Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ribuan Ton Sampah Diangkut: Bisakah Program Lokal Menyelamatkan Sungai?

Ribuan Ton Sampah Diangkut: Bisakah Program Lokal Menyelamatkan Sungai?
Minat|Asia Tenggara

Pembersihan Sungai Bukan Sekadar Aksi, Tetapi Pertarungan Mengubah Sistem

Pembersihan sungai Indonesia adalah rangkaian upaya teknis dan sosial yang dilakukan secara rutin untuk mengurangi timbunan sampah di badan air, melalui pengangkutan, pemilahan, pengelolaan sampah air, pemasangan trash boom sungai, serta edukasi masyarakat, dengan tujuan jangka panjang menekan pencemaran sungai perkotaan dan mencegah dampak lingkungan lintas wilayah. Semua contoh terbaru menunjukkan satu hal yang sama: aksi bersih-bersih itu penting, tetapi tidak akan cukup jika perilaku warga dan sistem pengelolaan sampah tetap seperti sekarang. Sungai-sungai di kota menjadi cermin brutal dari cara kita membuang, mengelola, dan mengabaikan sampah rumah tangga. Jadi pertanyaannya bukan lagi apakah program sungai lestari bekerja, tetapi seberapa jauh program ini berani mengutak-atik akar masalah di hulu—yakni pola produksi dan konsumsi yang membanjiri sungai dengan residu.

Solo dan Surabaya: Pilot Project yang Menunjukkan Potensi Sekaligus Batas

Di Kali Premulung, Surakarta, Program Sungai Lestari memasang trash boom di hulu sungai dan menargetkan penanganan 1.000 ton sampah, dengan skema pemilahan dan pengolahan oleh mitra lokal agar tidak menambah beban TPA Putri Cempo. Pada satu aksi, anggota Kelompok Pengelola Sampah Joyo Gumregah terlihat memilah sampah yang terjaring trash boom di Joyotakan, menegaskan bahwa teknologi hanya bekerja jika ada komunitas yang siap turun tangan. Surakarta bahkan disebut sebagai pilot project yang diharapkan bisa ditiru 514 kota/kabupaten lain, sebuah ambisi besar yang layak diapresiasi namun perlu dibuktikan dalam jangka panjang. Di Kali Tebu, Surabaya, pendekatan kolaboratif pembersihan sungai Indonesia menampilkan angka yang jauh lebih gamblang: 122,5 ton sampah dievakuasi sejak Mei hingga September, dengan 95,9 ton telah dipilah dan didominasi residu 84,1 persen serta popok 30,51 ton. "Karakteristik dan komposisi sampah di Kali Tebu bisa mendorong solusi penyelesaian masalah harus dimulai dari pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga dan lingkungan," ujar Direktur Eksekutif Ecoton Daru Setyorini. Data ini memaksa kita mengakui bahwa pengelolaan sampah air bukan persoalan plastik belaka, tetapi kebiasaan membuang apa pun ke sungai karena sistem di darat tidak memberi alternatif.

AspekKali Premulung (Solo)Kali Tebu (Surabaya)
Target/hasil sampahTarget penanganan 1.000 ton122,5 ton dievakuasi Mei–September
Instrumen utamaTrash boom + pemilahan lokalMOZAIK + pemilahan komposisi sampah
Dominasi jenis sampahBelum dirinci, fokus pada volumeResidu 84,1%, popok 30,51 ton
Ribuan Ton Sampah Diangkut: Bisakah Program Lokal Menyelamatkan Sungai?

