Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Koordinasi Lintas Sektor Mempercepat Penurunan Stunting di Daerah

Koordinasi Lintas Sektor Mempercepat Penurunan Stunting di Daerah
Minat|Asia Tenggara

Mengapa Koordinasi Lintas Sektor Menjadi Kunci Pencegahan Stunting Daerah

Koordinasi kesehatan lintas sektor dalam pencegahan stunting daerah adalah cara kerja bersama berbagai layanan dasar—kesehatan, pangan, sanitasi, perlindungan keluarga, dan pemberdayaan masyarakat—yang disatukan oleh pemerintah daerah dalam satu kerangka program penurunan stunting yang terencana, terukur, dan berkelanjutan untuk melindungi kesehatan ibu anak Indonesia sejak masa kehamilan hingga tumbuh kembang balita. Pendekatan ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Kabupaten yang hanya mengandalkan satu dinas kesehatan akan tertinggal, karena stunting lahir dari kombinasi masalah gizi, lingkungan, dan perilaku. Koordinasi lintas sektor memaksa semua aktor duduk di meja yang sama, menggabungkan data, anggaran, dan aksi nyata. Contoh dari Takalar, Lampung Selatan, dan Kelurahan Pejeruk menunjukkan bahwa ketika birokrasi berhenti bekerja sendiri-sendiri, angka stunting mulai turun dan keluarga merasakan perubahan langsung di posyandu, puskesmas, hingga rumah mereka.

Takalar: TPPS Mengubah Rapat Menjadi Aksi Terpadu

Kabupaten Takalar memilih jalur konvergensi: memperkuat Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) melalui Rapat Koordinasi Pemantauan Kinerja Semester I yang dibuka Wakil Bupati Hengky Yasin pada 1 Oktober 2026. Itu bukan rapat rutin yang membahas laporan semata, tetapi forum untuk menyelaraskan pencegahan stunting daerah lintas dinas hingga level desa dan kelurahan. Pesan utamanya tegas: penurunan stunting tidak bisa dicapai oleh satu sektor. Program kesehatan perlu berjalan bersama intervensi sosial, pangan, sanitasi, pemberdayaan masyarakat, dan perlindungan keluarga. Di sini terlihat kedewasaan kebijakan: analisis situasi dijadikan dasar perencanaan, Pra-Musrenbang tematik stunting diperkuat, dan kebutuhan dimasukkan ke sistem perencanaan digital agar anggaran di APBD bisa ditandai dan diawasi. Takalar mengirim sinyal penting ke daerah lain: konvergensi bukan slogan, melainkan cara mengunci komitmen semua sektor agar program penurunan stunting tidak mandek di dokumen.

Lampung Selatan: Data Kuat, Penghargaan Bukan Sekadar Piagam

Lampung Selatan menunjukkan bagaimana koordinasi kesehatan lintas sektor menghasilkan capaian yang bisa dihitung, bukan hanya diklaim. Daerah ini meraih penghargaan sebagai kabupaten berkinerja baik dalam pencegahan dan percepatan penurunan stunting, diserahkan Wakil Gubernur sebagai Ketua TPPS dan diterima Wakil Bupati setempat. Penghargaan itu layak, karena angka stunting turun jelas: Survei Status Gizi Indonesia mencatat prevalensi 10,4 persen, lebih rendah dari rata-rata provinsi 15,9 persen. Sistem EPPGBM bahkan menunjukkan penurunan dari 2 persen pada 2022 menjadi 1,2 persen pada 2026. "Pemberian ASI eksklusif mencapai 97,35 persen, MPASI 99,23 persen, pemantauan anak bawah dua tahun 100 persen, tablet tambah darah remaja putri 98,65 persen, dan pendampingan keluarga 96,6 persen," ujar Kepala Dinas Kesehatan Lampung Selatan. Ini bukti bahwa ketika kesehatan ibu anak Indonesia dijaga sejak masa kehamilan hingga 8.000 Hari Pertama Kehidupan, pencegahan stunting daerah tidak lagi sporadis melainkan sistematis dan berbasis data.

Pejeruk Mataram: Kolaborasi Kelurahan dan Kader Menurunkan Kasus Lebih dari Separuh

Kelurahan Pejeruk di Kota Mataram mengajarkan bahwa program penurunan stunting yang efektif tidak selalu lahir dari kantor besar, tetapi dari kerja tekun di tingkat kelurahan. Data menunjukkan penurunan kasus dari 33 pada 2025 menjadi 15 pada 2026—lebih dari separuh dalam satu tahun. Keberhasilan ini bukan kebetulan. Pemerintah kelurahan, kader, sektor kesehatan, warga, dan pihak swasta melalui CSR terlibat dalam intervensi berkelanjutan, mulai dari Pemberian Makanan Tambahan hingga kegiatan Jalan Sehat Atasi Stunting. Pendekatan jemput bola membuat koordinasi kesehatan lintas sektor terasa langsung di rumah-rumah: anak yang dicurigai stunting didatangi, dibawa ke puskesmas, atau dirujuk ke rumah sakit sesuai kebutuhan. Tantangannya jelas, banyak orang tua sibuk dan enggan datang ke posyandu. Karena itu lurah dan kader mendorong pemeriksaan rutin agar gangguan tumbuh kembang bisa dideteksi sejak dini. Pejeruk membuktikan bahwa tanpa kedisiplinan keluarga dan kader di lapangan, kebijakan konvergensi hanya berhenti di atas kertas.

Pelajaran Kebijakan: Dari Konvergensi Dokumen ke Konvergensi Perilaku

Tiga contoh ini mengarah pada satu kesimpulan tajam: koordinasi lintas sektor adalah syarat perlu, namun belum cukup, untuk menurunkan stunting. Takalar memperkuat TPPS dan mengintegrasikan program dalam sistem perencanaan dan penganggaran sehingga semua dinas dipaksa menempatkan stunting dalam prioritas kerja. Lampung Selatan membuktikan bahwa pencegahan stunting daerah yang berangkat dari kesehatan ibu anak Indonesia—mulai kehamilan hingga 8.000 HPK—mampu menekan prevalensi sekaligus mencatat pencapaian posyandu dan Tim Pendamping Keluarga. Pejeruk menambahkan lapisan penting: kedekatan kader dengan warga dan kolaborasi dengan sektor swasta membuat intervensi gizi dan pemantauan tumbuh kembang menjadi bagian dari perilaku harian. Ke depan, daerah yang serius perlu meniru langkah-langkah ini: memastikan data keluarga berisiko mutakhir, mengikat anggaran lintas dinas pada satu tujuan, dan menilai kinerja bukan hanya dari jumlah rapat, tetapi dari berapa anak yang tumbuh tanpa stunting.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!