Stasiun Kereta Bersejarah: Dari Warisan Kolonial Menjadi Nadi Desa
Stasiun kereta bersejarah adalah infrastruktur perkeretaapian berusia puluhan hingga lebih dari seratus tahun yang awalnya dibangun pada masa kolonial, namun hingga kini masih digunakan dan terus beradaptasi untuk melayani mobilitas masyarakat modern sekaligus menggerakkan ekonomi lokal melalui konektivitas antarwilayah rural dan pusat kegiatan ekonomi.
Pertanyaannya hari ini bukan lagi apakah infrastruktur kereta heritage masih relevan, melainkan mengapa kita berani membiarkannya mati. Di Sumatra Utara, Stasiun Sei Bejangkar dan Stasiun Lidah Tanah menunjukkan bahwa rel yang dibangun lebih dari seabad lalu justru menjadi tulang punggung transportasi Sumatra Utara, terutama bagi mobilitas masyarakat desa. Stasiun-stasiun ini tidak hanya menyisakan jejak sejarah, tetapi membuktikan bahwa warisan fisik kolonial bisa dibalik fungsinya: dari alat ekstraksi komoditas menjadi sarana pemberdayaan komunitas rural.
Sei Bejangkar: Rel Perkebunan yang Bertransformasi Jadi Jalur Publik
Stasiun Sei Bejangkar adalah contoh telanjang bagaimana rel yang dulu dibangun demi komoditas bisa berubah menjadi layanan publik. Manager Humas PT Kereta Api Indonesia Divisi Regional I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, menegaskan bahwa keberadaan stasiun ini memiliki arti penting dalam sejarah perkeretaapian sekaligus penopang mobilitas warga. Dahulu, rel di kawasan ini dirancang untuk mengangkut hasil perkebunan, namun seiring perkembangan wilayah, fungsinya bergeser menjadi moda transportasi massal yang andal dan terjangkau bagi masyarakat umum.
Transformasi ini bukan sekadar perubahan fungsi, melainkan pembalikan logika ruang: jalur yang dulu mengalirkan kekayaan keluar dari desa, kini mengalirkan peluang masuk ke desa. Di kawasan Sei Bejangkar yang masih bergantung pada pertanian dan perkebunan, kereta api menjadi penghubung desa-desa pertanian dengan pusat ekonomi regional. Artinya, petani, pelajar, dan pedagang mendapatkan akses langsung ke pasar, layanan, dan jaringan sosial yang sebelumnya jauh dan mahal. Tanpa infrastruktur kereta heritage seperti ini, banyak desa akan tetap terkurung dalam lingkaran isolasi transportasi.
Lidah Tanah: Buka Pintu Mobilitas Masyarakat Perbaungan
Jika Sei Bejangkar melambangkan transformasi fungsi, Stasiun Lidah Tanah adalah simbol reaktivasi hak warga atas mobilitas. Infrastruktur perkeretaapian yang berdiri sejak 1902 ini membuktikan bahwa bangunan bersejarah dapat terus beradaptasi menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat modern. Secara historis, stasiun ini dibangun pada masa kolonial sebagai stasiun persilangan, bukan untuk naik turun pelanggan. Revitalisasi yang dilakukan beberapa tahun terakhir mengubahnya menjadi simpul penting bagi mobilitas masyarakat desa di Deli Muda Hilir dan Perbaungan.
Reaktivasi layanan naik-turun penumpang sejak 1 Februari 2025, seiring berlakunya Gapeka 2025, menjadi titik balik krusial. Aksesibilitas yang makin mudah mendorong mobilitas warga Perbaungan dan sekitarnya, baik untuk keperluan bekerja, berdagang, maupun pendidikan. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, Stasiun Lidah Tanah melayani 6.047 pelanggan, atau rata-rata 756 penumpang per bulan, naik 20 persen dibanding rata-rata 630 penumpang per bulan pada 2025 dengan total 6.924 pelanggan. Angka-angka ini menunjukkan satu hal: ketika mobilitas masyarakat desa dibuka, masyarakat merespons dengan penggunaan nyata, bukan nostalgia.

Rel Warisan Sebagai Jembatan Ekonomi dan Identitas
Kontribusi infrastruktur kereta heritage tidak berhenti pada angka penumpang. Di Lidah Tanah, keberadaan layanan KA Putri Deli relasi Medan–Tanjungbalai dan KA Siantar Ekspres relasi Medan–Siantar memperluas jangkauan mobilitas masyarakat desa ke berbagai pusat ekonomi regional. KAI Divre I Sumatera Utara menyatakan terus berupaya menjaga keandalan pelayanan agar masyarakat dapat bertransportasi dengan aman, nyaman, dan tepat waktu. Mobilitas yang terjamin ini menjadi prasyarat agar pelaku usaha kecil, pekerja harian, dan pelajar desa dapat merencanakan kegiatan mereka tanpa selalu bergantung pada kendaraan pribadi.
Lebih jauh, reaktivasi dan konektivitas yang terjaga di Stasiun Lidah Tanah disebut sebagai bentuk komitmen menghadirkan transportasi publik yang inklusif, dengan harapan membuka aksesibilitas wilayah, menggeliatkan perekonomian desa, serta mempermudah mobilitas masyarakat Perbaungan. Di Sei Bejangkar, kereta api menjadi penghubung desa-desa pertanian dengan pusat ekonomi regional. Mobilitas masyarakat desa di sini tidak abstrak: ia hadir dalam bentuk perjalanan rutin ke pasar, rumah sakit, sekolah, bahkan ke relasi sosial di kota-kota sekitar. Setiap keberangkatan kereta adalah pernyataan bahwa desa berhak terhubung.
Preservasi Stasiun Bersejarah: Investasi Masa Depan, Bukan Beban Masa Lalu
Preservasi stasiun kereta bersejarah sering dilihat sebagai beban anggaran, padahal di Sumatra Utara ia terbukti menjadi strategi transportasi masa depan. Dalam beberapa tahun terakhir, Divre I Sumut merevitalisasi Stasiun Lidah Tanah untuk melayani pelanggan, sambil mempertahankan karakter asli dan nilai sejarah bangunan. Pilihan ini penting: jika modernisasi dilakukan dengan merobohkan sejarah, kita kehilangan identitas; jika hanya memuja heritage tanpa fungsi, kita kehilangan relevansi. Infrastruktur perkeretaapian yang berdiri sejak 1902 ini justru membuktikan bahwa bangunan bersejarah dapat terus beradaptasi.
KAI menegaskan reaktivasi Stasiun Lidah Tanah sebagai komitmen menghadirkan transportasi publik inklusif yang membuka aksesibilitas wilayah dan menggeliatkan perekonomian desa. Pernyataan ini seharusnya dibaca sebagai ajakan politik transportasi: rel tua tidak perlu dimuseumkan, tetapi dimanfaatkan. Untuk menjaga keberlanjutan transportasi lokal, terutama di koridor-koridor rural, stasiun-stasiun warisan seperti Sei Bejangkar dan Lidah Tanah harus ditempatkan sebagai prioritas, bukan catatan kaki. Preservasi fisik, peningkatan layanan, dan keterlibatan komunitas lokal adalah tiga pilar agar rel yang lahir di abad ke-20 tetap menjadi tulang punggung mobilitas abad ini.






