Target besar perlu berujung pada layanan air
Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) adalah program padat karya yang merehabilitasi, meningkatkan, dan membangun jaringan irigasi tersier dengan melibatkan kelompok petani pemakai air. Kementerian Pekerjaan Umum menyiapkan anggaran P3-TGAI sebesar Rp2,99 triliun untuk 2027 dengan sasaran 13.296 lokasi di seluruh Indonesia, naik dari sekitar 12.000 lokasi pada tahun sebelumnya. Kenaikan cakupan itu patut diapresiasi, tetapi ukuran keberhasilan semestinya bukan banyaknya lokasi yang tercantum, melainkan apakah air benar-benar sampai ke lahan ketika dibutuhkan. Menteri PU Dody Hanggodo menyebut jaringan irigasi yang memadai penting untuk menjaga produksi pertanian dan mendukung swasembada pangan. Dengan demikian, program irigasi 2027 perlu dinilai dari fungsi jaringan dan manfaat nyata bagi petani, bukan angka target semata.
P3-TGAI juga dirancang memberi manfaat ekonomi di luar pembangunan fisik. Pelaksanaan secara swakelola oleh kelompok petani pemakai air membuat warga terlibat langsung dalam pekerjaan, bukan hanya menerima hasil akhirnya. Dody mengatakan program padat karya memberi penghasilan langsung kepada masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. Model ini masuk akal karena warga yang memahami kebutuhan saluran setempat dapat ikut menentukan pekerjaan yang paling mendesak. Namun, partisipasi hanya bermakna jika prosesnya terbuka dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Prinsip pemerataan, transparansi, dan akuntabilitas yang menjadi dasar program harus terlihat sejak pemilihan lokasi sampai pelaksanaan.

Pengusulan dibuka sampai 30 November
Pengusulan lokasi penerima P3-TGAI 2027 dibuka sejak 26 Oktober dan berakhir pada 30 November 2026. Pengajuan dapat dilakukan secara daring melalui Portal Bantuan Pemerintah Kementerian PU atau laman resmi P3-TGAI. Pengusul yang disebutkan meliputi Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), Gabungan P3A (GP3A), Induk P3A (IP3A), pemerintah daerah, dan DPR RI. Setelah pendaftaran, usulan akan melewati evaluasi, verifikasi administrasi, serta validasi. Penetapan lokasi direncanakan rampung pada Desember 2026 melalui Keputusan Menteri PU, lalu pelaksanaan ditangani balai wilayah sungai terkait.
Tenggat yang jelas memberi calon pengusul waktu terbatas untuk menyiapkan usulan dengan cermat. Karena lokasi tidak otomatis memperoleh bantuan hanya dengan mendaftar, kelengkapan administrasi dan kejelasan kebutuhan lapangan penting dalam proses seleksi. Mekanisme daring dapat memperluas akses, tetapi pemerintah tetap perlu memastikan kelompok petani di wilayah dengan keterbatasan akses informasi tidak tertinggal. Jika sasaran program benar-benar ingin menjangkau lokasi yang membutuhkan, sosialisasi dan pendampingan harus berjalan seiring dengan portal pengajuan. Dengan begitu, target 13.296 lokasi tidak hanya menjadi angka ambisius, tetapi daftar pekerjaan yang berangkat dari kebutuhan irigasi yang terverifikasi.
Empat Lawang menunjukkan pentingnya pekerjaan bertahap
Di Kabupaten Empat Lawang, enam daerah irigasi dijadwalkan direhabilitasi melalui program Kementerian PU pada tahun anggaran 2026, dengan total anggaran Rp42 miliar. Lokasinya tersebar di tiga kecamatan: DI Sungai Saling di Desa Tanjung Ning Jaya, Kecamatan Saling; DI Seguring di Kecamatan Tebing Tinggi; DI Kelapaian dan DI Air Kebahang di Kecamatan Pendopo; serta DI Rena Ubar dan DI Betung Besak di Kecamatan Ulu Musi. Contoh ini memperlihatkan bahwa rehabilitasi irigasi bukan sekadar pembangunan baru: pemulihan jaringan yang sudah ada dapat menjadi langkah penting untuk memperbaiki distribusi air ke lahan pertanian.
Pekerjaan di enam lokasi tersebut direncanakan bertahap. Pada 2026, fokus awalnya adalah memulihkan jaringan primer; tahap lanjutan pada 2027 direncanakan menyasar jaringan tersier di lokasi yang sama. Urutan ini masuk akal karena saluran tersier tidak akan memberi manfaat optimal bila jaringan utama yang memasoknya belum berfungsi baik. Namun, kesinambungan antar-tahap perlu dijaga agar rehabilitasi tidak berhenti pada perbaikan sebagian. Pengalaman irigasi Empat Lawang menegaskan hubungan langsung antara pemulihan jaringan, distribusi air, dan produktivitas pertanian. Pada akhirnya, keberhasilan program berskala nasional maupun daerah harus diukur dari aliran air yang lebih teratur dan manfaat yang dirasakan petani.






