Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kesenjangan Upah Perempuan 22%: Beban Domestik Sebagai Biaya Ekonomi Tersembunyi

Kesenjangan Upah Perempuan 22%: Beban Domestik Sebagai Biaya Ekonomi Tersembunyi
Minat|Asia Tenggara

Kesenjangan Upah 22%: Gejala Ketimpangan Struktural di Pasar Kerja

Kesenjangan upah perempuan adalah perbedaan rata-rata pendapatan yang diterima pekerja perempuan dibandingkan laki-laki, yang terbentuk bukan hanya karena jenis pekerjaan dan jam kerja, tetapi juga akibat struktur sosial, beban domestik, serta akses yang tidak setara terhadap peluang karier dan dukungan pengasuhan anak. Fenomena ini membuat kontribusi kerja perempuan, baik berbayar maupun tidak berbayar, tidak tercermin penuh dalam angka pendapatan resmi dan statistik ekonomi. Data terbaru menunjukkan selisih nyata antara upah buruh perempuan dan laki-laki, dan di balik selisih itu terdapat kerja domestik yang tidak dibayar namun ikut menentukan siapa yang bisa bertahan dan berkembang di pasar kerja. Dalam konteks ini, kesenjangan upah perempuan bukan sekadar statistik, melainkan cermin ketimpangan gender pasar kerja yang menghambat produktivitas kolektif.

Angka BPS: Selisih Rp830 Ribu dan Kerja Tambahan yang Tak Pernah Masuk Slip Gaji

Data badan statistik pada Mei 2026 mencatat rata-rata upah buruh laki-laki Rp3,69 juta per bulan, sementara perempuan hanya Rp2,86 juta. Artinya, ada selisih sekitar Rp830 ribu atau 22% yang tidak bisa dijelaskan semata oleh perbedaan jenis pekerjaan. Kajian Populix menunjukkan perempuan menghabiskan 22 menit lebih sedikit untuk pekerjaan berbayar, tetapi bila kerja domestik dimasukkan, total waktu kerja mereka justru 19 menit lebih panjang setiap hari dibanding laki-laki. Perempuan rata-rata mengerjakan 3 jam 14 menit pekerjaan rumah tangga per hari, 41 menit atau 27% lebih lama daripada laki-laki yang sekitar 2 jam 33 menit. "Pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan masih dianggap sebagai unpaid labor dan luput dari hitungan ekonomi". Jika dikonversi, selisih waktu domestik dan pengasuhan yang dibebankan kepada perempuan setara 31 hari kerja penuh. Ini adalah jam kerja yang tak pernah tercatat di slip gaji, tetapi nyata menguras energi dan kapasitas kerja berbayar.

Kesenjangan Upah Perempuan 22%: Beban Domestik Sebagai Biaya Ekonomi Tersembunyi

Indeks Beban Pengasuhan: Ketika Masalah Utama Bukan Lagi Sekadar Waktu

Survei terhadap 1.000 rumah tangga urban yang bekerja menunjukkan bahwa pengasuhan anak adalah hambatan utama partisipasi penuh perempuan di pasar kerja. Populix mengembangkan Gendered Care Burden Index yang memasukkan beban waktu, beban keputusan dan mental, serta keterbatasan dukungan pengasuhan. Skor total beban pengasuhan rumah tangga urban berada di angka 45,7 dari 100, masuk kategori menengah, dengan 65,1% responden di kategori beban menengah dan 3,4% di kategori tinggi. Menariknya, tekanan terbesar bukan pada lamanya waktu, melainkan kekurangan dukungan pengasuhan dengan skor 57,5, disusul beban keputusan dan mental 54,6, sementara beban waktu hanya 24,9. Di Jakarta, biaya pengasuh anak berkualitas bahkan bisa mencapai antara separuh hingga satu kali upah minimum provinsi. Kombinasi biaya tinggi, layanan terbatas, dan keraguan kualitas mendorong banyak perempuan mengurangi jam kerja, menolak promosi, atau mempertimbangkan berhenti bekerja karena tidak menemukan dukungan pengasuhan yang layak.

Beban Mental dan Keputusan: Kerja Tak Berjam yang Menggerus Produktivitas

Beban domestik tidak berhenti pada pekerjaan fisik seperti memasak, membersihkan, atau mengasuh anak. Perempuan memikul porsi lebih besar dalam kerja mental dan pengambilan keputusan rumah tangga. Skor beban keputusan dan mental perempuan mencapai 59,7, sementara laki-laki 48,5, selisih 11,2 poin. Sekitar 71,7% perempuan mengatur sedikitnya 60% keputusan pengeluaran harian rumah, mulai dari perencanaan kebutuhan keluarga, jadwal anak, hingga memastikan tagihan terpenuhi. Tidak mengherankan bila 34,9% perempuan mengaku sering atau sangat sering merasa kewalahan oleh tanggung jawab rumah tangga, hampir dua kali lipat laki-laki yang 18,4%. Kerja mental ini tidak punya jam mulai dan selesai; ia mengisi pikiran bahkan saat perempuan berada di tempat kerja berbayar. Akibatnya, fokus, energi, dan ruang untuk pengembangan karier menyusut. Kesenjangan gender pasar kerja tumbuh di ruang-ruang tak terlihat ini, ketika kapasitas perempuan untuk mengambil proyek tambahan, pelatihan, atau tanggung jawab lebih besar terkikis pelan-pelan oleh kerja yang tidak diakui sebagai "kerja".

Beban Domestik sebagai Biaya Ekonomi Nasional: Saat Rumah Menahan Pertumbuhan Pasar Kerja

Selisih rata-rata upah Rp830 ribu per bulan antara pekerja laki-laki dan perempuan bukan anomali individu, melainkan bagian dari persoalan struktural. Di balik angka itu terdapat beban kerja domestik, pengasuhan, pengambilan keputusan rumah tangga, serta keterbatasan layanan pengasuhan yang menahan ruang perempuan di pasar kerja. Beban domestik yang berlebihan adalah biaya ekonomi tersembunyi: ia mengurangi jam kerja berbayar, menekan partisipasi, dan menunda akselerasi produktivitas tenaga kerja secara keseluruhan. Kondisi ini membuktikan bahwa beban domestik bukan hanya masalah sosial dalam lingkup keluarga, melainkan persoalan ekonomi yang menyentuh pertumbuhan pasar kerja nasional. Selama kerja domestik perempuan terus dianggap otomatis, tidak dibayar, dan tidak dihitung, kebijakan ketenagakerjaan akan selalu tertinggal satu langkah dari realitas. Jawabannya bukan sekadar mendorong perempuan "lebih rajin" bekerja berbayar, tetapi menata ulang distribusi kerja domestik, memperluas dukungan pengasuhan yang terjangkau dan berkualitas, serta mengakui bahwa kesenjangan upah perempuan adalah sinyal bahwa ekonomi masih bergantung pada kerja tak terlihat perempuan untuk tetap berjalan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!