Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

17,4 Ton Bahan Semai Dikerahkan untuk Tekan Karhutla dan Kabut Asap

17,4 Ton Bahan Semai Dikerahkan untuk Tekan Karhutla dan Kabut Asap
Minat|Asia Tenggara

Modifikasi cuaca sebagai dukungan, bukan jalan pintas

Modifikasi cuaca adalah upaya mengubah kondisi atmosfer melalui penyemaian bahan tertentu agar awan yang sesuai lebih berpeluang menghasilkan hujan; keberhasilannya bergantung pada keadaan meteorologis, bukan semata jumlah bahan yang ditebar. Prinsip itu penting saat menilai operasi penanganan karhutla: penyemaian dapat membantu, tetapi tidak menggantikan pemadaman langsung dan pencegahan kebakaran. Pada Kamis, 22 Oktober 2026, TNI mengerahkan total 17,4 ton bahan semai untuk mendukung operasi modifikasi cuaca di Palembang, Sumatera Selatan, dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Muatannya terdiri atas 7,2 ton es kering dan 10,2 ton garam semai berupa natrium klorida. Enam sorti pesawat Hercules diberangkatkan dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma. Es kering ditujukan membantu mengangkat dan menyebarkan kabut asap dekat permukaan, sementara garam semai mendukung pembentukan awan hujan. Skala pengerahan ini menunjukkan keseriusan respons, tetapi dampaknya perlu diukur dari perubahan cuaca dan kondisi kebakaran di lapangan.

17,4 Ton Bahan Semai Dikerahkan untuk Tekan Karhutla dan Kabut Asap

Palembang: sekitar 10 ton untuk mendorong pembentukan hujan

Di Palembang, misi udara pada Minggu, 25 Oktober, mengerahkan sekitar 10 ton bahan semai yang secara khusus diarahkan untuk mendukung pembentukan awan hujan. Rinciannya mencakup 800 kilogram es kering yang disebarkan dalam satu sorti pesawat Cassa N-212, serta 9,2 ton garam semai melalui enam sorti penerbangan. Operasi melibatkan pesawat Hercules C-130 dan Cassa N-212 milik TNI AU serta pesawat sipil Caravan. Fokus pada hujan masuk akal karena curah hujan dapat membantu mengurangi kekeringan dan menekan risiko api meluas. Namun, bahan semai awan bukan tombol untuk menurunkan hujan sesuai jadwal. Kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang cocok tetap menentukan hasil, sehingga pengerahan pesawat tidak boleh diperlakukan sebagai bukti bahwa titik api otomatis padam. Untuk warga yang menghadapi karhutla Palembang dan kabut asap, ukuran keberhasilan yang paling berarti adalah berkurangnya kebakaran serta membaiknya kualitas udara, bukan banyaknya bahan yang sudah diterbangkan.

17,4 Ton Bahan Semai Dikerahkan untuk Tekan Karhutla dan Kabut Asap

Koordinasi TNI dan BMKG perlu berujung pada dampak nyata

TNI dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan operasi di Palembang pada 24 Oktober, dengan 10,4 ton bahan semai yang terdiri atas 1,6 ton es kering dan 8,8 ton garam. Es kering digunakan untuk membantu mengurai lapisan atmosfer yang menghambat penyebaran asap, sedangkan garam ditujukan untuk merangsang pembentukan awan hujan. Rincian ini berbeda dari misi sekitar 10 ton pada 25 Oktober, sehingga kedua pengerahan sebaiknya dipahami sebagai catatan operasi pada hari yang berlainan, bukan angka yang saling menggantikan. Kerja sama TNI dan BMKG penting karena dukungan pesawat perlu dipadukan dengan pemantauan cuaca dan kebutuhan wilayah. Namun, operasi udara hanya satu bagian dari penanganan: pemadaman di darat dan perlindungan warga tetap menentukan respons menyeluruh. TNI menyatakan akan terus mendukung modifikasi cuaca bersama BMKG dan tim gabungan. Kelanjutan itu patut dinilai dari dampaknya terhadap kebakaran, sebaran kabut asap, dan kualitas udara, bukan dari intensitas pengerahan saja.

Hujan diharapkan, tetapi hasil tidak bisa dijamin

Operasi modifikasi cuaca layak dipandang sebagai alat bantu darurat, bukan solusi tunggal untuk karhutla. Hujan yang terbentuk dapat membantu proses pemadaman dan menekan dampak kekeringan, sementara penggunaan es kering ditujukan untuk membantu mengurai kabut asap. Manfaat itu penting bagi masyarakat, tetapi baru terasa jika kondisi atmosfer mendukung dan langkah di udara tersambung dengan penanganan di lapangan. Karena itu, pengerahan 17,4 ton ke Palembang dan Banjarmasin serta misi sekitar 10 ton di Palembang menunjukkan kapasitas mobilisasi, bukan jaminan api segera padam atau asap langsung hilang. Kesimpulannya, TNI dan BMKG memiliki peran berarti dalam memperkuat respons, tetapi keberhasilan harus diukur lewat hasil yang dirasakan warga: kebakaran terkendali, paparan asap menurun, dan kualitas udara membaik. Pemantauan kondisi serta koordinasi lintas instansi perlu diteruskan selama ancaman masih ada.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!