Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Limbah Dapur Menjadi Kompos, Pelajar Mempraktikkan Aksi Iklim

Dari Limbah Dapur Menjadi Kompos, Pelajar Mempraktikkan Aksi Iklim
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Belajar iklim lewat persoalan di sekitar

Pendidikan iklim adalah proses belajar yang membantu siswa memahami dampak perubahan iklim dan mencoba solusi nyata untuk persoalan lingkungan di sekitar mereka. Di Pekalongan, gagasan itu diterapkan melalui Sekolah Iklim 2026: pelajar tidak berhenti pada pembahasan di kelas, tetapi mengolah limbah dapur menjadi kompos yang dapat digunakan untuk menanam.

Program ini melibatkan 30 siswa dari 10 SMA/SMK sederajat. Sejak awal Oktober 2026, peserta mempelajari perubahan iklim dan menjalankan 10 aksi ketahanan iklim di sekolah maupun lingkungan sekitarnya. Mereka juga didampingi mentor untuk mengenali masalah, merancang gagasan, lalu menerapkan solusi sesuai kebutuhan masyarakat. Pendekatan ini lebih kuat daripada pelajaran yang hanya meminta siswa menghafal istilah: mereka melihat hubungan antara kebiasaan sehari-hari, sampah, dan lingkungan.

Kebutuhan akan pembelajaran semacam ini terasa mendesak karena Pekalongan termasuk wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Ketika ancaman terasa dekat, pendidikan lingkungan sebaiknya memberi siswa peran sebagai pelaku, bukan sekadar pendengar.

Sisa dapur menjadi bagian dari siklus pangan

Kelompok Pasang Laut dari SMK Medika Pekalongan mengusung gagasan “Satu Dapur, Dua Jalur, Satu Siklus Pangan” dan meraih predikat Terbaik I Aksi Sekolah Iklim 2026. Inti praktiknya mudah dikenali: sisa sayuran, buah-buahan, dan kulit telur diolah menjadi kompos untuk mendukung penanaman serta pembibitan tanaman.

Nilai pentingnya bukan hanya pada hasil akhir berupa kompos limbah dapur. Siswa belajar memilah bahan, melihat sisa makanan sebagai sumber daya, dan memahami bahwa pilihan pengelolaan sampah dimulai di rumah. Jika kebiasaan ini diterapkan dengan tepat, bahan organik dapat dimanfaatkan kembali dan mendukung siklus pangan yang lebih berkelanjutan di tingkat rumah tangga.

Aksi iklim pelajar seperti ini terasa masuk akal karena tidak menuntut perubahan besar untuk memulai. Kegiatan yang dekat dengan rutinitas keluarga berpeluang lebih mudah diulang dan dibagikan. Kompos tidak menyelesaikan seluruh persoalan iklim, tetapi praktik tersebut mengubah gagasan abstrak tentang keberlanjutan menjadi keterampilan yang bisa dilakukan.

Praktik membuat kepedulian lebih nyata

Kegiatan langsung memberi siswa kesempatan untuk mencoba, menilai hasil, dan memahami alasan di balik sebuah tindakan. Dalam program ini, mereka bukan hanya mendengar bahwa sampah organik perlu dikelola, tetapi ikut mengerjakan solusinya. Pengalaman semacam itu dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan dan membuat kepedulian lebih mungkin terbawa ke luar sekolah.

Pengomposan menjadi satu dari beragam gagasan peserta, bersama pemilahan sampah, pengolahan mangrove menjadi sirup, integrasi budidaya ikan lele, serta pemanfaatan sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis. Ragam tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan lingkungan dapat dimulai dari masalah setempat dan menghasilkan tindakan yang sesuai dengan konteksnya.

Pemerintah Kota Pekalongan menilai aksi kecil yang dilakukan konsisten dapat memberi manfaat jika diterapkan secara luas. Namun, ukuran keberhasilan tidak semestinya berhenti pada penghargaan atau kegiatan satu kali. Sekolah perlu memberi ruang agar praktik itu berlanjut, sementara siswa dapat mengajak teman dan keluarga untuk memilah serta mengolah sampah organik dari sumbernya.

Ukuran keberhasilan ada pada keberlanjutan

Sekolah Iklim 2026 diselenggarakan Kemitraan Indonesia bersama Evorise Consulting (PT Evorise Strategi Lestari) dan Kolaborasi Bareng Anak Muda (KOBAR). Inaugurasi program berlangsung di Hotel Dafam Pekalongan pada Minggu, 25 Oktober 2026, dengan Andrianto dari Bapperida hadir mewakili Wali Kota Pekalongan. Tetapi capaian yang paling berarti bukanlah seremoni penutupnya.

Tantangan sesudah program adalah menjaga agar aksi tidak berhenti ketika pendampingan selesai. Harapan agar siswa menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, mengajak teman sebaya, dan menyebarkan praktik baik ke sekolah, keluarga, serta masyarakat memberi arah yang jelas bagi langkah berikutnya. Pembentukan komunitas pelajar juga diharapkan menjaga konsistensi gerakan dan memperkuat aksi adaptasi perubahan iklim di Pekalongan.

Pengomposan menunjukkan mengapa pendidikan iklim perlu memberi tempat bagi praktik: siswa dapat melihat manfaat tindakannya dan membawanya ke rumah. Jika kebiasaan memilah dan mengolah limbah dapur terus dilakukan serta ditularkan, pelajaran tentang perubahan iklim berubah menjadi kepedulian yang berwujud. Itulah ukuran keberhasilan sekolah iklim yang patut dipertahankan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!