Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Lumpur ke Kelas Layak: Memulihkan Sekolah Pascabencana

Dari Lumpur ke Kelas Layak: Memulihkan Sekolah Pascabencana
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Bangunan baru, awal pemulihan

Pemulihan sekolah pascabencana adalah upaya mengembalikan akses siswa ke ruang belajar yang aman, layak, dan didukung fasilitas memadai—bukan sekadar memperbaiki bangunan yang rusak. Di SMAN 2 Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, banjir meninggalkan lumpur yang menutupi bangunan dan halaman sekolah, sehingga siswa harus belajar dalam keadaan darurat, termasuk di atas terpal. Revitalisasi pada 2026 oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dengan pengerjaan dibantu TNI AD, membangun kembali sekolah tersebut dengan anggaran Rp7,9 miliar. Ruang kelas, kantor, laboratorium, dan perpustakaan kini mulai terbentuk; pekerjaan akhir seperti pengecatan dan perapian masih berlangsung. Gedung baru yang hampir rampung menjanjikan kenyamanan lebih besar, tetapi keberhasilan rekonstruksi sekolah tidak patut diukur dari tembok yang berdiri saja. Yang menentukan ialah apakah siswa dapat kembali belajar dengan aman dan tanpa kondisi darurat yang mengganggu.

Bagi siswa kelas XI Muhammad Putra Ananda, kelas baru berarti kesempatan untuk belajar tanpa kepanasan dan kembali merasakan suasana sekolah yang nyaman. Harapan itu penting, tetapi pengalaman banjir juga menyisakan kecemasan ketika hujan turun. Karena itu, bangunan yang pulih harus disertai lingkungan yang lebih siap menghadapi risiko, serta perhatian pada kondisi psikologis siswa dan guru. Tanpa langkah tersebut, pembangunan fisik berisiko memberi rasa pulih yang belum sepenuhnya nyata.

Dari Lumpur ke Kelas Layak: Memulihkan Sekolah Pascabencana

Dari pohon kelapa ke delapan kelas

Di SMAN 2 Kesuma Bangsa, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, banjir pada akhir 2025 membuat kegiatan sekolah terhenti hampir satu bulan. Setelah siswa kembali, keterbatasan ruang dan fasilitas memaksa sebagian dari mereka mengikuti pelajaran di ruang terbuka, termasuk di bawah pohon kelapa. Kini delapan ruang kelas telah direvitalisasi melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan 2026. Pekerjaan itu juga mencakup satu perpustakaan, satu laboratorium komputer, dan satu laboratorium IPA, dengan dukungan anggaran APBN yang dikelola kementerian terkait. Perubahan ini lebih berarti daripada sekadar menambah ruang: sekolah memperoleh kembali tempat belajar yang dapat mendukung kegiatan harian. Namun fasilitas baru perlu dirawat dan dilengkapi agar pembelajaran tidak berhenti pada tersedianya bangunan.

Dua sekolah ini menunjukkan mengapa revitalisasi sekolah harus menjawab pengalaman nyata siswa. Di Meureudu, mereka sempat belajar di atas terpal; di Kesuma Bangsa, sebagian kelas berpindah ke bawah pohon. Mengembalikan mereka ke kelas layak adalah syarat dasar bagi pemulihan, bukan bonus setelah bencana. Mutu ruang belajar siswa ikut menentukan apakah mereka dapat berkonsentrasi, merasa aman, dan kembali menjalani rutinitas sekolah. Maka, evaluasi pemulihan sebaiknya menilai fungsi ruang dan kesiapan fasilitas, bukan hanya kemajuan konstruksi.

Angka pemulihan dan pekerjaan yang tersisa

Skala kebutuhan masih besar. Data hingga September 2026 mencatat 4.922 sekolah terdampak di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat; 4.821 telah kembali menyelenggarakan pembelajaran di sekolah asal. Sebanyak 99 masih menggunakan kelas darurat dan dua lainnya menumpang di sekolah lain. Artinya, berlangsungnya kegiatan belajar tidak otomatis berarti seluruh sekolah telah pulih. Di antara pekerjaan rekonstruksi yang berjalan, 3.132 sekolah telah menandatangani perjanjian revitalisasi senilai total Rp3,03 triliun. Sebanyak 1.954 sekolah mencatat progres di atas 50 persen, sementara 616 masih dalam pengerjaan dengan progres menuju atau di bawah 50 persen. Angka-angka ini memperlihatkan bahwa pemerintah telah bergerak, tetapi sejumlah siswa masih menunggu ruang belajar permanen.

Prioritas berikutnya harus mencakup sarana pembelajaran, keamanan lokasi, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana berikutnya. Untuk sekolah yang rusak berat atau berdiri di kawasan berbahaya, penanganan dapat berupa pembangunan unit baru, penguatan struktur, atau relokasi bila lokasi tidak lagi aman. Pilihan itu menuntut tindak lanjut yang tidak berhenti saat proyek selesai: sekolah perlu diperiksa, fasilitas dipastikan berfungsi, dan guru serta siswa mendapat dukungan untuk kembali belajar dengan tenang. Gedung baru adalah awal pemulihan, bukan tanda bahwa semua dampak telah berakhir.

Dari Lumpur ke Kelas Layak: Memulihkan Sekolah Pascabencana

Ukuran keberhasilan: akses yang layak

Bencana merusak lebih dari dinding dan perabot. Ia dapat memutus rutinitas belajar, mengganggu rasa aman, dan memaksa siswa menerima kondisi yang semestinya hanya sementara. Karena itu, sekolah terdampak bencana harus dinilai dari akses anak terhadap ruang yang aman dan layak, ketersediaan fasilitas pembelajaran, serta kemampuan sekolah bertahan ketika bencana kembali terjadi. Kembalinya kegiatan belajar merupakan capaian penting, tetapi bukan alasan untuk menurunkan standar pemulihan.

Meureudu dan Kesuma Bangsa memperlihatkan arti konkret dari pemulihan: siswa berpindah dari terpal dan ruang terbuka menuju kelas, perpustakaan, serta laboratorium yang dapat digunakan. Namun pembangunan hanya memenuhi janjinya bila ruang-ruang tersebut aman, terawat, dan mendukung kebutuhan belajar. Kesimpulannya jelas: rekonstruksi sekolah harus mengembalikan pendidikan yang layak, bukan sekadar bangunan yang tampak selesai. Keberhasilan akhir ialah ketika setiap siswa dapat belajar dengan nyaman, aman, dan tanpa harus menunggu pemulihan berikutnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!