Kesepakatan yang harus berlanjut menjadi tindakan
WCCE adalah konferensi internasional yang mempertemukan pemerintah dan pelaku ekonomi kreatif untuk menyusun agenda kerja sama serta mendorong kontribusi sektor ini dalam pembangunan global. Penutupannya di Jakarta pada 23 Oktober 2026 menghasilkan pengesahan Jakarta Vision on Creative Economy, dokumen yang merangkum komitmen bersama untuk memajukan ekonomi kreatif global. Nilai kesepakatan itu tidak akan ditentukan oleh seremoni pengesahannya, melainkan oleh tindak lanjut negara-negara peserta setelah pulang. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya berharap gagasan yang disepakati dapat masuk ke resolusi mendatang Majelis Umum PBB, sehingga ekonomi kreatif mendapat suara lebih kuat dalam pembangunan global. Harapan tersebut memberi Jakarta Vision arah yang penting: dokumen ini perlu menjadi pijakan kebijakan dan kolaborasi nyata, bukan berhenti sebagai deklarasi konferensi.

Prioritasnya menyentuh hambatan nyata pelaku kreatif
Jakarta Vision mengarahkan kerja sama internasional pada sejumlah kebutuhan yang menentukan apakah pelaku kreatif bisa tumbuh dan menjangkau pasar global. Prioritasnya mencakup akses inklusif terhadap teknologi dan infrastruktur digital, kolaborasi antarkreator yang berkelanjutan, remunerasi yang adil, perlindungan kekayaan intelektual, serta akses pendanaan dan investasi. Susunan agenda ini patut diperhatikan karena pertumbuhan industri kreatif tidak cukup ditopang oleh kreativitas individu: kreator juga membutuhkan infrastruktur, perlindungan atas karya, dan kesempatan memperoleh imbalan yang layak. WCCE 2026 mempertemukan perwakilan dari lebih dari 82 negara dan tujuh organisasi internasional, termasuk 38 kepala delegasi serta 183 pembicara dan moderator. Skala partisipasi tersebut memberi bobot pada kesepakatan, tetapi ukuran keberhasilannya tetap pada apakah prioritas itu membuka peluang yang lebih luas bagi pelaku industri.
Glasgow menerima estafet kolaborasi
Glasgow, Skotlandia, Inggris, ditetapkan sebagai tuan rumah WCCE 2028. Peralihan ini sebaiknya dipandang sebagai kelanjutan kerja, bukan sekadar pergantian lokasi: forum berikutnya diharapkan memperkuat ekosistem ekonomi kreatif dan memperluas kontribusinya pada pembangunan yang berkelanjutan serta inklusif. Perwakilan British Council, Summer Xia, menyampaikan bahwa Inggris ingin ekonomi kreatif menjadi penggerak pembangunan tanpa meninggalkan siapa pun, sekaligus menyambut kesempatan untuk meneruskan kolaborasi yang dibangun di Jakarta. Tantangan bagi Glasgow adalah menjaga agar agenda Jakarta Vision tetap hidup dalam pembahasan dan kerja sama lintas negara. Jika hubungan antara kesepakatan dan pelaksanaan dipertahankan, WCCE 2028 dapat membantu membangun kolaborasi ekonomi kreatif global yang lebih terarah dan memberi manfaat kepada lebih banyak pihak.
Ukuran konferensi besar, ukuran dampak ada pada tindak lanjut
WCCE 2026 berlangsung pada 21–23 Oktober dengan 7.639 peserta, sementara Creativillage mencatat lebih dari 20.000 pengunjung. Angka-angka itu menunjukkan jangkauan acara, bukan dengan sendirinya bukti bahwa komitmen bersama telah menghasilkan perubahan. Konferensi ini mempertemukan pelaku ekonomi kreatif, pembuat kebijakan, pebisnis, akademisi, dan peneliti dari berbagai negara; kini mereka memiliki agenda bersama yang perlu diterjemahkan menjadi kerja konkret. Bagi kreator dan pelaku industri, fokus berikutnya semestinya jelas: akses teknologi, perlindungan karya, imbalan adil, dan pembiayaan yang lebih terbuka. Jakarta Vision memberi kerangka, sedangkan pertemuan di Glasgow menjadi kesempatan berikut untuk menguji kesinambungan komitmen. Kesimpulannya, keberhasilan WCCE tidak diukur hanya dari besarnya forum, tetapi dari kerja sama yang bertahan setelahnya dan manfaat yang dirasakan pelaku kreatif.