Tuban: Ketika Larangan dan Pagar Besi Tumbang oleh Realitas Muara

Kontras dengan narasi pilot project yang tertib, Sungai Mangun Joyo di Tuban menunjukkan sisi paling keras dari pencemaran sungai perkotaan. Meski larangan membuang sampah sembarangan sudah terpasang di jembatan dan pagar besi dipasang untuk menghalangi warga melempar sampah langsung ke sungai, aliran air tetap penuh kantong plastik besar yang mengambang dan tumpukan sampah di tepi sungai serta di bawah perahu. Pemandangan kumuh ini hanya berjarak beberapa ratus meter dari alun-alun kota dan berada di jalur utama yang ramai dilalui warga, menjadikan sungai yang tercemar sebagai latar sehari-hari, bukan sekadar berita buruk sekali tempo. Kepala dinas lingkungan setempat menyebut persoalan di Sungai Mangun Joyo “kompleks” karena kawasan itu adalah muara, menerima sampah dari hulu sekaligus sampah yang terbawa dari laut lalu mengendap di sana. Di sini, jelas terlihat bahwa pembersihan sungai Indonesia tidak bisa lagi dipahami sebagai urusan satu kelurahan atau satu OPD; ini jaringan masalah yang menghubungkan daratan, pesisir, dan laut. Pagar dan plang larangan tanpa perubahan sistem di kawasan hulu dan pesisir hanya mengubah arah sampah, bukan menghentikan arusnya.

Mengapa Program Sungai Lestari Penting, Tapi Belum Cukup

Program sungai lestari yang berjalan di berbagai kota berusaha menjawab tantangan ini dengan kombinasi pengangkutan, pemilahan, pemasangan trash boom sungai, pencegahan dari sumber, dan edukasi masyarakat. Di Surabaya, misalnya, program menyasar Kali Tebu dan Kali Mrutu sejak Juni sebelum diperluas ke wilayah lain, dengan melibatkan sekitar 350 peserta dalam aksi Hari Sungai Sedunia yang mengangkut 3,12 ton sampah dalam satu hari. Angka-angka ini menegaskan bahwa gerakan warga dan organisasi lokal sanggup mengurangi timbunan, tetapi juga mengungkap betapa besar volume sampah yang setiap saat masuk ke sungai. Jika program sungai lestari hanya berhenti pada pembersihan dan pemilahan, ia berisiko menjadi “penyapu krisis” yang tak pernah menutup keran. Data komposisi sampah dari Kali Tebu jelas menunjukkan bahwa residu dan popok rumah tangga mendominasi, mengisyaratkan sistem pengelolaan sampah air di darat yang bolong, mulai dari kebijakan sampai infrastruktur layanan. Tanpa penataan ulang pengelolaan sampah di rumah, lingkungan, dan tingkat kota, sungai akan terus menjadi korban dari ketidakmampuan sistem formal mengurus residu konsumsi harian.

Kesimpulan: Dari Aksi Bersih ke Revolusi Pengelolaan Sampah Air

Rangkaian contoh dari Kali Premulung, Kali Tebu, dan Sungai Mangun Joyo menunjukkan satu garis besar: pembersihan sungai Indonesia melalui program lokal telah menghasilkan ribuan ton sampah yang berhasil diangkut, tetapi belum mengubah logika produksi dan pembuangan yang memicu pencemaran sungai perkotaan. Trash boom sungai, kegiatan bersih-bersih, dan larangan membuang sampah adalah langkah awal yang penting, namun tidak boleh menutupi kenyataan bahwa sungai saat ini berperan sebagai saluran darurat bagi kegagalan sistem pengelolaan sampah air di darat. Jika ingin sungai sungguh lestari, arah kebijakan perlu bergeser dari “membersihkan setelah kotor” menjadi “mencegah sampah lahir tanpa kendali”: pengurangan residu, pengaturan ketat produk sekali pakai, layanan pengelolaan popok dan residu rumah tangga, serta tata kelola lintas wilayah yang melihat sungai sebagai satu kesatuan dari hulu hingga muara. Tanpa keberanian menyentuh wilayah yang tidak populer ini, kita akan terus merayakan keberhasilan mengangkut ton demi ton sampah, sambil menyaksikan sungai mengulang siklus tercemarnya setiap musim hujan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!