Literasi keuangan pelajar: dari teori kelas ke kebiasaan hidup
Literasi keuangan pelajar adalah upaya sistematis untuk membekali siswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan mengelola uang, mulai dari menabung, menggunakan rekening tabungan siswa, hingga memahami risiko produk keuangan, supaya mereka mampu mengambil keputusan finansial mandiri dan bertanggung jawab sepanjang hidupnya. Di ruang kelas, topik ini sering berhenti sebagai materi tambahan. Namun melalui rangkaian Hari Indonesia Menabung dan Bulan Literasi Keuangan yang mengangkat tema “Merajut Masa Depan melalui Literasi dan Inklusi Keuangan”, otoritas dan industri membawanya keluar dari buku pelajaran ke praktik nyata di sekolah. Pendekatan ini bukan sekadar kampanye gaya hidup hemat, tetapi strategi jangka panjang membentuk pola pikir finansial generasi muda yang selama ini tertinggal dari capaian literasi nasional meski angka nasional sudah menyentuh 69,57 persen untuk literasi dan 93,61 persen untuk inklusi keuangan.

Rekening pelajar dan program KEJAR: menabung kecil, dampaknya besar
Jika dulu menabung identik dengan celengan di rumah, kini rekening tabungan siswa menjadi pintu masuk kemandirian finansial sejak bangku sekolah. Melalui Program Satu Rekening Satu Pelajar (program KEJAR bank), OJK bersama industri keuangan mendorong perluasan kepemilikan rekening dan pembentukan kebiasaan menabung di kalangan pelajar. Sepanjang September 2025 hingga Juni 2026, telah dibuka 679.000 rekening pelajar baru—angka yang menunjukkan menabung bukan lagi wacana, tetapi perilaku yang difasilitasi secara sistematis. Menurut Ketua Dewan Komisioner OJK, “menabung sejak dini sangat penting untuk masa depan kalian… supaya uangnya banyak, kita harus menabung sedikit demi sedikit”. Di balik angka tersebut ada agenda yang lebih strategis: menjadikan rekening pelajar sebagai alat mengajar disiplin, perencanaan tujuan, dan rasa memiliki atas keuangan sendiri, terutama bagi siswa dari keluarga prasejahtera di Sekolah Rakyat yang kini diprioritaskan sebagai entry point inklusi keuangan sekolah.

Bank Jakarta dan BRK Syariah: sekolah bukan lagi penonton dunia perbankan
Program KEJAR akan kosong tanpa bank yang bersedia turun langsung ke sekolah. Bank Jakarta menjadikan pelajar sebagai segmen strategis melalui Tabungan SimPel, produk yang secara eksplisit dirancang untuk menggabungkan rekening tabungan siswa dengan literasi keuangan pelajar dan kebiasaan menabung. Pengakuan datang lewat KEJAR Award sebagai bank implementasi KEJAR terbaik serta posisinya sebagai finalis Bank Goes to School, menegaskan bahwa inklusi keuangan sekolah kini memiliki standar kinerja tersendiri. Di sisi lain, BRK Syariah memilih membalik skenario: bukan bank yang datang ke sekolah, tetapi sekolah yang datang ke bank. Program School Goes To Bank di Batam melibatkan sekitar 220 siswa dari berbagai jenjang yang diajak melihat langsung fungsi bank syariah, pentingnya menabung, dan layanan yang mereka bisa gunakan. Pendekatan kunjungan ini mengubah bank dari lembaga yang terasa abstrak menjadi tempat yang konkret, bisa dikunjungi, ditanya, dan dipahami, sehingga dunia perbankan masuk akal bagi anak usia TK hingga SMA.
Metode interaktif dan edukasi investasi Gen Z ala Allianz
Generasi Z hidup di tengah banjir informasi finansial. Dalam konteks ini, edukasi investasi Gen Z tidak cukup menjelaskan apa itu saham atau reksa dana; mereka perlu dilatih mengambil keputusan, memahami risiko, dan menyaring informasi. Allianz Indonesia menjawab tantangan ini dengan metode interaktif: board game, simulasi pengambilan keputusan, diskusi kelompok, kuis, studi kasus, hingga pengalaman membuat konten edukasi. Melalui Allianz Smart Plan Board Game dan Smart Financing: Financial Race, pelajar SMA/SMK diajak mengelola arus kas, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta melihat sendiri konsekuensi keputusan konsumsi terhadap tujuan finansial. Program Smart Money Habits memperluas cakupan ke risiko finansial digital seperti penipuan, penyalahgunaan data, informasi investasi menyesatkan, dan FOMO yang sering memicu keputusan tergesa-gesa. Pendekatan ini menggeser fokus literasi keuangan pelajar dari sekadar “bagaimana mengatur uang” menjadi “bagaimana melindungi diri saat berhadapan dengan risiko finansial dan informasi yang meragukan”.
Penghargaan dan agenda jangka panjang: menabung sebagai gerakan nasional
Upaya menanamkan literasi keuangan pelajar tidak berhenti pada program; ia dipertegas dengan ekosistem penghargaan dan agenda nasional. Dalam puncak Hari Indonesia Menabung dan Bulan Literasi Keuangan di sebuah sekolah menengah di Bekasi yang diikuti lebih dari 1.100 pelajar dan mahasiswa, otoritas memberikan KEJAR Award dan Financial Literacy Award sebagai pengakuan atas pihak yang aktif membangun budaya menabung dan edukasi finansial. KEJAR Award ditujukan bagi bank, sekolah, dan pemerintah daerah yang agresif membuka rekening, menggelar sosialisasi, dan menguatkan program KEJAR, sementara Financial Literacy Award mengapresiasi pelaku usaha jasa keuangan, pemerintah daerah, duta literasi, dan komunitas yang mendorong literasi keuangan. Di balik seremoni, ada komitmen jangka panjang: sinergi lintas lembaga akan terus diperkuat untuk memampukan masyarakat memanfaatkan produk keuangan secara tepat dan memahami risiko ekonomi digital, dengan target besar membentuk generasi yang terliterasi, inklusif, dan berdaya secara finansial menuju visi Indonesia Emas 2045.






