Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Empati dan Lingkungan Aman Jadi Bekal Pendamping Siswa

Empati dan Lingkungan Aman Jadi Bekal Pendamping Siswa
Minat|Kesehatan Mental

Pendampingan dimulai dengan memahami anak

Pendamping siswa adalah orang dewasa di lingkungan sekolah yang membantu anak belajar, merasa aman, dan berkembang melalui perhatian serta bimbingan dalam keseharian. Prinsip ini menjadi inti pembekalan Sekolah Rakyat yang diberikan Habib Husein Ja’far Al Hadar dan Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono di Kabupaten Bogor pada Kamis malam, 5 November 2026. Kegiatan tersebut diikuti sekitar seribu peserta dari seluruh Indonesia, termasuk guru bimbingan konseling, wali asuh, wali asrama, petugas keamanan, dan operator. Pesan utamanya patut mendapat perhatian: perilaku yang dianggap nakal tidak otomatis menandakan anak bermasalah atau berniat buruk. Habib Ja’far mengingatkan bahwa trauma dan keadaan keluarga bisa memengaruhi perilaku siswa. Karena itu, reaksi pertama pendamping semestinya bukan menghakimi, melainkan berusaha memahami.

Anjuran untuk sering berbincang dengan siswa bukan sekadar soal keramahan. Komunikasi memberi pendamping kesempatan mengenali pengalaman dan kebutuhan anak, sehingga teguran tidak berubah menjadi pelampiasan emosi. Empati juga menuntut perhatian berkelanjutan: siswa perlu melihat bahwa orang dewasa di sekolah bersedia mendengar, bukan hanya hadir saat ada pelanggaran. Dalam konteks konseling sekolah, sikap ini penting agar siswa merasa cukup aman untuk menyampaikan kesulitan. Pembekalan tersebut mengingatkan bahwa peran pendamping bukan hanya mengawasi kegiatan, tetapi membangun hubungan yang membantu anak menjalani hari-harinya.

Karakter dibentuk lewat teladan sehari-hari

Pembekalan ini tidak berhenti pada pendekatan personal. Habib Ja’far menyampaikan tiga prinsip pendidikan bagi pendamping: membangun karakter, menciptakan kompetisi positif melalui kegiatan, dan memberi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiganya akan kehilangan makna jika hanya menjadi slogan atau materi kelas. Pendidikan karakter tumbuh dari pengalaman berulang: cara orang dewasa berbicara, menyelesaikan perselisihan, menjalankan aturan, dan memperlakukan siswa yang melakukan kesalahan. Bagi anak yang mungkin kekurangan perhatian di rumah, konsistensi perilaku para pendidik dapat memberi rasa aman sekaligus contoh nyata tentang tanggung jawab.

Wamensos Agus Jabo mengaitkan tugas itu dengan prinsip Ki Hadjar Dewantara: momong, among, dan ngemong—mengasuh dengan kasih sayang, mendidik melalui keteladanan, serta membimbing potensi anak. Pembagian peran di sekolah pun perlu saling menguatkan. Guru mengembangkan pengetahuan dan menjadi teladan, wali asrama membina disiplin serta kemandirian, sementara wali asuh memberi perhatian dan kasih sayang. Materi yang juga menyasar guru bimbingan konseling seharusnya mendorong seluruh unsur sekolah bekerja sebagai satu tim, bukan menyerahkan persoalan siswa kepada satu petugas saja.

Keamanan bukan tambahan, melainkan syarat belajar

Penekanan pada lingkungan bebas kekerasan merupakan bagian penting dari pembekalan, bukan pelengkap urusan akademik. Habib Ja’far menegaskan bahwa perundungan, pelecehan, dan bentuk kekerasan lain tidak boleh ditoleransi di sekolah. Sikap tegas harus berjalan bersama empati: memahami latar belakang siswa bukan berarti membiarkan tindakan yang melukai orang lain. Sekolah perlu melindungi siswa, menangani perilaku berbahaya dengan adil, dan menghindari penghukuman yang mempermalukan anak. Dengan begitu, keamanan menjadi tanggung jawab bersama guru, pendamping, pengelola asrama, dan petugas keamanan.

Tantangan ini penting karena siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem serta menghadapi beragam keterbatasan. Program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mengentaskan kemiskinan yang diamanatkan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025. Sekolah Rakyat karena itu memadukan pendidikan formal, pendidikan karakter, dan rehabilitasi sosial—mandat yang menuntut kepedulian sekaligus profesionalitas dari pendamping. Keberhasilan program tidak cukup dinilai dari nilai akademik; pembentukan karakter dan keterampilan juga penting agar siswa dapat hidup mandiri dan berdaya setelah lulus, serta diharapkan membantu keluarganya keluar dari kemiskinan.

Ukuran keberhasilan adalah kehidupan siswa

Pembekalan Habib Ja’far dan Agus Jabo memberi arah yang jelas, tetapi nilai arahan itu bergantung pada praktik sehari-hari. Empati perlu tampak dalam cara pendamping mendengar; pendidikan karakter perlu hadir dalam teladan; dan larangan kekerasan harus berlaku bagi semua orang tanpa pengecualian. Guru bimbingan konseling juga perlu menjadi bagian dari dukungan yang terhubung dengan wali asuh, wali asrama, guru, dan petugas keamanan. Jika hubungan antarpihak berjalan baik, siswa tidak perlu menghadapi kesulitan sendirian atau menunggu sampai masalah membesar.

Pada akhirnya, Sekolah Rakyat akan memenuhi tujuannya bukan hanya dengan membuka akses belajar, tetapi dengan membantu siswa tumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh perhatian, dan membangun kemandirian. Bekal bagi pendamping siswa patut diukur dari perubahan nyata dalam pengalaman anak: apakah mereka didengar, dilindungi, dan dibantu mengembangkan potensi. Empati bukan pengganti profesionalitas, melainkan dasar agar profesionalitas tidak kehilangan sisi kemanusiaannya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!