Robotika mengubah teori menjadi pengalaman langsung
Program STEM universitas adalah kemitraan pembelajaran yang membawa konsep sains dan teknologi dari kampus ke ruang sekolah melalui praktik, proyek, dan pemecahan masalah yang dekat dengan kebutuhan nyata. Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, siswa SMK Muhammadiyah Seputih Raman mengunjungi Universitas Teknokrat Indonesia untuk belajar robotika secara langsung. Mereka mempelajari dasar robot, fungsinya, dan penerapannya sebelum merakit robot berkaki dengan pendampingan mahasiswa dari Center of Excellence Robotics dan UKM Robotics. Siswa berhasil merakit tiga robot dan mengendalikannya menggunakan smartphone. Pengalaman ini lebih bernilai daripada demonstrasi yang hanya meminta siswa menonton. Saat merakit dan mengoperasikan robot, mereka bisa melihat hubungan perangkat keras, sistem kendali, dan teknologi digital dalam satu proses. Workshop robotika sekolah seperti ini memberi teori bentuk yang dapat disentuh dan diuji, sekaligus membuka jendela menuju lingkungan perguruan tinggi.

DIGESTA menjadikan kerja kelompok bagian dari pelajaran IPA
Teknologi bukan satu-satunya jalan untuk memperbarui pembelajaran. Dosen Erni Yulianti dan mahasiswa Arnita dari Departemen Pendidikan IPA Universitas Negeri Malang mengembangkan DIGESTA, workbook STEAM untuk materi sistem pencernaan dan pernapasan siswa kelas VIII. Pendekatannya memadukan sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika dengan aktivitas kelompok agar siswa belajar berbagi tanggung jawab, menyampaikan gagasan, dan menghasilkan karya bersama. Alih-alih berhenti pada bacaan dan soal, siswa diajak mengkaji GERD, menghitung kebutuhan kalori harian, dan merancang ilustrasi lingkungan yang mendukung kesehatan. Inilah bentuk pembelajaran STEAM interaktif yang mengaitkan konsep dengan persoalan sehari-hari. Workbook setebal lebih dari 100 halaman itu sedang menjalani pemeriksaan akhir bahasa dan dalam proses pengajuan ISBN. Tim juga merencanakan penyebaran materi lewat poster edukatif dan media sosial.
BIM memperkenalkan cara kerja konstruksi digital
Pada 3 September 2026, dosen dan mahasiswa D4 Teknik Konstruksi Universitas Pekalongan mengenalkan dasar Building Information Modeling (BIM) kepada 22 siswa SMK Negeri 1 Kedungwuni. BIM menggabungkan informasi desain, struktur, material, estimasi biaya, dan tahapan pelaksanaan dalam satu model digital. Berbeda dari gambar dua dimensi yang masih dominan di sekolah, model terpadu ini membantu koordinasi dan deteksi konflik desain dalam proyek konstruksi modern. Kesenjangan antara pembelajaran dan kebutuhan kerja itulah alasan siswa perlu mengenal teknologi ini sejak dini. Kegiatan diawali pre-test, lalu dilanjutkan penyuluhan interaktif tentang manfaat BIM dan peluang karier terkait. Evaluasi pre-test dan post-test menunjukkan rata-rata pengetahuan siswa meningkat 37,26%. Angka itu memberi indikasi bahwa pengenalan langsung dapat menambah pemahaman, meski satu kegiatan belum cukup untuk membangun kompetensi kerja yang matang. Tim berharap program serupa berlanjut ke sekolah kejuruan lain di wilayah Pekalongan.

Kemitraan harus berlanjut setelah kegiatan selesai
Ketiga inisiatif ini menunjukkan bahwa program STEM universitas paling kuat ketika tidak berhenti pada pengenalan alat atau istilah baru. Robotika memberi pengalaman merakit dan mengendalikan, DIGESTA melatih kolaborasi melalui masalah kesehatan, sedangkan BIM memperlihatkan bagaimana data desain terhubung dengan pelaksanaan konstruksi. Semuanya menghubungkan teori akademis dengan penerapan teknologi yang digunakan di dunia kerja. Agar dampaknya bertahan, kemitraan universitas sekolah perlu menyediakan langkah lanjutan: akses pendampingan, proyek berulang, serta dukungan bagi guru. SMK Muhammadiyah Seputih Raman berharap kunjungan menjadi awal kerja sama berupa praktik kerja lapangan, program guru tamu, dan jalur melanjutkan studi. Harapan itu relevan karena sekolah masih menghadapi kekurangan pengajar kompeten untuk materi AI dan teknologi informasi. Kesimpulannya, kunjungan kampus adalah awal yang menjanjikan, tetapi kemitraan rutinlah yang dapat mengubah antusiasme siswa menjadi keterampilan.






