Nilai besar belum berarti target tercapai
Realisasi investasi daerah adalah nilai penanaman modal yang tercatat dalam periode tertentu, sementara persentase pencapaian target mengukur kemajuan nilai itu dibandingkan sasaran tahunan. Hingga triwulan III 2026, perbedaan kedua ukuran ini tampak jelas: Bali membukukan nilai lebih besar, tetapi Tangerang telah melewati targetnya. Investasi Kota Tangerang mencapai Rp 18,12 triliun, setara 120 persen dari target tahunan Rp 15,15 triliun. Bali mencatat Rp 30,80 triliun, tetapi angka tersebut baru sekitar 64 persen dari target Rp 47,93 triliun. Jadi, membandingkan nominal saja akan menutupi pertanyaan yang lebih penting bagi evaluasi kinerja: seberapa jauh capaian berjalan terhadap sasaran masing-masing? Pada ukuran itu, posisi kedua daerah berlawanan dengan urutan nilai investasinya.
Tangerang memiliki keunggulan dalam memenuhi target investasi 2026, tetapi itu tidak berarti nilai investasinya melampaui Bali. Sebaliknya, total Bali lebih tinggi, sementara target tahunannya juga jauh lebih besar. Perbandingan yang adil harus memisahkan skala nominal dari kemajuan terhadap target, bukan menyamakan keduanya. Kedua daerah masih memiliki triwulan IV, sehingga angka hingga September menggambarkan posisi sementara, bukan hasil akhir tahun.

Tangerang melampaui sasaran lebih awal
Capaian Tangerang bukan hanya hasil satu lonjakan pada akhir periode. Realisasi per triwulan bergerak naik: Rp 5,45 triliun pada triwulan I, Rp 6,28 triliun pada triwulan II, lalu Rp 6,39 triliun pada triwulan III. Kenaikan bertahap ini memberi dasar yang lebih kuat bagi optimisme akhir tahun daripada sekadar mengandalkan angka akumulasi. Kepala DPMPTSP Kota Tangerang, Sugihharto Achmad Bagdja, menyebut capaian tersebut mencerminkan perkembangan positif kegiatan penanaman modal dan pelaporan usaha.
Pemerintah kota memperkirakan realisasi masih dapat bertambah pada triwulan IV dan optimistis total tahunan mendekati Rp 20 triliun atau lebih. Namun, proyeksi itu belum menjadi hasil; angka akhir tetap bergantung pada kegiatan usaha yang berlangsung hingga Desember. Investasi Tangerang juga datang dari beragam bidang, antara lain jasa lainnya, farmasi, telekomunikasi, pergudangan, perdagangan dan jasa, industri makanan, serta perumahan. Sebaran tersebut menjadi kekuatan, meski angka keseluruhan tetap perlu dibaca bersama mutu dan konsistensi realisasi.
Bali punya nilai lebih besar, tetapi tantangan pemerataan
Investasi Bali mencapai Rp 30,80 triliun hingga triwulan III, tetapi masih menyisakan sekitar 36 persen dari target tahunan Rp 47,93 triliun. Kepala DPMPTSP Provinsi Bali, I Ketut Sukra Negara, tetap optimistis sasaran 2026 dapat tercapai. Optimisme itu perlu diuji oleh laju investasi pada triwulan terakhir, terlebih sumber berita juga mencatat sedikit perlambatan akibat pembatasan sejumlah klasifikasi usaha melalui sistem OSS, terutama pada kegiatan PMA berisiko rendah dan menengah rendah.
Selain mengejar target, Bali menghadapi persoalan konsentrasi. Sekitar 92 persen investasi berada di kawasan Sarbagita, sedangkan kabupaten di luar kawasan itu menyerap sekitar 8 persen. Dominasi tersebut berjalan seiring struktur sektor yang berat ke jasa: sektor tersier menyumbang 98,1 persen, sementara sektor primer hanya 0,2 persen dan sekunder sekitar 1,8 persen. Pemerintah provinsi mendorong investasi pertanian, perikanan, dan industri agar pertumbuhan tidak bertumpu pada pariwisata dan jasa saja. Besarnya nilai investasi Bali belum cukup menjadi ukuran keberhasilan bila manfaat dan jenis kegiatan usaha tetap terkonsentrasi.
Ukur capaian dengan dua tolok ukur
Hingga triwulan III, kesimpulannya tegas tetapi tidak sesederhana menentukan daerah dengan angka terbesar. Bali unggul dalam nilai nominal, Rp 30,80 triliun berbanding Rp 18,12 triliun. Tangerang unggul dalam persentase pencapaian target, 120 persen berbanding sekitar 64 persen. Kedua perbandingan itu menjawab pertanyaan berbeda dan tidak boleh dipertukarkan. Membaca realisasi investasi daerah melalui keduanya memberi gambaran yang lebih jujur tentang skala sekaligus progres.
Tangerang kini perlu menjaga tren dan memastikan proyeksi akhir tahun terwujud. Bali perlu mempercepat realisasi untuk mengejar target, sekaligus memperluas sebaran wilayah dan sektor. Hasil triwulan IV akan menentukan apakah optimisme kedua pemerintah daerah terbukti. Untuk saat ini, Tangerang lebih maju terhadap sasarannya, sedangkan Bali memimpin dalam nilai investasi—dua capaian yang sama-sama penting, tetapi bukan ukuran yang sama.






