Ketika keluarga tak lagi sanggup menanggung kecanduan
Kecanduan sabu adalah ketergantungan pada metamfetamin yang dapat merusak kesehatan, mengubah perilaku, dan menyeret keluarga ke dalam tekanan serta kerugian berkepanjangan. Di Palembang, seorang ibu berusia 65 tahun menyerahkan anak kandungnya, AG, 36 tahun, kepada polisi ketika petugas menggerebek lokasi transaksi dan penyalahgunaan narkoba di Lorong Tangga Takat, Rabu (28/10/2026). Keputusan itu bukan tanda bahwa ia berhenti menyayangi anaknya, melainkan gambaran betapa sempitnya pilihan yang dirasakan keluarga saat ketergantungan dan kekerasan terus berlangsung. Menurut pemberitaan, AG menguras harta keluarga, mengambil uang kebutuhan sehari-hari, dan menggadaikan kain panjang yang disimpan untuk menutup jenazah. Kisah ini menunjukkan bahwa dampak narkoba keluarga bukan perkara abstrak: kebutuhan makan, rasa aman, dan martabat rumah tangga ikut terancam. Penyerahan kepada polisi menjadi tindakan darurat seorang ibu yang berharap putranya bisa berhenti menggunakan sabu dan masa depan keluarganya terselamatkan.

Uang makan, kekerasan, dan batas kesabaran
Kecanduan tidak hanya menghabiskan barang yang mudah dijual. Menurut ibu tersebut, bahkan uang Rp20 ribu yang diperlukan untuk membeli sayur bisa diambil, sehingga kebutuhan makan keluarga terganggu. Ia juga mengatakan barang-barang di rumah telah dijual atau digadaikan, termasuk kain penutup jenazah. Situasi menjadi lebih berbahaya karena AG disebut kerap mengamuk dan menganiaya anggota keluarga ketika permintaan uang untuk membeli narkoba tidak dipenuhi. Anak kecanduan narkoba dapat membuat orang-orang terdekat terjebak dalam dilema: membantu dengan memberi uang berisiko mendukung kebiasaan, sementara menolak dapat memicu ancaman atau kekerasan. Beban itu semakin berat karena AG memiliki istri dan empat anak yang, menurut ibunya, tidak dinafkahi. Karena itu, menilai keputusan sang ibu sebagai tindakan kejam akan mengabaikan tekanan yang ia hadapi. Peristiwa tersebut lebih tepat dibaca sebagai permintaan pertolongan dari keluarga yang sudah kehabisan cara.
Penindakan perlu disertai jalan menuju pemulihan
Ibu itu mengambil keputusan saat melihat polisi menggerebek kawasan dekat rumahnya, lalu menuntun AG keluar dan menyerahkannya kepada petugas. Polisi menyatakan sedang memeriksa AG untuk mengetahui tingkat kecanduannya. Dalam operasi yang sama, lima orang lain ditangkap dan dinyatakan positif metamfetamin berdasarkan tes urine; petugas juga menyita alat isap dan satu paket kecil sabu. Polisi mengatakan kasus tersebut masih dikembangkan untuk mengungkap pemasok dan jaringan terkait. Penindakan dapat memutus akses langsung terhadap narkoba dan memberi ruang bagi keluarga untuk merasa lebih aman, tetapi penahanan saja tidak menjawab kebutuhan pemulihan. Kisah ini mengingatkan bahwa bantuan kecanduan narkoba perlu dipandang sebagai persoalan kesehatan dan keselamatan keluarga, bukan semata-mata urusan menghukum pengguna. Namun, sumber pemberitaan hanya menjelaskan pemeriksaan polisi dan pengembangan kasus; tidak ada keterangan tentang rencana perawatan AG. Keluarga yang terdampak juga memerlukan perlindungan dan dukungan, bukan dibiarkan menanggung risiko sendirian.
Keberanian meminta bantuan bukan akhir cerita
Keputusan seorang ibu menyerahkan anaknya kepada polisi memperlihatkan titik ketika kasih sayang tak lagi cukup untuk mengatasi kecanduan tanpa bantuan dari luar. Kisah ini tidak boleh dijadikan tontonan sensasional karena di balik barang yang digadaikan dan tindakan kekerasan, ada keluarga yang kehilangan rasa aman serta anak-anak yang terdampak. Pada saat yang sama, pengalaman tersebut menegaskan pentingnya penanganan yang menjaga keselamatan keluarga sambil memeriksa kebutuhan pemulihan pengguna. Langkah polisi untuk menilai tingkat kecanduan AG dan mengembangkan penyelidikan merupakan tindak lanjut yang diberitakan, tetapi hasil akhirnya belum diketahui. Kesimpulannya, beban kecanduan tidak patut ditimpakan kepada keluarga seolah-olah mereka mampu menyelesaikannya sendiri. Permintaan bantuan sang ibu adalah tanda putus asa sekaligus upaya melindungi keluarganya; respons berikutnya perlu memberi perhatian pada keselamatan, penanganan ketergantungan, dan masa depan orang-orang yang ikut menanggung akibatnya.






