Dari teori iklim menuju pengalaman belajar
Pendidikan perubahan iklim adalah proses belajar yang membantu siswa memahami penyebab dan dampak perubahan iklim serta merancang tanggapan berdasarkan bukti ilmiah dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini lebih berguna daripada berhenti pada hafalan istilah, sebab perubahan pola hujan, suhu yang meningkat, kekeringan, banjir, dan cuaca ekstrem sudah menjadi persoalan yang perlu dipahami generasi muda. Guru SMP di Jawa Tengah mendapat apresiasi setelah mengikuti pendampingan pendidikan perubahan iklim berbasis STEM yang ditutup pada 27 Oktober 2026 di Semarang. Diselenggarakan Direktorat Sekolah Menengah Pertama, kegiatan ini berupaya memperkuat kemampuan guru mengintegrasikan isu iklim ke dalam pelajaran. Pesan pentingnya jelas: pendidikan iklim perlu hadir dalam kegiatan belajar yang menghubungkan sains dengan lingkungan sekitar, bukan hanya sebagai penjelasan teori di kelas.
Pendampingan tersebut menghadirkan Dr. Elok Sudibyo, dosen Pendidikan IPA Universitas Negeri Surabaya, sebagai narasumber. Kegiatan di Jawa Tengah merupakan Region 2 dari rangkaian yang direncanakan berlangsung di tiga wilayah; pendampingan untuk Region 3, Jawa Timur, dijadwalkan pada 2–4 November 2026.

Pendampingan guru menjadi penghubung penting
Pembelajaran STEM SMP berpotensi mengubah konsep abstrak menjadi penyelidikan yang bisa dilakukan siswa. Namun, pendekatan itu tidak berjalan otomatis: guru perlu merancang pertanyaan, membimbing pengumpulan data, lalu membantu kelas menilai apakah kesimpulannya didukung bukti. Dalam pembelajaran perubahan iklim, sains menjelaskan fenomena, teknologi membantu mengakses atau mengolah informasi, rekayasa mendorong perancangan solusi, dan matematika dipakai untuk mengukur serta menafsirkan data. Peran guru bukan memberi semua jawaban, melainkan menjaga agar kegiatan tetap terarah dan akurat. Karena itu, apresiasi terhadap peserta pendampingan layak dibaca sebagai pengakuan atas proses penguatan kompetensi, bukan sekadar seremoni. Guru pendidikan iklim yang terampil dapat menautkan materi IPA dengan lingkungan yang dikenal siswa, sekaligus melatih mereka menganalisis informasi dan menyusun solusi yang masuk akal.
Hasil evaluasi memberi alasan untuk melanjutkan pendekatan ini: rata-rata nilai peserta naik dari 53,90 pada pre-test menjadi 87,16 pada post-test, dengan N-gain 0,722 yang termasuk kategori tinggi. Angka tersebut menunjukkan peningkatan dalam pendampingan, meski tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa praktik kelas setiap peserta sudah berubah.
STEM membuat lingkungan sekolah menjadi laboratorium
Salah satu kekuatan pendidikan perubahan iklim berbasis STEM ialah siswa dapat memulai dari hal yang mereka temui di sekolah. Mereka, misalnya, mengukur suhu di area terbuka dan teduh, mencatat selisihnya, lalu menguji kaitan antara tutupan tanaman dan kondisi lingkungan. Dari data itu, siswa dapat mengusulkan penambahan tanaman peneduh dan menjelaskan dasar ilmiahnya. Kegiatan lain bisa berupa audit penggunaan energi: mencatat pemakaian lampu dan perangkat elektronik, memperkirakan konsumsi, lalu menyarankan penghematan. Sekolah pun menjadi ruang untuk belajar menggunakan energi secara bijak, menjaga ruang hijau, mengurangi sampah, dan membuat keputusan berdasarkan bukti. Nilai pendekatan ini bukan pada proyek yang rumit, melainkan pada kesempatan bagi siswa untuk memahami masalah, menguji dugaan, dan menimbang solusi yang dapat diterapkan.
Apresiasi di Jawa Tengah diberikan berdasarkan nilai post-test, peningkatan hasil belajar yang diukur melalui N-gain, dan keaktifan selama pendampingan. Siti Sholihah Ari Susanti dari SMP Negeri 3 Ungaran memperoleh nilai post-test tertinggi, yaitu 100. Penghargaan atas hasil akhir, perkembangan, dan partisipasi memberi gambaran lebih luas daripada hanya melihat satu nilai.
Kontribusi sekolah terhadap SDG 13
Pendampingan ini juga sejalan dengan SDG 13 sekolah: target 13.3 menekankan pendidikan, kesadaran, dan peningkatan kapasitas untuk mitigasi perubahan iklim, adaptasi, pengurangan dampak, serta peringatan dini. Artinya, kontribusi sekolah tidak harus dimulai dari program besar. Pembelajaran yang membuat siswa membaca data lingkungan, memahami hubungan tindakan manusia dengan dampak iklim, dan mempertimbangkan pilihan yang bertanggung jawab sudah memberi landasan penting. Namun, nilai pendampingan akan ditentukan oleh kelanjutannya. Guru membutuhkan ruang untuk menerapkan rancangan kegiatan, berbagi hasil, dan memperbaiki pembelajaran berdasarkan pengalaman kelas. Tanpa tindak lanjut seperti itu, kenaikan skor pelatihan berisiko berhenti sebagai capaian evaluasi. Dengan praktik yang konsisten, pendidikan iklim dapat berkembang dari materi pelajaran menjadi kebiasaan berpikir dan bertindak.
Apresiasi bagi guru SMP di Jawa Tengah patut dipandang sebagai awal, bukan garis akhir. Pendampingan yang menguatkan guru untuk menghubungkan sains dengan persoalan sehari-hari menawarkan jalur yang lebih bermakna bagi siswa daripada ceramah semata. Agar SDG 13 hadir nyata di sekolah, kegiatan STEM perlu terus diterapkan, dievaluasi, dan disesuaikan dengan lingkungan setempat.






