Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kelas Tanpa Atap: Ketika Sekolah Runtuh, Janji Pembangunan Ikut Ambruk

Kelas Tanpa Atap: Ketika Sekolah Runtuh, Janji Pembangunan Ikut Ambruk
Minat|Asia Tenggara

Kesenjangan yang Kasat Mata: Ketika Pembangunan Melupakan Sekolah

Kelas tanpa atap adalah kondisi ketika ruang belajar di sekolah rusak berat, kekurangan gedung, berdinding seng atau rapuh, hingga proses belajar mengajar berlangsung dalam bangunan yang sempit, berbahaya, dan jauh dari standar keselamatan bagi siswa dan guru. Fenomena sekolah rusak Indonesia ini bukan sekadar cerita pinggiran, melainkan bukti bahwa infrastruktur pendidikan terlantar bahkan ketika proyek-proyek megah dibanggakan. Di satu sisi, pemerintah membangun kompleks desa yang kokoh dan program sosial yang ramai dipromosikan; di sisi lain, anak-anak dipaksa belajar di ruang yang layak disebut kandang daripada sekolah. Ini bukan masalah teknis, melainkan pilihan politik: siapa yang dianggap pantas mendapat bangunan kokoh, dan siapa yang dibiarkan bertahan di gedung sekolah roboh yang mengancam nyawa.

Di Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Gedung Kompleks Desa Merah Putih berdiri megah hasil pembangunan pemerintah pusat. Namun, hanya beberapa kilometer dari simbol kemajuan itu, SD 170/VII Mentawak Ulu dibiarkan kekurangan ruang kelas yang mendesak. Jumlah murid terus bertambah, tapi satu pun ruang baru tidak pernah hadir. Ruang sempit dan sesak menjadi keseharian; guru mengajar dalam kondisi yang menghambat, murid belajar dalam ketidaknyamanan. Ketika warga bertanya, “Mengapa gedung besar dibangun mewah, sementara tempat anak kami menuntut ilmu dibiarkan sempit dan tidak layak?”, sebenarnya mereka sedang menuding prioritas pemerintah yang pincang. Infrastruktur pendidikan terlantar, sementara proyek yang lebih mudah difoto dan dipamerkan didahulukan. Inilah wajah ketimpangan yang menyakitkan: pembangunan yang lebih sibuk mengejar pencitraan ketimbang masa depan anak.

Sekolah Mirip Kandang Ayam: Normalisasi Belajar dalam Bahaya

Di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, berdiri sebuah bangunan 6 x 8 meter dari kayu dan dinding seng yang sekilas tampak seperti kandang ayam. Nyatanya, itulah satu-satunya ruang kelas sebuah sekolah dasar kelas jauh di Dusun Kampung Beru, Desa Borongbulo. Belasan siswa dari kelas 1 sampai 6 digabung dalam satu ruangan karena fasilitas sekolah minim: hanya ada ruang belajar, tanpa perpustakaan, tanpa lapangan olahraga, bahkan tiang bendera pun sekadar batang bambu. Bangunan ini awalnya hasil swadaya warga, lalu sedikit diperbaiki berkat bantuan komunitas mahasiswa sosial yang mengganti dinding bambu dengan seng. Ironisnya, negara yang menabur anggaran besar untuk pendidikan membiarkan warga di pelosok membangun sekolah seadanya demi lepas dari buta huruf.

Lebih tragis lagi, sekolah ini harus sering diliburkan saat hujan karena atap bocor dan rawan roboh diterpa angin kencang. Artinya, hak anak atas pendidikan bergantung pada cuaca: kalau langit cerah, belajar; kalau mendung, pulang. Gedung sekolah roboh di sini bukan ancaman abstrak, melainkan skenario yang selalu mengintai setiap musim penghujan. Pemerintah kecamatan mengakui bahwa sekolah ini berada di pedalaman dan sangat membutuhkan bantuan instansi terkait. Pengakuan ini seharusnya menjadi alarm, bukan sekadar catatan birokrasi. Ketika fasilitas sekolah minim dinormalisasi sebagai “wajar karena pelosok”, kita sedang menerima standar ganda: anak di kota berhak pada kelas layak, sementara anak di pedalaman dianggap cukup dengan kandang seng. Itu bukan kebetulan; itu keputusan.

Kelas Tanpa Atap: Ketika Sekolah Runtuh, Janji Pembangunan Ikut Ambruk

Belajar di Reruntuhan: SDN 178 Seluma dan Bayang-bayang Runtuhan

Di Desa Pagar Agung, Kecamatan Ulu Talo, Kabupaten Seluma, pelajar SDN 178 menuntut ilmu dalam bayang kecemasan. Di tengah gembar-gembor program revitalisasi sekolah, bangunan mereka justru hanya menyisakan puing-puing yang ambruk dan rata dengan tanah karena struktur rapuh. Jangankan fasilitas mewah, atap sekolah yang layak pun terasa barang mewah bagi anak-anak di sana. Ini adalah potret paling telanjang dari infrastruktur pendidikan terlantar: bukan saja tidak diperbaiki, tetapi dibiarkan runtuh hingga nyaris tak ada yang bisa dipakai. Dalam situasi seperti ini, orang dewasa di sekitar sekolah dipaksa “berkreativitas” dengan cara paling pahit: menyatukan semua siswa di satu ruangan tersisa yang disekat darurat dan sekaligus berfungsi sebagai ruang guru serta kepala sekolah.

