Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Guru Harus Menguasai Teknologi Tanpa Kehilangan Peran Pendidik

Guru Harus Menguasai Teknologi Tanpa Kehilangan Peran Pendidik
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Teknologi perlu memperkuat, bukan menggantikan guru

Teknologi untuk guru adalah perangkat dan kecakapan digital yang membantu menyiapkan materi serta mendukung pembelajaran, tanpa menggantikan pendidik dalam membangun karakter, empati, dan tanggung jawab peserta didik. Prinsip ini mengemuka dalam Seminar Nasional Pendidikan di Auditorium SMK Negeri 3 Kuningan pada 27 Oktober 2026, ketika Sekretaris Daerah Kuningan Uu Kusmana hadir mewakili bupati. Pesan yang disampaikannya tepat: guru harus bersedia terus belajar agar tidak tertinggal dari murid, tetapi kemajuan digital bukan ukuran tunggal keberhasilan pendidikan. Teknologi dan kecerdasan buatan dapat membantu menyajikan informasi serta mengembangkan bahan ajar; keteladanan, akhlak, dan bimbingan manusia tetap menjadi pekerjaan inti guru.

Pembedaan itu penting karena sekolah mudah tergoda mengukur kemajuan dari banyaknya perangkat atau aplikasi yang dipakai. Padahal, penggunaan teknologi hanya bernilai jika membuat pemahaman lebih kuat dan pembelajaran lebih sesuai dengan kebutuhan siswa. Guru tetap perlu memilih kapan alat digital membantu dan kapan interaksi langsung lebih bermakna. Sikap yang diperlukan bukan menolak teknologi ataupun memujanya, melainkan menguasainya dengan tujuan pendidikan yang jelas.

Guru Harus Menguasai Teknologi Tanpa Kehilangan Peran Pendidik

Inovasi harus terlihat di ruang kelas

Di Kabupaten Malang, Sekda Budiar Anwar membawa pesan sejalan dalam Workshop Pengembangan Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan pada 31 Oktober 2026. Ia menekankan bahwa perubahan kurikulum, perkembangan teknologi, kebutuhan belajar yang beragam, serta tuntutan literasi dan numerasi membuat pengembangan kompetensi guru tak boleh berhenti. Namun, pelatihan bukan keberhasilan dengan sendirinya. Ukurannya adalah apakah pengetahuan baru benar-benar mengubah kegiatan belajar mengajar setelah peserta kembali ke sekolah.

Inovasi guru karena itu bukan soal memakai metode baru demi terlihat modern. Guru perlu memahami karakter siswa, mencoba pendekatan kreatif, lalu menilai apakah pendekatan tersebut membantu mereka belajar. Budiar mendorong peserta berdiskusi aktif dan menyusun langkah nyata untuk menerapkan hasil workshop. Arah ini lebih berguna daripada mengejar sertifikat tanpa tindak lanjut: peningkatan kemampuan harus terasa bagi siswa dalam bentuk penjelasan yang lebih mudah dipahami, kegiatan yang lebih menarik, dan dukungan belajar yang lebih tepat.

Mutu pendidikan bergantung pada keseimbangan

Tantangan bagi sekolah bukan memilih antara teknologi dan peran guru, melainkan menjaga keduanya saling menguatkan. Teknologi bisa mempercepat akses informasi, tetapi tanpa rancangan pembelajaran yang baik, siswa berisiko menerima banyak materi tanpa pemahaman mendalam. Sebaliknya, pengajaran yang mengabaikan alat dan perkembangan zaman dapat kehilangan cara untuk menjangkau kebutuhan belajar yang terus berubah. Kompetensi guru mencakup kemampuan mengajar, beradaptasi, mengenali karakter siswa, dan memakai teknologi secara tepat—bukan sekadar keterampilan mengoperasikan perangkat.

Kualitas pembelajaran juga dibentuk oleh kondisi profesi. Dalam seminar di Kuningan, pengembangan karier, kesejahteraan, dan pemahaman regulasi disebut perlu berjalan beriringan agar guru dapat bekerja profesional dan memperoleh kepastian. Ini bukan isu terpisah dari mutu pendidikan: guru yang dibebani ketidakpastian akan lebih sulit menyediakan perhatian dan energi untuk berinovasi. Organisasi profesi dan pemerintah perlu memastikan dukungan tersebut nyata, sembari mendorong berbagi praktik baik dan pengembangan kemampuan yang berkelanjutan.

Dari ajakan menuju perubahan nyata

Pekerjaan rumah Kuningan memperlihatkan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak berhenti pada ruang kelas. Rata-rata lama sekolah di kabupaten itu disebut masih 7,92 tahun. Pemerintah daerah mengajak PGRI, dinas pendidikan, Kementerian Agama, dan unsur masyarakat memperluas akses serta mendukung keberlanjutan pendidikan. Kolaborasi semacam ini dapat membantu lebih banyak anak bertahan di sekolah dan memperbaiki kualitas sumber daya manusia, sementara guru berperan penting dalam menjaga pembelajaran tetap relevan dan bermakna.

Langkah berikutnya harus konkret: guru membawa hasil pelatihan ke kelas, mencoba pendekatan yang sesuai, mengevaluasi dampaknya, lalu berbagi pengalaman dengan rekan sejawat. PGRI diharapkan menjadi ruang untuk saling menguatkan, mengembangkan kompetensi, dan memperjuangkan aspirasi secara konstruktif; peserta workshop di Malang pun didorong menyusun rencana penerapan setelah kembali ke sekolah. Pada akhirnya, teknologi hanya menjadi kemajuan pendidikan ketika membantu guru mengajar lebih baik. Mutu pendidikan tetap bertumpu pada pendidik yang terus belajar, berinovasi, dan hadir bagi siswanya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!