Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Program Sekolah Melek Media dan Tanggung Jawab Guru di Era Digital

Program Sekolah Melek Media dan Tanggung Jawab Guru di Era Digital
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Sekolah Melek Media: Benteng Literasi di Tengah Banjir Informasi

Sekolah melek media adalah pendekatan pembelajaran yang menjadikan guru dan siswa mampu memilah, memeriksa, dan memaknai informasi digital secara kritis, dengan menekankan verifikasi berita, pemahaman konteks, serta pembedaan antara produk jurnalistik yang tunduk pada kaidah etik dan unggahan media sosial yang belum tentu teruji kebenarannya. Derasnya arus informasi di ruang digital sudah menembus pagar sekolah dan kelas; artinya, literasi media sekolah bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kompetensi dasar untuk bertahan dari misinformasi. Di titik inilah program melek media menjadi signifikan: ia bukan sekadar pelatihan, tetapi upaya menjadikan sekolah sebagai benteng pertama yang mengajarkan sikap skeptis yang sehat terhadap informasi. Tanpa itu, dunia pendidikan berisiko ikut terseret arus kabar yang belum terverifikasi dan memperpanjang rantai kesesatan informasi.

Program Sekolah Melek Media dan Tanggung Jawab Guru di Era Digital

Mengapa Guru Harus Memimpin Literasi Media Sekolah

Program Sekolah Melek Media yang digelar oleh Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Sumenep untuk para guru SDN se-Gugus 02 Kalianget menunjukkan dengan jelas bahwa guru adalah tokoh kunci literasi media di sekolah. Pelatihan ini diikuti dua perwakilan dari masing-masing sekolah dasar negeri, sebuah angka kecil di atas kertas, tetapi besar secara simbolik: setiap guru peserta diharapkan menjadi penggerak perubahan di unit kerja mereka. Pernyataan Ketua SMSI, Wahyudi, bahwa “sekolah harus bisa melek informasi” bukan sekadar slogan; ia adalah kritik halus terhadap budaya pendidikan yang selama ini cenderung mengabaikan verifikasi berita digital dan menyerahkan urusan informasi pada arus media sosial. Pengawas sekolah H. Abd. Aziz bahkan mendorong guru tidak berhenti sebagai konsumen, melainkan produsen informasi yang baik, artinya guru dipanggil untuk menulis, mendokumentasikan, dan menyebarkan aktivitas sekolah secara lebih bertanggung jawab.

Isi Program: Memilah, Memverifikasi, dan Memahami Dunia Jurnalistik

Ada yang menganggap literasi media sekolah hanya soal “jangan percaya hoaks”, padahal isi program melek media di Kalianget jauh lebih dalam dari itu. Para guru peserta diajak memasuki dunia jurnalistik: memahami karakteristik informasi, mengenali sumber berita, dan menyikapi derasnya arus pemberitaan di era digital. Inti sikap kritis yang diajarkan adalah kemampuan memeriksa sumber, memahami konteks, dan membedakan produk jurnalistik dengan unggahan di media sosial yang menyebar cepat namun tidak otomatis benar. Latihan seperti berpikir sebelum menyebarkan dan memeriksa informasi sebelum mempercayainya dilatih sebagai kebiasaan baru yang wajib dibawa pulang ke kelas. Dengan demikian, verifikasi berita digital bukan lagi teori abstrak, melainkan praktik keseharian yang bisa diterapkan guru ketika mendiskusikan isu apa pun bersama siswa, dari berita lokal sampai kabar yang viral di gawai mereka.

AI di Ruang Kelas: Sekutu atau Ancaman dalam Literasi Media?

Hal paling menarik dari program melek media ini adalah keberanian memasukkan tema pemanfaatan AI bagi guru se-Kecamatan Kalianget. Di saat banyak orang mencurigai AI sebagai sumber potensi misinformasi baru, para jurnalis pemateri justru mengajak guru melihatnya sebagai alat yang dapat digunakan secara kritis — misalnya untuk membantu menata informasi, mencari referensi, atau menyunting tulisan guru dan siswa. Namun, penggunaan AI tanpa kerangka literasi media yang kuat hanya akan menambah kecepatan produksi informasi, bukan kualitas. Karena itu, integrasi AI dalam pelatihan ini patut diapresiasi: guru diajak mengenal teknologi sekaligus mengingat bahwa kecepatan bukan ukuran kebenaran. Di tangan guru yang melek media, AI bisa menjadi sekutu dalam verifikasi berita digital dan peningkatan keterampilan menulis, bukannya ancaman yang membuat sekolah kian gagap di hadapan arus informasi.

Dari Pelatihan ke Budaya Sekolah: Tugas Berat yang Tak Bisa Ditunda

Program Sekolah Melek Media di SDN Kalimook II baru satu langkah, meski signifikan, dalam membangun benteng literasi informasi di lingkungan pendidikan Kalianget. Fakta bahwa pelatihan ini telah dibaca 4.036 kali menunjukkan adanya perhatian publik terhadap isu literasi media sekolah, tetapi perhatian tidak cukup jika tidak diikuti perubahan budaya. Tantangan terbesar justru dimulai setelah pelatihan: bagaimana guru mengubah hasil belajar menjadi praktik di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, dan kebijakan sekolah mengenai penggunaan gawai serta media sosial. Sekolah yang melek media adalah sekolah yang berani menetapkan standar: setiap informasi yang masuk ke ruang belajar harus melalui proses pemilahan dan verifikasi, dan setiap informasi yang keluar dari sekolah mencerminkan etika penulisan yang diajarkan dalam program ini. Kesimpulannya tegas: di era banjir informasi, sekolah yang tidak menumbuhkan literasi media akan tertinggal bukan hanya secara akademik, tetapi juga secara moral, karena abai terhadap tanggung jawab melindungi guru dan siswa dari kabar yang menyesatkan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!