Membesarkan anak bukan soal menuntutnya selalu kuat
Mendidik anak laki-laki sebelum dewasa berarti membekalinya dengan keterampilan untuk memahami perasaan, menghormati orang lain, bertanggung jawab atas pilihan, dan mencari dukungan ketika menghadapi masalah. Bekal ini sama pentingnya dengan pendidikan, keterampilan, dan kemampuan menjaga diri. Saat memasuki masa remaja, anak membangun identitas, dipengaruhi teman sebaya, dan menghadapi situasi sosial yang lebih rumit. Karena itu, orang tua perlu mendampingi dengan cara yang sesuai tahap perkembangannya, bukan hanya menetapkan aturan.
Panduan ini merangkum lima hal penting untuk diajarkan kepada anak laki-laki: menerima emosi, menghormati perempuan dan memahami persetujuan, bertanggung jawab, berempati, serta berani meminta bantuan. Tidak semua kesulitan bisa dicegah, dan mendidik anak bukan berarti orang tua harus membereskan setiap masalah. Justru, anak perlu latihan mengambil keputusan dengan bijak dan belajar dari akibatnya. Ayah pun punya peran penting dalam membangun kemandirian, rasa percaya diri, dan pemahaman emosi. UNICEF menyebut keterlibatan ayah dapat mendukung bahasa, kesiapan akademis, empati, dan resiliensi anak.

Ajarkan emosi sebagai sesuatu yang bisa dipahami
Ucapan seperti “anak laki-laki kok menangis?” mungkin terdengar sepele, tetapi dapat membuat anak menganggap sedih, takut, atau kecewa sebagai sesuatu yang memalukan. Emosi anak laki-laki bukan masalah yang harus ditekan; anak perlu mengenalinya dan belajar mengungkapkannya dengan aman. Orang tua bisa membantu dengan menamai perasaan—misalnya, “Kamu kecewa karena rencanamu batal?”—lalu memberi ruang untuk bercerita tanpa langsung menghakimi atau buru-buru memberi solusi.
Tegaskan bahwa merasa marah itu wajar, tetapi menyakiti orang lain bukan cara yang dapat diterima untuk melampiaskannya. Ajarkan anak mengambil jeda, bernapas perlahan, dan berbicara setelah lebih tenang. Dengarkan sampai ceritanya selesai, termasuk saat ia melakukan kesalahan. Sikap orang tua juga menjadi pelajaran: anak melihat bagaimana orang dewasa menghadapi tekanan dan meminta maaf. Menangis atau mengungkapkan perasaan bukan tanda kelemahan. Kekuatan lebih tampak pada kemampuan memahami emosi dan memilih respons yang tidak melukai diri sendiri maupun orang lain.

Rasa hormat harus berlaku di setiap hubungan
Mengajarkan sikap hormat kepada perempuan tidak cukup dengan meminta anak bersikap sopan kepada ibu atau saudara perempuannya. Anak perlu memahami bahwa perempuan bukan objek untuk dinilai berdasarkan penampilan, bahan candaan, atau orang yang harus menuruti keinginannya. Rasa hormat bukan alat untuk mendapatkan sesuatu; setiap orang berhak atas tubuh, privasi, dan keputusannya sendiri.
Seiring anak bertambah usia, bicarakan persetujuan dalam hubungan dan kedekatan fisik dengan bahasa yang sesuai tahap perkembangannya. Jelaskan bahwa persetujuan harus diberikan secara sukarela, tidak boleh didapat melalui tekanan, dan dapat ditarik kembali. Empati anak tumbuh ketika ia belajar mendengar batas orang lain, bukan sekadar membayangkan apa yang akan ia lakukan dalam situasi serupa. Orang tua sebaiknya memberi contoh dengan menghormati batas anak dan orang lain dalam keseharian. Pesan yang konsisten jauh lebih kuat daripada nasihat yang hanya muncul saat terjadi masalah.

Tanggung jawab mencakup mengakui kesalahan dan meminta bantuan
Tanggung jawab anak tumbuh ketika ia diberi kesempatan membuat pilihan dan menghadapi konsekuensi yang wajar. Jika lupa mengerjakan tugas, ia perlu belajar menghadapi akibatnya; jika menyakiti teman, ia perlu mengakui kesalahan dan berusaha memperbaiki keadaan. Orang tua dapat memberi tugas sesuai usia, seperti menyiapkan tas sekolah, serta membiarkan anak mencoba menyelesaikan masalah sebelum mengambil alih. Mendampingi bukan berarti membiarkan anak sendirian, tetapi memberi petunjuk tanpa merampas kesempatan belajar.
Ajarkan pula bahwa meminta bantuan kepada orang yang tepat adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri, bukan kegagalan. Anak perlu tahu kapan ia dapat mencoba sendiri dan kapan perlu dukungan orang lain. Ayah yang sibuk atau memiliki sedikit waktu tetap bisa membangun kedekatan melalui interaksi yang hangat dan penuh perhatian; kualitas percakapan lebih penting daripada sekadar hadir tanpa mendengarkan. Mulailah dengan bertanya apa yang ia butuhkan, lalu dengarkan jawabannya. Anak laki-laki tidak harus menyelesaikan semuanya sendirian agar dianggap kuat.







