Pemulihan berarti membangun kembali rasa aman dan kebersamaan
Pemulihan pascabencana adalah proses mengembalikan rasa aman, hubungan sosial, dan kemampuan warga menjalani kehidupan sehari-hari, bukan sekadar membangun kembali rumah dan infrastruktur. Karena itu, dukungan psikososial dan pendampingan penyintas semestinya menjadi bagian inti dari respons bencana, bukan pelengkap setelah bantuan fisik disalurkan. Rumah baru penting, tetapi tidak otomatis menghidupkan kembali jaringan pertemanan, kegiatan bersama, dan rutinitas yang terputus.
Pengalaman warga Kampung Haji di Desa Kertaangsana, Sukabumi, memperjelas persoalan tersebut. Pergerakan tanah pada 2019 merusak 129 rumah dan memaksa ratusan warga mengungsi. Setelah menunggu sekitar lima tahun, para penyintas menempati hunian tetap pada 2024, tetapi kehidupan sosial mereka tetap memerlukan perhatian. UI melalui Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial menggandeng BNPB untuk mendampingi warga dan memperkuat pemulihan sosial serta ketangguhan komunitas.
Di Sukabumi, warga ditempatkan sebagai pelaku pemulihan
Program UI dan BNPB mengarahkan pendampingan pada tiga kebutuhan yang saling terkait: memulihkan rasa memiliki terhadap lingkungan baru, menghidupkan kegiatan masyarakat, dan memperkuat solidaritas antarwarga. Pendekatan partisipatifnya patut dicatat: kebutuhan dihimpun lewat konsultasi dan musyawarah, sementara warga sendiri dipercaya mengelola aset bersama. Ini lebih menjanjikan daripada bantuan yang ditentukan sepihak, sebab keberlanjutan bergantung pada apakah sarana sesuai kebutuhan dan dirawat oleh komunitas.
Melalui kelompok masyarakat bidang kesehatan, keagamaan, serta pendidikan dan kepemudaan, warga menerima perlengkapan Posyandu, sarana masjid dan TPA, pojok baca, permainan edukatif, perlengkapan sekolah kebun, serta sarana olahraga. Tiap kelompok juga memperoleh perlengkapan kesiapsiagaan seperti APAR, tas siaga keluarga, P3K, tandu, dan lampu darurat. Bagi anak, ruang bermain dan belajar membantu membangun rutinitas; bagi keluarga, dukungan Posyandu menopang layanan ibu dan anak. Program yang dimulai pada Juli 2026 dijadwalkan berlanjut dengan bimbingan teknis hingga Desember, lalu membantu warga menyusun komitmen keberlanjutan tiga tahun.
Mahasiswa ITS membawa pendampingan ke Manggarai
Di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pendekatannya melibatkan mahasiswa secara langsung. Sebanyak 23 mahasiswa ITS, didampingi empat dosen, diberangkatkan pada 6 November 2026 melalui program AKSARA untuk mendukung pemulihan psikososial dan kemandirian ekonomi masyarakat pascabencana. ITS mengalokasikan Rp117,6 juta untuk program tersebut, sementara Yayasan Manarul Ilmi ITS menargetkan pembangunan lima sumur wakaf guna membantu memenuhi kebutuhan air bersih warga.
Keterlibatan mahasiswa memberi nilai yang berbeda dari kemitraan antarlembaga: pembelajaran berlangsung di tengah masyarakat, dan pengabdian menjadi pengalaman sosial yang konkret. Namun, semangat dan tenaga mahasiswa saja tidak cukup untuk memastikan dampak bertahan setelah masa penugasan berakhir. Karena itu, penekanan pada penguatan kemandirian ekonomi dan transfer pengetahuan kepada masyarakat penting; teknologi serta keterampilan yang diperkenalkan perlu dapat dikelola warga setelah tim pulang. Kesehatan mental bencana juga tidak boleh dianggap tertangani hanya karena sebuah program disebut psikososial—pendampingan harus berangkat dari kebutuhan warga dan memiliki tindak lanjut yang jelas.
Perbedaan peran, satu ukuran keberhasilan
Kolaborasi UI dan BNPB di Sukabumi menonjolkan kerja kelembagaan, pengorganisasian kelompok warga, serta rencana pembinaan yang berkelanjutan. Program ITS di Manggarai menonjolkan keterlibatan mahasiswa, pendampingan lapangan, dan hubungan antara pemulihan psikososial dengan kemandirian ekonomi. Keduanya tidak perlu dipertentangkan: lembaga dapat menyediakan koordinasi dan kesinambungan, sementara mahasiswa menambah tenaga, gagasan, dan jembatan pembelajaran. Tantangannya adalah memastikan warga tidak menjadi penerima pasif, melainkan pengambil keputusan dan pengelola proses.
Ukuran keberhasilan seharusnya bukan banyaknya bantuan yang dibagikan atau singkatnya kunjungan, melainkan apakah warga kembali memiliki ruang berkumpul, akses dukungan, kesiapan menghadapi risiko, dan kemampuan meneruskan program. Pendampingan juga perlu memberi perhatian pada kelompok rentan serta membuka ruang bagi warga untuk menyampaikan kebutuhan dan pengalaman mereka. Dengan ukuran itu, pemulihan pascabencana tidak berhenti saat rumah selesai atau tim mahasiswa kembali ke kampus; ia berlanjut ketika komunitas dapat membangun rasa aman, solidaritas, dan daya lentingnya sendiri.






