Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

WCCE di Jakarta: Lompatan Besar Menuju Ekonomi Kreatif Global

WCCE di Jakarta: Lompatan Besar Menuju Ekonomi Kreatif Global
Minat|Asia Tenggara

WCCE di Jakarta: Bukan Sekadar Konferensi, Tapi Deklarasi Ambisi

World Conference on Creative Economy (WCCE) adalah konferensi internasional yang menghimpun pelaku ekonomi kreatif, diplomat, dan mitra bisnis lintas negara untuk merumuskan arah kebijakan, kolaborasi bisnis kreatif, serta visi bersama pengembangan ekonomi kreatif global yang inklusif dan berkelanjutan melalui dialog, jejaring, dan komitmen kerja sama konkret. Di Jakarta, WCCE ke-5 berubah dari agenda rutin menjadi deklarasi ambisi: kota ini ingin diakui sebagai hub ekonomi kreatif Asia Tenggara. Dengan 1.567 peserta dari 51 negara dan tujuh organisasi internasional yang telah mengonfirmasi hadir, skala forum ini secara terang menunjukkan bahwa Jakarta tidak lagi bermain di liga lokal. Pertanyaannya bukan apakah kota ini siap, melainkan apakah ekosistem kreatif dan kebijakan publik berani memanfaatkan momentum ini untuk lompatan nyata, bukan sekadar seremoni.

Diplomasi Bertemu Ekonomi Kreatif: Platform Kolaborasi yang Lama Dinantikan

Kekuatan utama WCCE 2026 Jakarta adalah pertemuan tiga dunia: ekonomi kreatif, diplomasi, dan kolaborasi global. Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif bersama Kementerian Luar Negeri menggelar Pre-WCCE Networking Reception sebagai pemanasan, sekaligus uji coba platform jejaring internasional bagi pelaku industri kreatif. Di sini, diplomat tidak lagi hanya bicara protokol, tetapi ikut membuka akses pasar dan investasi bagi pelaku kreatif melalui jalur resmi. Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno menegaskan dukungan Kemlu untuk memperkuat kolaborasi antara diplomat, mitra internasional, dan pelaku industri kreatif, sebuah pernyataan yang menempatkan ekonomi kreatif sebagai bagian serius dari agenda luar negeri. Jika sinergi ini konsisten, WCCE bisa menjadi model bagaimana konferensi internasional berubah menjadi mesin kolaborasi bisnis kreatif yang berkelanjutan, bukan sekadar ajang foto bersama.

Jakarta Vision on Creative Economy: Ambisi Besar yang Menuntut Konsistensi

Tema WCCE 2026, "Inclusively Creative: Collective Continuity", diarahkan untuk melahirkan Jakarta Vision on Creative Economy sebagai agenda kerja sama internasional. Dokumen ini tidak boleh berhenti sebagai jargon; ia mencakup empat fokus strategis yang sangat konkret: teknologi dan kecerdasan buatan, keberlanjutan dan ekonomi sirkular, kekayaan intelektual dan hak pekerja kreatif, serta inklusivitas dan pemberdayaan komunitas. Jika dijalankan serius, visi ini bisa menggeser posisi Jakarta dari sekadar tuan rumah acara menjadi perumus norma baru ekonomi kreatif global. Namun di sinilah tantangannya: komitmen terhadap hak pekerja kreatif dan inklusivitas sering kali berbenturan dengan kepentingan jangka pendek. Jakarta harus berani menjadikan visi ini sebagai standar kebijakan lokal—mulai dari regulasi hak cipta hingga insentif bagi praktik ekonomi sirkular—agar tidak kehilangan legitimasi di mata para peserta konferensi internasional yang datang dengan ekspektasi tinggi.

Dari IT&CM Asia ke WCCE: Jakarta Menguji Klaim Sebagai Kota MICE Kelas Dunia

Partisipasi Jakarta dalam ajang Incentive Travel & Conventions, Meetings Asia (IT&CM Asia) 2026 di Bangkok pada 22–24 September di Centara Grand & Bangkok Convention Centre at CentralWorld adalah bagian dari strategi jangka panjang memperkuat pasar MICE. Kepala Disparekraf DKI, Andhika Permata, menegaskan bahwa "Jakarta bukan lagi sekadar gerbang masuk, tetapi juga destinasi yang siap menjadi tuan rumah bagi berbagai acara internasional berskala besar". Keterlibatan 14 pelaku industri pariwisata—dari operator tur, DMC, perhotelan, wellness, asosiasi, hingga penyedia venue—menunjukkan bahwa ekosistem pendukung sudah mulai dirajut. Namun, sumber yang sama mengingatkan bahwa daya saing sebagai destinasi MICE tidak cukup dibangun melalui promosi; tindak lanjut pertemuan bisnis, realisasi kemitraan, dan peningkatan jumlah event internasional menjadi indikator nyata dampak terhadap pariwisata dan ekonomi kota. WCCE di Jakarta adalah ujian besar atas klaim tersebut.

Momentum Ekonomi Kreatif Asia Tenggara: Jakarta Harus Berani Menjadi Penghubung

Rangkaian utama WCCE di Hotel Indonesia Kempinski dan CGV Grand Indonesia—mulai pertemuan negara sahabat, pertemuan tingkat menteri, sesi pleno, diskusi kreatif, hingga penjajakan kemitraan bisnis antarpelaku usaha—menciptakan ruang konkret bagi kolaborasi bisnis kreatif lintas negara. Ditambah Creativillage dan WCCE Weekland di kawasan SCBD yang menghadirkan subsektor seperti arsitektur, desain, fesyen, film, musik, gim, dan kuliner, Jakarta sedang memposisikan diri sebagai etalase ekonomi kreatif Asia Tenggara. Penyelenggaraan WCCE diharapkan menghasilkan kemitraan konkret, memperluas akses pasar, serta membuka peluang investasi bagi industri kreatif nasional, sekaligus terhubung dengan peringatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional melalui gerakan OktoberKreasi. Kesimpulannya jelas: jika jejaring yang terbentuk di WCCE dijaga dan ditindaklanjuti, Jakarta bukan hanya hub acara, tetapi simpul strategis ekonomi kreatif global. Jika tidak, semua ini akan tinggal menjadi kalender event yang megah namun hampa.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!