mengabaikan rapuhnya sebagian pekerjaan. Penurunan angka baru berarti kemajuan yang meyakinkan bila peluang kerja mampu menjangkau mereka yang kehilangan mata pencaharian.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!