Dukungan harus melampaui kenaikan omzet
Pendampingan UMKM adalah dukungan berkelanjutan yang membantu pelaku usaha mengenali peluang, meningkatkan keterampilan, dan mengelola bisnis agar mampu bertahan serta tumbuh. Gagasan ini penting karena kenaikan omzet saja belum cukup untuk membuat usaha kecil berkembang secara konsisten. Sandiaga Salahuddin Uno, mantan Menteri Ekonomi dan Kreatif, menekankan bahwa pelaku UMKM perlu didampingi untuk berinovasi, memanfaatkan teknologi, mengolah potensi lokal, dan membangun jejaring.
Pendampingan yang baik memberi bekal praktis, bukan sekadar motivasi. Pembelajaran pemasaran digital, pengembangan produk, dan pencatatan keuangan dapat membantu pelaku usaha mengambil keputusan lebih terarah dan memperluas jangkauan pasar. Tanpa kemampuan tersebut, produk yang menarik pun bisa sulit berkembang: pemilik usaha mungkin belum tahu cara menyampaikan keunggulannya, membaca kebutuhan pelanggan, atau menjaga arus keuangan. Karena itu, dukungan semacam ini seharusnya menjadi bagian inti dari program pemberdayaan, bukan kegiatan tambahan yang berhenti setelah pelatihan singkat.
Pengalaman usaha menunjukkan manfaat pendampingan
Kisah Ngatiyem, perintis jamu instan H’Dayah dari Ciawi, memperlihatkan bagaimana pendampingan dapat diterjemahkan menjadi perubahan nyata. Sebelum mengikuti program inkubasi, ia memasarkan produk melalui WhatsApp dan Instagram, tetapi materi promosinya cenderung monoton dan penjualan sempat lesu. Dalam program yang didukung Yayasan Indonesia Setara, ia belajar memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membuat materi promosi lebih beragam.
Menurut Ngatiyem, selama mengikuti inkubasi omzet meningkat dan jumlah reseller bertambah; usahanya kini mencatat omzet sekitar Rp 1,5 juta per minggu. Angka itu bukan jaminan bahwa setiap peserta akan memperoleh hasil serupa, tetapi menunjukkan nilai pendampingan yang langsung menyentuh kebutuhan usaha: memperbaiki cara promosi sekaligus membuka jalur penjualan. Pelajaran pentingnya, promosi produk UMKM tidak cukup dengan hadir di media sosial. Pelaku usaha juga perlu memahami cara membuat pesan yang menarik, menjaga kualitas produk, dan menindaklanjuti minat calon pembeli.
Lapak khusus memberi produk ruang untuk ditemukan
Dukungan kemampuan usaha perlu dilengkapi akses ke pembeli. Pada 5 November 2026, Menko Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar meminta platform e-commerce menyediakan etalase atau lapak khusus UMKM bagi produk UMKM binaan pemerintah saat Harbolnas 2026. Permintaan ini tepat sasaran: produk yang sudah dibina pemerintah tetap membutuhkan ruang tampil di tengah ramainya katalog digital. Tanpa visibilitas, pembeli bisa saja tidak pernah menemukan barang yang layak mereka pertimbangkan.
Harbolnas 2026 dijadwalkan berlangsung pada 10–16 Desember dengan target transaksi Rp 40 triliun. Sebagai pembanding, Harbolnas 2025 mencatat transaksi Rp 36,4 triliun, melampaui target Rp 33–34 triliun; produk lokal menyumbang Rp 16,6 triliun atau sekitar 45,6 persen dari keseluruhan transaksi. Angka-angka itu menunjukkan besarnya peluang, tetapi lapak khusus tidak boleh berhenti sebagai dekorasi kampanye. Platform dan pemerintah perlu memastikan produk binaan mudah ditemukan dan informasi produknya jelas agar perhatian pembeli dapat berujung pada transaksi.

Kemampuan dan visibilitas perlu berjalan beriringan
Pendampingan dan lapak khusus menyelesaikan persoalan yang berbeda. Pendampingan memperkuat kapasitas dari dalam—mulai dari inovasi, pemasaran, hingga pencatatan keuangan—sedangkan etalase e-commerce memperbesar peluang produk terlihat oleh calon pembeli. Yang pertama membantu usaha siap menghadapi pasar; yang kedua membuka pintu menuju pasar itu. Salah satunya saja tidak cukup: produk yang mendapat sorotan tanpa kualitas dan pengelolaan yang siap bisa kehilangan pelanggan, sementara usaha yang terampil tetapi sulit ditemukan akan kesulitan memperluas penjualan.
Muhaimin juga menekankan sinergi pemerintah, asosiasi, dan platform digital agar akses pasar disertai pendampingan untuk meningkatkan kapasitas serta daya saing UMKM. Tindak lanjut kerja sama dengan asosiasi e-commerce dan platform digital menjadi langkah yang perlu dipantau, bukan sekadar diumumkan. Pemerintah dapat menghubungkan pelaku usaha binaan dengan program belajar, sementara platform menyediakan ruang promosi yang mudah diakses dan informatif. Kesimpulannya, pertumbuhan UMKM akan lebih mungkin bertahan jika keterampilan usaha dan visibilitas produk dibangun bersama: pendampingan membuat bisnis lebih siap, dan lapak khusus membantu pembeli menemukannya.







