Bukan manja, bayi sedang belajar mengenali orang
Stranger anxiety adalah rasa takut atau waspada bayi terhadap orang yang belum familiar, sebagai bagian dari proses mengenali siapa yang terasa aman dan siapa yang belum dikenalnya. Karena itu, bayi menangis digendong orang lain tidak otomatis berarti ia manja, tidak suka pada keluarga, atau terlalu bergantung pada ibu. Menangis merupakan cara bayi menyampaikan rasa takut maupun tidak nyaman. Pada usia awal, bayi mungkin tampak mudah digendong siapa saja. Namun, sekitar usia 8–12 bulan, banyak bayi mulai mengenali orang yang sering berada di dekatnya dan membedakan mereka dari orang yang jarang ditemui. Jadi, meskipun yang menggendong adalah nenek atau tante, bayi bisa tetap merasa asing jika belum terbiasa berinteraksi. Ia membutuhkan waktu untuk merasa aman, bukan teguran atau paksaan.
Bedakan takut orang baru dan cemas berpisah
Stranger anxiety bayi berkaitan dengan sosok yang belum akrab, sedangkan separation anxiety bayi muncul ketika bayi berpisah dari pengasuh dekat yang menjadi sumber rasa amannya. Keduanya bisa terlihat serupa—bayi menangis atau mencari orang tua—tetapi pemicunya berbeda. Kecemasan berpisah merupakan bagian umum perkembangan anak, terutama pada usia 6 bulan hingga 3 tahun. Bayi terbiasa dengan suara, aroma, sentuhan, serta cara pengasuh dekat menggendong dan menenangkannya. Saat orang itu menjauh atau bayi berpindah tangan, ia mungkin membutuhkan kepastian bahwa sosok yang dikenalnya masih ada di dekatnya. Kontak mata dan ketertarikan bayi pada wajah orang tua juga menjadi bagian penting dari komunikasi awal: tatapan dapat menunjukkan minat dan kesiapan berinteraksi, sementara senyum, percakapan, serta respons terhadap suara bayi membantu membangun hubungan. Maka, tangisan bukan penilaian terhadap orang yang menggendong, melainkan sinyal tentang rasa aman dan kesiapan bayi.

Biasakan dengan orang baru secara bertahap
Memaksa bayi berpindah ke pelukan orang lain biasanya bukan cara yang baik untuk membangun kenyamanan. Mulailah dengan memberi kesempatan untuk berkenalan: minta orang tersebut duduk dekat bayi, berbicara lembut, dan membiarkannya mengamati wajah terlebih dahulu. Orang tua dapat tetap berada di samping bayi saat interaksi atau permainan dimulai. Jika bayi tampak nyaman, barulah beri kesempatan untuk berinteraksi lebih jauh tanpa harus selalu berada dalam pelukan orang tua. Pilih saat bayi tidak lapar, mengantuk, atau kelelahan. Periksa pula hal sederhana seperti posisi gendongan, popok, atau suhu tubuh; posisi yang berbeda dari kebiasaan bisa membuat bayi tidak nyaman. Suasana ramai dan terlalu banyak orang menyapa atau menggendong bergantian juga dapat membuat bayi kewalahan. Jika ia mulai memalingkan wajah, menggeliat, atau semakin rewel, pindahkan ke tempat yang lebih tenang. Bila tangis meningkat, tenangkan dahulu dan coba lagi pada kesempatan lain.
Baca tanda siap dan hormati penolakannya
Bayi mungkin siap berkenalan ketika ia tampak tenang, bersedia mengamati wajah orang baru, dan mulai merespons suara atau ajakan lembut. Itu belum berarti ia pasti siap digendong. Biarkan ia menentukan kecepatannya: orang baru bisa mulai dengan duduk di dekatnya atau mengajaknya bermain, sementara orang tua tetap mendampingi. Jika bayi terlihat makin nyaman, interaksi dapat berlanjut perlahan. Sebaliknya, memalingkan wajah, menggeliat, atau semakin rewel saat orang mendekat adalah tanda ia perlu jeda atau lingkungan yang lebih tenang. Jangan menganggap penolakan sebagai sifat buruk, dan jangan meminta orang lain memaksakan kehendak demi membuat bayi cepat terbiasa. Setiap bayi memiliki tempo adaptasi yang berbeda; kesabaran dan konsistensi lebih membantu daripada tekanan. Perilaku ini umumnya termasuk perkembangan bayi normal. Namun, konsultasikan kepada dokter jika tangis terus-menerus, sulit ditenangkan, berbeda dari biasanya, atau disertai demam, muntah, sulit bernapas, maupun menolak menyusu.