Tragedi robohnya ruang kelas memaksa kegiatan belajar mengajar sepenuhnya bergantung pada kemurahan alam. Ketika langit mulai mendung dan angin kencang datang, kegiatan belajar harus dihentikan, siswa dipulangkan lebih awal demi menghindari kemungkinan gedung sekolah roboh menimpa mereka. Dalam situasi seperti ini, sekolah rusak Indonesia bukan sekadar istilah; ia adalah ketakutan harian. Anak-anak datang ke sekolah bukan hanya membawa buku, tapi juga rasa cemas: apakah hari ini mereka pulang dengan nilai atau dengan luka. Ketika sebuah sekolah di pedalaman luput dari perhatian pemerintah, pesan yang sampai ke anak-anak jelas: keselamatan dan pendidikan mereka tidak cukup penting dibanding proyek lain yang lebih mudah difoto. Kelas tanpa atap itu adalah pengakuan diam bahwa negara boleh absen, selama papan nama program tetap terpasang.

Kelas Tanpa Atap: Ketika Sekolah Runtuh, Janji Pembangunan Ikut Ambruk

Satu Ruang untuk Semua: Ketika Kebijakan Memaksa Anak Berdesakan

Kisah Mentawak Ulu, Gowa, dan Seluma bertemu pada satu titik: anak-anak dipaksa berbagi satu ruangan untuk beberapa tingkatan kelas. Di Mentawak Ulu, jumlah siswa terus bertambah setiap tahun sementara ruang belajar baru tidak pernah dibangun. Proses belajar mengajar terhambat parah, murid berdesakan, guru kesulitan mengelola kelas yang terlalu ramai. Di Gowa, hanya satu ruang kelas berdinding seng menampung seluruh siswa kelas 1 sampai 6 sekaligus. Di Seluma, seluruh siswa SDN 178 harus berjejal di satu-satunya ruangan yang tersisa setelah gedung sekolah roboh. Fasilitas sekolah minim ini bukan sekadar soal kenyamanan; ia menggerus mutu pembelajaran, memutus perhatian anak, dan menurunkan motivasi guru yang harus mengerjakan tugas mustahil: mengajar enam tingkatan dengan satu papan tulis.

Kondisi ini menghina gagasan bahwa pendidikan adalah fondasi peradaban. Bagaimana mungkin kita bicara literasi, numerasi, atau kurikulum mutakhir ketika anak kelas 1 hingga 6 duduk dalam ruangan yang sama, tanpa sekat, tanpa kelayakan, dan dengan ancaman atap bocor yang setiap saat bisa meruntuhkan kelas? Sekolah rusak Indonesia menjadi arena kompromi berbahaya: keselamatan dikorbankan demi sekadar “ada kegiatan belajar”. Ketika seluruh siswa digabung, kita mengirim pesan bahwa masa depan mereka bisa disatukan dan dipadatkan dalam satu ruangan, seakan-akan waktu dan hak belajar mereka bisa dikompresi. Padahal, setiap anak kehilangan jam, ruang, dan perhatian yang seharusnya mereka dapatkan. Di titik ini, kegagalan bukan lagi pada tukang bangunan, melainkan pada kebijakan.

Saat Warga Menggugat: Pembangunan Harus Dimulai dari Atap Sekolah

Di Mentawak Ulu, warga, orang tua murid, dan pihak sekolah tak mau lagi diam. Mereka menuntut pemerintah kabupaten dan provinsi segera bertindak, menjadikan pembangunan ruang kelas baru sebagai prioritas utama. Gowa dan Seluma menunjukkan kebutuhan yang sama: pemerintah kecamatan sendiri mengakui sekolah kelas jauh di pedalaman sangat membutuhkan bantuan, sementara SDN 178 Seluma luput dari program revitalisasi yang dicanangkan di tingkat pusat. Tuntutan warga bukan soal menolak gedung lain; mereka hanya minta keadilan. Mereka menyambut program sosial dan infrastruktur baru, tetapi menolak ketika hal itu mengorbankan hak dasar anak atas tempat belajar yang layak.

Pembangunan sejati bukan diukur dari berapa banyak gedung megah yang diresmikan, tetapi dari seberapa aman dan layak ruang belajar bagi setiap anak, di mana pun mereka tinggal. Gedung sekolah roboh, atap bocor, dan ruang sempit adalah bukti bahwa infrastruktur pendidikan terlantar bahkan ketika papan proyek penuh jargon. Jika pemerintah serius, langkahnya jelas: audit menyeluruh sekolah rusak Indonesia, alokasikan anggaran yang berpihak pada pedalaman, dan hentikan kompromi dengan standar ganda antara kota dan desa. Tanpa atap yang kuat, semua pidato tentang masa depan bangsa hanyalah kata-kata kosong. Pembangunan harus dimulai dari atap sekolah, dari lantai kelas, dari kursi tempat anak duduk. Di sanalah peradaban dibangun, atau dibiarkan runtuh.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!