Kepatuhan sesaat bukan tanda anak merasa aman
Tren “polisi anak” adalah cara menasihati anak dengan menghadirkan seseorang yang berpura-pura menjadi polisi dan mengancam akan menghukum mereka bila tidak menuruti perintah orang tua. Praktik ini ramai di TikTok untuk menghadapi anak yang menolak makan atau terlalu lama bermain gawai. Polisi Anak 84 dilaporkan memiliki lebih dari 398 ribu pengikut, sementara orang tua meminta bantuan untuk beragam masalah perilaku. Daya tariknya mudah dipahami: anak mungkin langsung berhenti membantah ketika mendengar ancaman. Namun kepatuhan yang lahir dari takut bukan pemahaman tentang alasan sebuah aturan. Bagi anak, pesan yang tertanam bisa jadi bukan “makan itu penting”, melainkan “orang dewasa dapat menipuku dan membuatku dihukum”. Karena itu, polisi anak viral bukan sekadar hiburan keluarga. Ini adalah metode parenting negatif yang menjadikan rasa takut sebagai alat kendali, dengan risiko pada hubungan anak dan orang tua.

Ancaman dan rekaman memperbesar risiko
Psikolog kognitif dan perkembangan Okina Fitriani menyoroti tiga masalah dalam praktik ini: kebohongan untuk mengendalikan perilaku, disiplin anak takut-takutan, serta penyebaran momen rentan anak tanpa persetujuan yang dapat berdampak pada harga diri mereka kelak. Dalam video yang beredar, anak-anak tampak menangis atau ketakutan setelah diberi tahu polisi akan menangkap mereka. Nathalie Holscher menggunakan jasa tersebut ketika Adzam sulit makan, sedangkan Pratiwi Noviyanthi meminta kreator itu menegur anak asuhnya, Adek Tabo, terkait kebiasaan memukul teman. Anak yang akhirnya menuruti perintah belum tentu memahami perilaku yang diharapkan; ia mungkin hanya ingin ancaman berhenti. Jika orang tua berulang kali memakai kebohongan untuk memperoleh kepatuhan, kepercayaan anak pada penjelasan mereka bisa terkikis. Ketika ketakutan dan rasa malu turut direkam lalu dibagikan, kesehatan mental anak dan rasa aman mereka patut menjadi perhatian.
Pilih langkah yang tidak mempermalukan anak
Orang tua sebaiknya menghentikan panggilan yang berisi ancaman dan tidak mengunggah anak saat sedang takut atau menangis. Setelah kejadian, jelaskan dengan jujur bahwa ancaman itu tidak nyata, minta maaf, lalu dengarkan apa yang membuat anak menolak makan atau sulit berhenti bermain. Untuk masalah makan, cari cara yang tidak mengintimidasi: warganet, misalnya, menyarankan suasana makan yang lebih menarik atau mengajak anak ke taman; saran tentang suplemen sebaiknya tidak diikuti tanpa pertimbangan tenaga kesehatan. Untuk penggunaan gawai, sampaikan batas waktu dengan jelas dan konsisten, bukan dengan ancaman penangkapan. Respons yang tenang mungkin tidak menghasilkan kepatuhan seketika, tetapi memberi ruang bagi anak untuk memahami aturan tanpa merasa dikhianati. Intinya, disiplin seharusnya membimbing perilaku, bukan menjadikan ketakutan sebagai jalan pintas. Viralitas bukan ukuran keberhasilan pengasuhan; kepercayaan dan rasa aman anak jauh lebih penting.






