Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Normalisasi Sungai Harus Menjadi Rutinitas, Bukan Reaksi Banjir

Normalisasi Sungai Harus Menjadi Rutinitas, Bukan Reaksi Banjir
Minat|Asia Tenggara

Pencegahan lebih baik daripada menunggu banjir

Normalisasi sungai adalah upaya memulihkan fungsi aliran dengan membersihkan sampah dan mengangkat endapan yang menghambat air, sehingga kapasitas sungai terjaga dan risiko banjir dapat dikurangi. Di Kota Makale, Pemerintah Kabupaten Tana Toraja menerapkan langkah ini pada Salu Surame dan Salu Aka pada 6 Oktober 2026. Penanganan dilanjutkan ke Sungai Starda pada 14 Oktober 2026. Rangkaian tersebut lebih bermakna daripada pembersihan sesaat setelah banjir: pemeliharaan dilakukan sebelum sumbatan berubah menjadi masalah bagi warga. Pada tahap awal, dua excavator digunakan untuk membersihkan dan mengeruk material serta sampah hingga ke dasar sungai. Pengerahan alat berat mempercepat pekerjaan, tetapi ukuran keberhasilan bukan sekadar banyaknya material yang diangkat. Yang lebih penting ialah apakah aliran tetap lancar dan pemeliharaan berulang menjadi kebiasaan.

Normalisasi Sungai Harus Menjadi Rutinitas, Bukan Reaksi Banjir

Pengerukan membuka kembali jalur aliran

Sampah dan endapan yang menumpuk mengurangi ruang bagi air untuk mengalir. Karena itu, pengerukan sedimen di Salu Surame, Salu Aka, dan Sungai Starda merupakan langkah praktis untuk mengatasi salah satu pemicu genangan di kawasan perkotaan. Dalam pembersihan Sungai Starda, excavator mengangkat endapan material dan sampah yang menghambat aliran hingga ke dasar sungai. Pemerintah daerah menyebut curah hujan yang meningkat sebagai alasan penting untuk menjaga aliran tetap terbuka. Ini pendekatan pengendalian banjir yang masuk akal, tetapi normalisasi tidak boleh dipahami sebagai pekerjaan sekali selesai. Sedimen dan sampah dapat kembali menumpuk; tanpa pemantauan berkala, kapasitas sungai yang baru dipulihkan berisiko menyusut lagi. Karena itu, pengerukan perlu dipandang sebagai bagian dari pemeliharaan infrastruktur air, bukan solusi tunggal yang menjamin banjir tak akan terjadi.

Pemeliharaan perlu menjadi kerja bersama

Bupati Tana Toraja, dr. Zadrak Tombeg, menegaskan bahwa penanganan sungai harus berkelanjutan dan tidak hanya dilakukan ketika banjir terjadi. Pesan itu tepat: alat berat dapat mengangkat timbunan yang sudah ada, tetapi tidak mencegah sampah baru masuk ke sungai. Pemerintah juga mengimbau warga agar tidak membuang sampah ke aliran sungai karena sumbatan dapat menghambat air dan meningkatkan risiko banjir. Bagi warga, dampak yang diharapkan sederhana tetapi penting: aliran sungai di kawasan kota tetap lancar dan risiko genangan maupun banjir berkurang. Namun, hasil itu perlu dijaga lewat pemeriksaan dan pembersihan berkala, disertai kebiasaan warga yang mendukungnya. Normalisasi di tiga sungai Makale memberi awal yang baik, bukan jaminan permanen. Kesimpulannya, strategi ini akan efektif jika pemerintah menjadikannya agenda rutin dan masyarakat ikut menjaga sungai tetap bersih.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!