Dari Rekening Pelajar KEJAR hingga Game SURVIVE: Sekolah Membangun Budaya Menabung

Dari Rekening Pelajar KEJAR hingga Game SURVIVE: Sekolah Membangun Budaya Menabung
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Budaya Menabung Bukan Lagi Teori: Sekolah Jadi Laboratorium Keuangan

Budaya menabung dan literasi keuangan pelajar adalah upaya sistematis menjadikan sekolah sebagai ruang belajar praktik finansial, di mana siswa tidak hanya memahami konsep uang, tabungan, dan risiko, tetapi juga memiliki rekening pelajar, mengikuti program menabung sekolah, serta menggunakan game literasi keuangan yang membuat keputusan finansial terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Pendekatan ini menggabungkan edukasi finansial siswa, akses ke produk keuangan, dan pengalaman digital interaktif untuk membentuk kebiasaan mengelola uang yang sadar, aman, dan berorientasi masa depan. Intinya, menabung sejak sekolah bukan soal menyuruh anak menyisihkan uang tanpa konteks, melainkan membangun pola pikir finansial yang terhubung dengan cita-cita, perlindungan diri, dan kemampuan mengambil keputusan. Di titik inilah rekening pelajar KEJAR, pelatihan langsung dari otoritas keuangan, dan inovasi digital mulai membentuk ekosistem baru: keuangan diperlakukan sebagai keterampilan hidup yang harus dilatih, bukan sekadar mata pelajaran tambahan.

Program KEJAR dan Rekening Pelajar: Tabungan Kecil, Disiplin Besar

Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) mengubah menabung dari slogan menjadi tindakan konkret: siswa difasilitasi memiliki rekening pelajar dan diajak membangun kebiasaan menabung sejak dini melalui nominal kecil yang konsisten. Ketika otoritas keuangan menegaskan bahwa menabung tidak harus menunggu uang banyak, pesan pentingnya adalah disiplin lebih berharga daripada jumlah awal. Dalam momentum Hari Indonesia Menabung dan Bulan Literasi Keuangan yang digelar di sebuah sekolah menengah atas, lebih dari 1.100 pelajar dan mahasiswa diajak melihat menabung sebagai bekal kemandirian finansial, bukan sisa uang yang kebetulan tidak dipakai. Rekening pelajar KEJAR dan produk tabungan pelajar seperti SimPel diperkenalkan sebagai bagian dari program menabung sekolah yang terstruktur, sehingga literasi keuangan pelajar ditopang oleh kebiasaan nyata: menyimpan uang secara berkala, memisahkan kebutuhan dan keinginan, serta melindungi data pribadi agar transaksi tetap aman.

Pelatihan Langsung: Ketika Literasi Keuangan Turun ke Ruang Kelas dan Kampung

Pendekatan pelatihan langsung menunjukkan bahwa edukasi finansial siswa tidak cukup diserahkan pada modul di atas kertas. Di Rioribati, Halmahera Barat, 220 pelajar Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 mengikuti edukasi literasi dan inklusi keuangan sebagai puncak Hari Indonesia Menabung di wilayah tersebut. Ini bukan seremoni, melainkan ruang di mana siswa berdiskusi tentang risiko kejahatan digital, peran bank sentral, dan makna uang negara yang dialokasikan melalui anggaran publik. Sejak Januari, otoritas keuangan di provinsi itu sudah menggelar lebih dari 31 kegiatan edukasi keuangan di 10 kabupaten dan kota, termasuk wilayah kepulauan yang harus ditempuh berjam-jam lewat laut. Fakta ini menunjukkan keseriusan: literasi keuangan pelajar dipandang sebagai hak, bukan privilese bagi yang tinggal di kota. Sebagai tindak lanjut, pelajar difasilitasi membuka rekening tabungan pelajar melalui dukungan bank umum, agar materi yang mereka terima langsung bertransformasi menjadi kebiasaan menabung, meski hanya Rp2.000 hingga Rp5.000 per hari.

Game SURVIVE: Gamifikasi untuk Mengajari Uang dan Usaha Mikro

Inovasi digital memperluas makna literasi keuangan pelajar melalui gamifikasi. Dua siswi SMA Negeri 28 Jakarta mengembangkan SURVIVE (Smart Urban Resilient Youth Integrated Financial & Venture Education), sebuah game literasi keuangan interaktif yang dirancang untuk membantu remaja mempelajari pengelolaan uang dan perencanaan usaha mikro secara kontekstual. Game ini diuji di sebuah taman baca di Kampung Pemulung, menargetkan remaja rentan yang belum terjangkau edukasi finansial dan kewirausahaan yang relevan dengan keseharian mereka. Melalui kuis, tantangan, dan simulasi keputusan, pemain belajar membedakan kebutuhan dan keinginan, menabung, menghadapi risiko keuangan, menghitung modal dan keuntungan, serta menyusun strategi usaha sederhana. SURVIVE sengaja tidak berhenti sebagai hiburan: ia mensimulasikan kehidupan ekonomi remaja sasaran, memaksa mereka melihat konsekuensi tiap pilihan finansial. Validasi dari praktisi perbankan dan akademisi memastikan materi usaha, pencatatan keuangan, dan perencanaan finansial sederhana di dalam game tetap akurat sekaligus mudah dipahami.

Dari Rekening Pelajar KEJAR hingga Game SURVIVE: Sekolah Membangun Budaya Menabung

Hari Menabung sebagai Momentum, Bukan Sekali Ramai Lalu Sunyi

Hari Indonesia Menabung seharusnya dibaca sebagai titik start, bukan puncak satu hari yang segera dilupakan. Perayaan di berbagai sekolah, mulai dari Sekolah Rakyat di Bekasi hingga kampus dan ruang komunitas, menunjukkan upaya nasional memperkuat literasi dan inklusi keuangan generasi muda melalui kolaborasi antara sekolah, otoritas keuangan, dan industri jasa keuangan. Secara nasional, tingkat literasi keuangan mencapai 69,57 persen dan inklusi 93,61 persen, tetapi segmen pelajar dan mahasiswa masih tertinggal dari angka tersebut. Itu artinya: pekerjaan rumah masih besar. Ke depan, ekosistem ideal bukan lagi sekadar punya rekening pelajar KEJAR, tetapi juga punya pengalaman belajar dari pelatihan langsung dan game literasi keuangan seperti SURVIVE. Jika sekolah berani menjadikan uang sebagai tema diskusi terbuka—bukan hal yang tabu—maka kemandirian finansial bisa dibangun dari bangku kelas. Kesimpulannya tegas: menabung dan melek finansial adalah hak generasi muda, dan tugas sekolah serta lembaga keuangan adalah memastikan hak itu benar-benar terwujud dalam kebiasaan, bukan hanya slogan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!