Dari sektor pelengkap menjadi penggerak
Ekonomi kreatif adalah kegiatan ekonomi yang bertumpu pada kreativitas dan karya untuk menghasilkan nilai, pekerjaan, serta pertumbuhan bagi masyarakat. Perubahan perannya menjadi penggerak ekonomi membuat kerja sama lintas negara semakin penting, bukan sekadar pelengkap konferensi.
WCCE 2026 dibuka di Jakarta sebagai penanda kebangkitan sektor yang kini dipandang berkontribusi pada pertumbuhan nasional maupun global. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa ekonomi kreatif bukan lagi sektor tambahan, melainkan bagian penting dari masa depan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional serta dunia. Pernyataan itu sejalan dengan skala sektor ini: ekonomi kreatif menyerap hingga 27,4 juta tenaga kerja aktif dan menyumbang 7,38% terhadap PDB nasional.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kebijakan kreatif berdampak langsung pada penghidupan banyak orang. Karena itu, pembahasan internasional tentang akses pasar, teknologi, dan pembiayaan seharusnya dinilai dari manfaatnya bagi pekerja dan pelaku usaha, bukan hanya dari dokumen yang dihasilkan.

Jakarta Vision mengangkat agenda kolaborasi
Jakarta Vision merangkum gagasan strategis yang dibahas dalam WCCE 2026. Konferensi tersebut mengumpulkan lebih dari 6.100 peserta lintas negara untuk membicarakan tiga kebutuhan ekosistem kreatif: adaptasi terhadap kecerdasan buatan, pertumbuhan inklusif, serta perluasan akses pembiayaan untuk komersialisasi kekayaan intelektual.
Nilai utama dokumen ini terletak pada upayanya menempatkan kolaborasi ekonomi kreatif sebagai agenda lintas negara. Tantangan seperti akses teknologi dan pengembangan pasar tidak berhenti di perbatasan, sehingga respons bersama lebih masuk akal daripada strategi yang berjalan sendiri-sendiri. Jakarta Vision juga mencerminkan aspirasi pemangku kepentingan industri kreatif, terutama dari negara-negara di belahan bumi selatan.
Namun, kesepakatan hanya berarti jika diterjemahkan menjadi peluang nyata. Pekerja kreatif perlu menjadi pusat kebijakan, sementara akses digital harus menjangkau lebih banyak orang. Teuku Riefky Harsya menyatakan bahwa AI dan teknologi semestinya memperkuat kreativitas, bukan menggantikannya, dan akses terhadap teknologi serta infrastruktur digital perlu dibuat lebih inklusif.
Ukuran keberhasilan ada pada tindak lanjut
Pertumbuhan ekonomi kreatif memberi alasan kuat untuk menganggap serius kerja sama internasional. Pada 2025, investasi sektor ini mencapai Rp183 triliun. Besarnya aktivitas ekonomi itu memperlihatkan bahwa kreativitas bukan hanya urusan ekspresi budaya: sektor ini juga membuka pekerjaan dan membentuk jalur pertumbuhan. Karena itu, ekonomi kreatif global membutuhkan aturan dan dukungan yang memungkinkan pelaku di berbagai negara berpartisipasi, bukan hanya perusahaan dengan akses teknologi dan modal yang sudah mapan.
Langkah berikutnya yang disebutkan adalah membawa Jakarta Vision ke Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada akhir 2026. Tahap itu dapat memperluas perhatian terhadap agenda kreatif, tetapi pengaruhnya tetap bergantung pada tindak lanjut: apakah kolaborasi membuka akses pembiayaan, membantu komersialisasi kekayaan intelektual, dan memastikan teknologi memperluas ruang berkarya.
Kesimpulannya, WCCE 2026 memberi sinyal penting bahwa pertumbuhan kreatif perlu dibangun bersama. Jakarta Vision akan bernilai bukan karena nama atau jangkauan diplomatiknya, melainkan jika kesepakatan tersebut menghasilkan manfaat yang terukur bagi pekerja kreatif dan masyarakat.






