Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kereta Api sebagai Tulang Punggung Transportasi Mid-Mile

Kereta Api sebagai Tulang Punggung Transportasi Mid-Mile
Minat|Asia Tenggara

Kereta api sebagai mid-mile: kunci menurunkan biaya logistik nasional

Kereta api logistik sebagai transportasi mid-mile adalah penggunaan rangkaian kereta barang untuk memindahkan muatan dalam volume besar pada jarak menengah hingga jauh, menghubungkan pusat produksi, pelabuhan, dan hub distribusi, sehingga truk hanya fokus pada first mile dan last mile yang lebih pendek dan spesifik.

Selama ini, sekitar 75,3 persen muatan masih ditopang moda jalan, sementara kereta api baru memegang porsi sekitar 1 persen. Dominasi truk membuat jalur darat sesak, jalan cepat rusak, dan biaya logistik nasional membengkak karena ketergantungan pada satu moda. Padahal, kereta api sudah lama terbukti mampu menjadi tulang punggung pengangkutan hasil bumi sejak pertama kali beroperasi. Alih-alih menganggap kereta api sebagai pelengkap, ekosistem logistik perlu memposisikannya sebagai sumbu utama transportasi mid-mile yang mengangkut beban terbesar, sementara moda lain mengisi celah yang tidak bisa dicapai rel.

Kereta Api sebagai Tulang Punggung Transportasi Mid-Mile

Mengapa kereta api lebih masuk akal untuk jarak jauh dan volume besar?

Kereta api paling masuk akal ketika berbicara jarak jauh dan volume besar, karena satu rangkaian bisa mengangkut tonase yang tidak realistis jika seluruhnya dialihkan ke truk. Volume angkutan barang berbasis rel bahkan tercatat naik 39,7 persen dari 50,04 juta ton pada 2021 menjadi 69,91 juta ton pada 2025. Ini adalah sinyal pasar: ketika kapasitas tersedia dan layanan membaik, muatan akan mengikuti.

Namun keunggulan kereta api tidak seharusnya diukur hanya dari tarif rel. Seperti ditegaskan Didiek Hartantyo, efisiensi logistik kereta api tidak bisa dinilai dari tarif saja karena moda ini berperan sebagai transportasi mid-mile yang bergantung pada kelancaran first mile dan last mile. Kekuatan kereta ada pada konsistensi jadwal, kapasitas besar, dan pengurangan tekanan pada jalan raya. Jika beban utama dialihkan ke rel, biaya operasional truk, perawatan jalan, dan risiko keterlambatan ikut turun, sementara rantai pasok menjadi lebih stabil.

Efisiensi total biaya: lebih dari sekadar tarif rel

Diskusi soal biaya logistik nasional kerap terjebak pada pertanyaan "tarif kereta berapa". Ini pendekatan yang keliru. Total biaya logistik ditentukan oleh keseluruhan perjalanan: pengangkutan pada tahap awal (first mile), penanganan di terminal, hingga pengiriman dari stasiun ke tujuan akhir (last mile). Jika hanya satu bagian yang hemat tapi lainnya boros dan berantakan, angka total tetap tinggi.

Kereta api sebagai transportasi mid-mile justru memberi peluang terbesar untuk mengurangi biaya struktural. Perjalanan jarak jauh bisa dipadatkan dalam satu pengiriman besar, mengurangi kebutuhan armada, sopir, dan konsumsi bahan bakar di jalan. Pemerintah pun menilai sukses transformasi logistik akan tercermin pada penurunan biaya, keandalan waktu tempuh, dan berkurangnya kerusakan jalan serta emisi. Dengan kata lain, kereta api tidak hanya soal lebih murah per ton-kilometer, tetapi soal bagaimana seluruh sistem menjadi lebih efisien, lebih tertib, dan lebih mudah diprediksi.

KAI Logistik tarif khusus: pintu masuk bisnis ke moda rel

Masalah klasik pelaku usaha adalah menganggap kereta api logistik sebagai sesuatu yang kaku dan hanya cocok untuk volume raksasa. Program Shipping Line Special Rate yang dirilis KAI Logistik mematahkan asumsi tersebut. Program ini membuka pemanfaatan kereta api untuk pengiriman kontainer 20 feet dan 40 feet, baik berisi maupun kosong, pada relasi Jakarta–Surabaya PP dan Jakarta–Semarang PP.

KAI Logistik tarif khusus ini sudah termasuk biaya Lift On–Lift Off (LoLo) di stasiun muat dan bongkar serta tidak mensyaratkan minimum volume pengiriman. Artinya, perusahaan bisa mulai mencoba moda rel tanpa harus langsung berkomitmen volume besar. Bagi pemain dengan kebutuhan besar, KAI Logistik juga membuka ruang diskusi untuk penyesuaian solusi berdasarkan volume, pola pengiriman, dan relasi yang dibutuhkan. Ini bukan sekadar promo, tapi sinyal bahwa operator siap berperan aktif mengintegrasikan transportasi laut dan kereta api dalam satu rantai distribusi yang lebih fleksibel dan terhubung.

Menjadikan kereta api tulang punggung ekosistem logistik

Secara historis, kereta api pernah menjadi tulang punggung pengangkutan hasil bumi. Pertanyaannya bukan lagi apakah kereta sanggup, tetapi apakah ekosistem logistik mau mengembalikan peran strategis ini di era modern. Pemerintah sudah menyiapkan arah kebijakan melalui rencana induk dan regulasi baru yang menargetkan peningkatan pangsa angkutan barang dengan rel. Fokusnya adalah jalur penghubung ke pelabuhan, kawasan industri, terminal barang, dan dry port.

Namun infrastruktur saja tidak cukup. Operator seperti KAI Logistik perlu terus mendorong inovasi layanan dan kolaborasi antarmoda, sementara pelaku usaha harus berani mengubah desain jaringan distribusi berbasis truk menjadi jaringan multimoda yang menempatkan kereta sebagai mid-mile utama. Jika ini berhasil, kita bukan hanya menurunkan biaya logistik nasional dan memperbaiki keandalan waktu tempuh, tetapi juga membangun pondasi rantai pasok yang lebih kuat terhadap guncangan. Kesimpulannya: kereta api bukan alternatif, melainkan tulang punggung yang selama ini kita abaikan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!