Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ribuan Ton Sampah Terangkut: Sungai-sungai Mulai Melawan

Ribuan Ton Sampah Terangkut: Sungai-sungai Mulai Melawan
Minat|Asia Tenggara

World River Day: Dari Seremoni ke Gerakan Pembersihan Sungai

World River Day adalah momentum tahunan ketika pemerintah, komunitas, dan organisasi lingkungan berkolaborasi melakukan pembersihan sungai, pengangkutan sampah, edukasi warga, dan pemasangan infrastruktur pengendali sampah untuk memulihkan ekosistem air tawar yang telah lama diabaikan dan tercemar oleh limbah rumah tangga maupun aktivitas ekonomi. Pada titik ini, peringatan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan ujian kejujuran: apakah kota-kota berani mengakui bahwa sungai mereka telah menjadi saluran sampah, dan apakah mereka siap mengubahnya. Di berbagai aliran, dari Kali Premulung hingga Kali Tebu, ribuan kilogram sampah diangkat hanya dalam hitungan bulan, memperlihatkan betapa selama ini krisis pembersihan sungai lebih sering disembunyikan di balik tembok beton dan jargon pembangunan.

Kali Premulung: Trash Boom dan Target 1.000 Ton Sampah

Di Surakarta, Program Sungai Lestari memilih Kali Premulung sebagai laboratorium pembersihan sungai yang lebih serius. Sejumlah anggota Kelompok Pengelola Sampah Joyo Gumregah memilah sampah yang terjaring trash boom di Joyotakan saat aksi Sabtu 26 September. Trash boom ini adalah jaring terapung penahan sampah di hulu, yang mencegat sampah plastik sungai dan residu lain sebelum hanyut lebih jauh dan berpotensi masuk ke aliran besar seperti Bengawan Solo. Kepala dinas lingkungan setempat menegaskan, sampah yang terambil tidak lagi ‘dibuang ulang’ ke TPA, tetapi langsung dipilah dan diolah mitra lokal dengan target penanganan hingga 1.000 ton sampah. "Skema yang dikerjakan adalah sampah yang diambil dari sungai akan langsung dipilah dan diolah oleh mitra lokal, sehingga harapannya tidak dikirim ke TPA Putri Cempo," kata Herwin Tri Nugroho Adi.

Kali Tebu: Popok, Residu, dan Kegagalan Kita di Rumah

Jika Kali Premulung menyorot teknologi trash boom, Kali Tebu di Surabaya memaksa kita bercermin pada kebiasaan rumah tangga. Dalam aksi bersih sungai pada World River Day, sekitar 350 peserta mengangkut 3,12 ton sampah hanya dari satu hari kegiatan yang dibagi menjadi tiga zona—hulu, tengah, hilir. Sejak Mei hingga September, program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) mencatat 122,5 ton sampah telah dievakuasi dari Kali Tebu, dengan 95,9 ton telah dipilah. Data pemilahan mengungkap wajah telanjang pencemaran: 84,1 persen berupa residu, 7,6 persen sampah organik, dan 8,32 persen dapat didaur ulang. Lima jenis terbanyak adalah residu lainnya (50,16 ton), popok 30,51 ton, sampah organik 3,5 ton, kayu dan ranting, serta plastik kresek 2,3 ton. Fakta ini tegas: krisis sampah sungai bukan hanya soal sampah plastik sungai, melainkan budaya buang sampah rumah tangga yang malas bertanggung jawab.

Dari Data ke Aksi: Kampanye Sungai Lestari yang Lebih Jujur

Program Sungai Lestari yang membentang di beberapa wilayah mencoba menghubungkan pembersihan sungai dengan perubahan perilaku jangka panjang. Di Kali Tebu, aksi World River Day bukan hanya mengangkat sampah, tetapi juga menanam pohon di bantaran dan menuangkan 300 liter eco enzyme oleh relawan, sebagai simbol bahwa pemulihan ekosistem air tawar butuh campuran teknologi dan pendekatan alami. Program ini menggabungkan pengangkutan dan pemilahan sampah, pemasangan trash boom, pencegahan sampah dari sumber, hingga edukasi masyarakat. Direktur organisasi yang terlibat menjelaskan bahwa karakteristik dan komposisi sampah digunakan untuk menentukan penanganan di tingkat rumah tangga. Artinya, data bukan berhenti di laporan, tetapi menjadi bahan tekanan politik dan sosial agar pengelolaan sampah permukiman dibenahi, termasuk soal popok sekali pakai yang kini terbukti menjadi “penjahat” besar di aliran sungai.

Koordinasi Regional: Sungai Sebagai Agenda Bersama, Bukan Urusan Pinggiran

Pengelolaan pembersihan sungai yang selama ini terfragmentasi mulai dirajut melalui koordinasi lintas kota. National Project Manager UNDP menyebut Surakarta menjadi percontohan bersama Surabaya, Sidoarjo, Bali, dan Bekasi, dengan harapan menjadi pilot project bagi 514 kota/kabupaten lain dalam menerapkan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik. Di Surabaya, Program Sungai Lestari telah menyasar Kali Tebu dan Kali Mrutu sejak Juni sebelum diperluas ke wilayah lain. Kolaborasi pemerintah daerah dengan yayasan lingkungan seperti Bintari dan VEL di satu sisi, dan organisasi lain di sisi lain, menunjukkan komitmen regional yang makin kuat untuk restorasi sungai. Namun koordinasi teknis saja tidak cukup. Tanpa keberanian mengatur produsen, memperketat pengelolaan residu, dan mengubah perilaku warga, trash boom hanya akan menjadi pagar raksasa yang menahan bukti betapa kita masih menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan terakhir.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!