Hak mengikuti ujian tidak boleh bergantung pada cuaca
TKA susulan adalah kesempatan bagi peserta didik yang tidak dapat mengikuti jadwal reguler karena bencana, sakit, atau kendala teknis untuk tetap menjalani asesmen tanpa kehilangan haknya. Kebijakan ini penting karena ujian tidak semestinya memaksa murid memilih antara keselamatan dan penilaian akademik. Tes Kemampuan Akademik 2026 untuk jenjang SMA, MA, SMK, dan sederajat dimulai pada 26 Oktober, ketika sejumlah wilayah menghadapi bencana alam maupun keadaan darurat. Kemendikdasmen menyatakan keselamatan dan kesehatan murid serta warga sekolah menjadi prioritas. Itu bukan sekadar pesan moral: bila akses sekolah berbahaya atau kondisi setempat tidak aman, jadwal alternatif harus benar-benar bisa digunakan. TKA daerah terdampak bencana hanya adil jika keadaan darurat tidak berubah menjadi hukuman akademik bagi siswa yang terdampak.
Mekanisme susulan harus bekerja tanpa membebani siswa
Rancangan ujian susulan siswa memberi jalur yang cukup jelas: bila peserta terdaftar tidak hadir karena lokasi tidak aman, pengawas mencatatnya dalam berita acara, lalu data siswa dialihkan otomatis ke daftar calon peserta susulan. Koordinasi berikutnya dilakukan melalui dinas pendidikan provinsi untuk SMA dan SMK, dinas kabupaten atau kota untuk pendidikan kesetaraan, serta kantor wilayah Kementerian Agama untuk madrasah. Sistem ini patut diapresiasi karena mengurangi risiko siswa harus membuktikan sendiri bahwa bencana menghalangi kehadiran mereka. Namun, keadilan juga bergantung pada komunikasi yang cepat dan petunjuk yang mudah dipahami keluarga. Prinsip kebijakan pendidikan bencana alam menetapkan keselamatan fisik dan psikologis sebagai pertimbangan utama, sementara pemetaan risiko menentukan apakah ujian berlangsung sesuai jadwal atau dialihkan. Dengan begitu, keselamatan ujian nasional tidak dikalahkan oleh tuntutan hadir.
Semangat siswa Aceh Jaya bukan alasan mengabaikan risiko
Di SMA Negeri 1 Darul Hikmah, Desa Krueng Tunong, Aceh Jaya, banjir tidak menyurutkan semangat siswa untuk mengikuti TKA. Mereka mengerjakan soal di ruang yang lebih tinggi meski lingkungan sekolah tergenang dan akses menuju lokasi ujian sulit. Hujan deras juga membuat sejumlah sekolah di wilayah itu meliburkan siswa dan memindahkan pembelajaran ke daring. Keteguhan para siswa layak dihargai, tetapi jangan sampai keberanian mereka dibaca sebagai standar yang harus ditiru semua sekolah. Kondisi tiap lokasi berbeda; hadir di tengah genangan bukan ukuran kesungguhan belajar. Kepala sekolah Zakiah menyoroti banjir sebagai persoalan lingkungan yang membutuhkan penanganan, termasuk kemungkinan penimbunan lahan atau relokasi sekolah. Kesempatan mengikuti ujian penting, tetapi murid juga berhak belajar dan diuji di tempat yang aman. Foto semangat siswa tidak boleh menutupi kebutuhan akan solusi jangka panjang.

Jadwal alternatif perlu disertai keputusan yang tegas
Jadwal yang diumumkan memberi ruang untuk menyesuaikan kondisi: gelombang reguler berlangsung 26–29 Oktober dan 2–5 November, sedangkan TKA susulan dijadwalkan pada 16–19 November serta 23–26 November 2026. Susulan khusus mata pelajaran wajib berlangsung 21–22 November dan mata pelajaran pilihan 28–29 November; hasil TKA diumumkan pada 23 Desember 2026. Rentang ini berguna hanya bila sekolah dan pemerintah daerah cepat memetakan risiko, memberi tahu keluarga, dan memastikan siswa yang terdampak tercatat. Fleksibilitas bukan berarti keputusan dibiarkan kabur: sekolah harus bisa menjalankan ujian saat aman dan mengalihkannya ketika risiko mengancam. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kebijakan bukan seberapa banyak siswa tetap datang saat banjir, melainkan apakah setiap anak memperoleh kesempatan dinilai secara setara tanpa dipaksa membahayakan diri. Keselamatan dan keadilan akademik harus berjalan bersama.






