Petualangan Keliling Dunia sebagai Warisan Emosional
Liburan keluarga internasional adalah keputusan sadar orangtua untuk menjadikan dunia sebagai ruang belajar, ruang dekat, dan ruang penyembuhan bagi seluruh anggota keluarga, melalui pengalaman lintas budaya, perjalanan panjang, serta momen kebersamaan yang diprioritaskan di atas rasa takut, rasa lelah, dan berbagai keterbatasan yang mereka hadapi sehari-hari. Dalam konteks ini, kisah keluarga Edith dan Sébastien menonjol karena menjadikan petualangan keliling dunia bukan sekadar hobi, melainkan misi untuk menciptakan sebanyak mungkin kenangan indah dengan keempat anak mereka. Mereka memulai perjalanan dari Kanada pada Juli 2021 dan melanjutkan liburan keluarga internasional ke Namibia pada Maret 2022, sebelum berlanjut ke Mongolia, Mesir, Nepal hingga Korea Selatan. Setiap negara bukan hanya destinasi, tapi potongan cerita yang kelak membentuk identitas anak-anak mereka.

Kenangan Sebagai Bentuk Pendidikan Global untuk Anak
Keputusan Edith dan Sébastien untuk traveling dengan anak ke berbagai benua adalah bentuk pendidikan alternatif yang sering diremehkan. Di banyak keluarga, pendidikan dipahami sebagai ruang kelas; pada keluarga ini, peta dunia adalah buku pelajaran. Berbagai tempat yang dikunjungi memberi kesempatan bagi keempat anak mereka untuk melihat langsung lingkungan, budaya, dan pemandangan yang berbeda dari keseharian di Kanada. Itu artinya, inspirasi keluarga global ini mengajarkan empati, ketahanan, dan rasa ingin tahu yang tidak bisa didapat dari lembar kerja di rumah. Perjalanan panjang tersebut menjadi bagian penting dari kisah keluarga mereka, karena setiap kenangan adalah pelajaran tentang cara mereka saling menjaga. Dalam era di mana orangtua sering cemas pada risiko, Edith dan Sébastien mengingatkan bahwa risiko terbesar mungkin justru adalah tidak punya kenangan mendalam bersama anak sebelum waktu berjalan terlalu jauh.
Ketika Orangtua Butuh Waktu, Anak Tetap Jadi Pusat
Di sisi lain spektrum, pengalaman Kesha Ratuliu menunjukkan sudut pandang berbeda namun tetap berpusat pada cinta keluarga. Ia memilih pergi liburan ke Eropa bersama sahabat, diam-diam mendapat hadiah ulang tahun istimewa dari Adhi Permana, sang suami. Kesha mengungkapkan cerita ini saat tampil di acara Pagi-pagi Ambyar Trans TV pada Selasa, 1 September 2026. Meski bukan liburan keluarga internasional, konflik emosinya sangat relevan: ia akui berat meninggalkan tiga anak yang masih kecil dan belum pernah berpisah lama sebelumnya. Adhi mengambil peran utama mengurus anak di rumah, dibantu keluarga besar yang mengatur pengasuhan secara bergantian. Bahkan ibu mertuanya sempat kewalahan hingga mengalami penurunan kondisi tubuh, sebelum keluarga mencari pola dukungan yang lebih sehat. Dari sini tampak bahwa petualangan, baik bersama anak maupun tanpa mereka, tetap menuntut solidaritas keluarga agar semua pihak aman dan dipertimbangkan.

Cinta Orangtua: Hadir dalam Berbagai Bentuk Perjalanan
Jika keluarga Edith dan Sébastien menjadikan petualangan keliling dunia sebagai cara paling intens merayakan waktu bersama, Kesha dan Adhi mengingatkan bahwa orangtua juga butuh ruang untuk mereset diri agar bisa kembali pulang dengan energi yang lebih sehat. Perjalanan global keluarga Edith dan Sébastien adalah cara mereka menciptakan sebanyak mungkin kenangan indah bersama anak-anak, sekaligus menunjukkan bahwa cinta orangtua dapat hadir dalam berbagai bentuk yang berarti. Sementara Kesha menyebut perjalanannya ke Eropa sebagai kesempatan untuk mengisi kembali energi setelah rutinitas mengurus tiga anak, didukung suami yang rela mengambil tanggung jawab besar di rumah. Dua kisah ini berbeda format, tetapi pesannya sama: traveling dengan anak atau tanpa anak seharusnya tidak dinilai dari seberapa "sempurna" foto liburan, melainkan dari seberapa serius keluarga merawat hubungan sebelum dan setelah perjalanan.
Mengganti Rasa Takut dengan Keberanian Merancang Kenangan
Pada akhirnya, inspirasi keluarga global seperti Edith dan Sébastien menantang kita untuk menilai ulang prioritas: apakah kita menunda petualangan karena takut, atau menyesal karena tidak berani mencobanya? Liburan keluarga internasional tidak wajib untuk semua orang, tetapi mengingatkan bahwa dunia adalah ruang luas untuk membangun kedekatan. Di sisi lain, keputusan Kesha untuk menerima hadiah perjalanan ke Eropa dari suaminya menunjukkan bahwa orangtua yang merawat diri sendiri sedang merawat keluarga dari balik layar. Keduanya mengajarkan hal yang sama: cinta orangtua bukan soal selalu hadir secara fisik, melainkan konsisten memikirkan kesejahteraan anak dalam setiap keputusan. Kesimpulannya, keterbatasan waktu, kesehatan, atau peran domestik tidak harus menghapus mimpi menjelajahi dunia bersama atau demi anak. Yang terpenting adalah keberanian duduk bersama, menyusun rencana, dan memastikan setiap perjalanan—dekat maupun jauh—menghasilkan kenangan yang layak dikenang seumur hidup.






