Tangisan Adzam menjadi peringatan soal disiplin
Disiplin anak adalah proses membantu anak memahami aturan dan batasan melalui arahan yang sesuai usia, bukan membuatnya patuh karena takut pada ancaman. Peristiwa Adzam menunjukkan mengapa perbedaan itu penting: Nathalie Holscher meminta bantuan Polisi Anak 84 untuk menasihati putranya yang disebut susah makan, tetapi Adzam menangis setelah mendapat teguran tegas bergaya polisi. Konten tersebut melibatkan Ibnu Agung, pemilik akun yang dikenal berpura-pura menjadi polisi untuk membantu orang tua mendisiplinkan anak. Tangisan seorang anak tentu tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh dampak dari sebuah metode. Namun, itu cukup menjadi alasan bagi orang dewasa untuk berhenti sejenak dan menilai apakah pesan yang ingin disampaikan benar-benar dipahami, atau justru tertutup oleh rasa takut.
Reaksi Sule berangkat dari kekhawatiran itu. Ia mengatakan tidak tega melihat putranya menangis dan kemudian menghubungi Nathalie untuk menyampaikan keberatan. Dalam keterangannya yang diberitakan pada 29 Oktober 2026, Sule menegaskan bahwa ia tidak benar-benar marah; komunikasinya merupakan teguran agar kejadian serupa tidak terulang. Sikap tersebut patut dibaca sebagai pengingat bahwa disiplin bukan sekadar menghentikan perilaku yang tidak disukai orang tua. Cara yang dipakai ikut membentuk rasa aman anak dan kualitas hubungan dengan orang yang mengasuhnya.
Menasihati anak bukan berarti menakut-nakutinya
Menasihati anak berarti menjelaskan perilaku yang diharapkan dengan bahasa yang bisa dipahami, memberi alasan, lalu menetapkan batas secara konsisten. Sebaliknya, memakai ancaman atau sosok yang menakutkan dapat mengalihkan perhatian anak dari aturan ke bahaya yang ia bayangkan. Dalam kasus ini, Sule khawatir Adzam bisa takut kepada ibunya atau merasa kurang nyaman saat bersamanya. Kekhawatiran itu tidak membuktikan bahwa hubungan mereka telah berubah, tetapi menunjukkan risiko yang menurut Sule layak dipertimbangkan sebelum metode serupa digunakan lagi.
Menghadapi anak yang susah makan memang dapat menguji kesabaran. Meski begitu, ketegasan tidak harus disertai ancaman. Orang tua dapat menyampaikan harapan dengan tenang, mendengarkan respons anak, dan mengulang batas yang sama tanpa menjadikan polisi atau hukuman menakutkan sebagai alat tekan. Pendekatan seperti ini menuntut konsistensi, tetapi lebih berpeluang membuat anak mengerti apa yang diharapkan, bukan hanya patuh saat sosok yang ditakutinya hadir. Dalam pola asuh, tujuan disiplin semestinya membangun pemahaman dan kebiasaan, bukan sekadar memperoleh kepatuhan sesaat.
Pola asuh perlu menjaga rasa aman
Sule menyatakan lebih memilih pendekatan pengasuhan yang santai dan tidak mengandalkan ancaman maupun kekerasan. Itu bukan berarti orang tua harus membiarkan semua perilaku atau menghindari aturan. Anak tetap membutuhkan batas yang jelas; yang perlu dipertimbangkan adalah cara menyampaikannya. Teguran yang menjelaskan akibat dan harapan memberi ruang bagi anak untuk belajar, sementara menakut-nakuti berisiko membuatnya fokus pada sosok yang mengancam. Bagi orang tua lain, kisah ini menjadi pengingat praktis: ketika anak menangis, jangan buru-buru menganggap metode disiplin berhasil hanya karena anak berhenti membantah.
Sule menjelaskan bahwa ia menegur Nathalie karena tidak tega melihat Adzam menangis, bukan untuk memperpanjang persoalan pribadi. Perbedaan pendapat ant orang tua mengenai metode pengasuhan bisa terjadi, tetapi kebutuhan anak semestinya menjadi pusat pertimbangan. Disiplin yang baik tetap tegas tanpa membuat anak merasa terancam, dan menasihati anak seharusnya membantu mereka memahami aturan sekaligus mempertahankan rasa aman. Pada akhirnya, tangisan Adzam bukan alasan untuk menyimpulkan seluruh pola asuh seseorang, tetapi menjadi sinyal agar orang dewasa memilih cara yang lebih menenangkan. Aturan akan lebih bermakna ketika anak mematuhinya karena mengerti, bukan karena takut.






