Ruang bersama, bukan garis pemisah
Ekonomi kreatif adalah kegiatan ekonomi yang bertumpu pada gagasan, keterampilan, dan ekspresi untuk menghasilkan nilai, sekaligus membuka ruang bagi masyarakat dengan latar berbeda untuk berkarya dan berkolaborasi. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menegaskan sektor ini perlu menjadi ruang pemersatu tanpa membedakan ras, suku, dan agama. Seruan itu disampaikan dalam The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di SCBD Jakarta, yang berlangsung pada 21–25 Oktober 2026. Pesan tersebut patut dibaca sebagai tuntutan, bukan slogan: karya kreatif semestinya mempertemukan orang, bukan mengubah identitas menjadi sekat. Namun, persatuan tidak lahir dari pesan panggung saja. Ia perlu tampak dalam kesempatan yang terbuka bagi kreator, pelaku usaha, dan komunitas yang selama ini mungkin tak memiliki akses setara ke pasar maupun dukungan.

Kolaborasi harus menghasilkan akses
Irene menekankan ekonomi kreatif tidak tumbuh dalam ruang terpisah. Pemerintah, pelaku usaha, kreator, komunitas, akademisi, investor, dan mitra internasional perlu bekerja bersama untuk membuka akses pasar, investasi, teknologi, serta pengembangan kekayaan intelektual. Di sinilah sinergi lintas sektor menjadi lebih dari jargon: kolaborasi dapat membuka investasi dan memperluas adopsi teknologi modern, dua hal yang menentukan apakah ide dapat berkembang menjadi usaha berkelanjutan. WCCE 2026, karena itu, sebaiknya dinilai dari hubungan dan tindak lanjut yang tercipta, bukan jumlah dialog semata. Tanpa akses nyata, ajakan inklusif berisiko berhenti sebagai pernyataan baik. Dengan kemitraan yang melibatkan beragam pihak, peluang agar kreator kecil menjangkau pasar dan menggunakan teknologi lebih luas menjadi lebih masuk akal.

Pasar kreatif dan dampak bagi warga
Pasar Wiwitan di SCBD memberi contoh bagaimana gagasan inklusif bisa bertemu kegiatan ekonomi sehari-hari. Pasar kreatif itu melibatkan lebih dari 200 UMKM lokal dan menjadi bagian dari semangat WCCE 2026. Kreator konten sekaligus pegiat kemanusiaan Ferry Irwandi berharap UMKM di sana mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan, dan membantu pelaku usaha informal beralih ke sektor formal. Harapan itu penting karena ukuran keberhasilan ekonomi kreatif bukan hanya perhatian internasional, melainkan manfaat yang dirasakan warga: pekerjaan, penghasilan yang lebih baik, dan jalur usaha yang lebih stabil. Pasar semacam ini belum otomatis menjamin hasil tersebut. Namun, jika jejaring dan dukungan berlanjut setelah acara, ruang berjualan dapat menjadi pijakan bagi usaha lokal untuk tumbuh.
Dari visi menuju kerja nyata
Perumusan Jakarta Vision on Creative Economy dimaksudkan untuk memperkuat posisi ekonomi kreatif dalam agenda pembangunan global pasca-2030 serta mengangkat kontribusi sosial-ekonominya. Visi ini akan bernilai jika diterjemahkan menjadi langkah yang bisa dirasakan kreator dan UMKM: akses pasar yang terbuka, kemitraan lintas sektor, dan pemanfaatan teknologi yang sesuai kebutuhan. Seruan Irene Umar menawarkan arah yang jelas—karya kreatif dapat menjadi jembatan antaridentitas, bukan alasan untuk memperlebar perbedaan. Tantangannya kini ialah menjaga agar semangat pemersatu itu hadir dalam praktik dan pembagian peluang, bukan hanya dalam tema konferensi. Ekonomi kreatif layak disebut ruang bersama ketika beragam orang bukan sekadar diundang, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk berkontribusi dan berkembang. Di situlah persatuan memperoleh bentuk yang nyata.






