Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Santri Menguasai Teknologi tanpa Melepas Tradisi Pesantren

Santri Menguasai Teknologi tanpa Melepas Tradisi Pesantren
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Kemajuan teknologi perlu berakar pada akhlak

Pendidikan santri adalah proses membentuk generasi yang menguasai ilmu agama dan pengetahuan umum, mampu beradaptasi dengan perubahan, serta menjaga akhlak dan akar keilmuan pesantren. Pesan ini mengemuka dalam peringatan Hari Santri 2026: santri didorong memahami sains, teknologi, dan inovasi tanpa menanggalkan nilai yang menjadi pegangan hidupnya. Wakil Bupati Cirebon H Agus Kurniawan Budiman, Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad, dan Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan ajakan senada dalam rangkaian peringatan tersebut.

Dorongan ini tepat, tetapi ukurannya bukan sekadar seberapa cepat santri mengadopsi teknologi. Kecakapan digital harus membantu mereka menjawab persoalan masyarakat, bukan mengikis disiplin belajar dan tanggung jawab moral. Nasaruddin menegaskan bahwa kemampuan memahami sains, teknologi, dan bahasa internasional perlu berjalan beriringan dengan ilmu agama. Dengan landasan itu, teknologi pesantren dapat menjadi sarana untuk memperluas manfaat ilmu, sementara akhlak menjadi penuntun dalam menentukan cara penggunaannya.

Santri Menguasai Teknologi tanpa Melepas Tradisi Pesantren

Tradisi bukan penghalang inovasi

Keterbukaan terhadap perubahan tidak menuntut pesantren meninggalkan ciri khasnya. Membaca kitab kuning, menjaga kesinambungan sanad keilmuan, serta menghormati kiai dan guru tetap menjadi fondasi pembentukan karakter santri. Tradisi pesantren bukan beban yang harus disingkirkan agar inovasi tumbuh; justru tradisi memberi arah dan etika bagi pengetahuan baru. Santri perlu mampu memakai teknologi secara kritis, sekaligus memahami batas dan dampaknya bagi diri sendiri maupun masyarakat.

Ruang kiprah santri juga tidak semestinya dibatasi pada satu profesi. Mereka didorong mengembangkan kemampuan dan cita-cita, dari ulama, ilmuwan, pendidik, hingga pengusaha dan pemimpin. Karena itu, inovasi santri sebaiknya lahir dari pertemuan antara ketekunan belajar, nilai keislaman, dan kebutuhan nyata di sekitarnya. Pendidikan pesantren yang membuka ruang bagi sains dan keterampilan baru tanpa memutus tradisi akan menyiapkan lulusan yang lebih siap berkontribusi.

Tantangannya ada pada pelaksanaan: pesantren perlu dukungan untuk meningkatkan mutu pendidikan, memperluas pengakuan terhadap lulusannya, menyediakan pembiayaan, dan mengembangkan kemandirian ekonomi. Ajakan menguasai teknologi akan terdengar kosong bila akses belajar dan kesempatan berinovasi tidak ikut dibangun.

Momentum peringatan harus berlanjut menjadi kerja nyata

Tema Hari Santri 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, menempatkan kemampuan santri sebagai bagian dari masa depan bangsa. Ansar menyampaikan ajakan penguasaan ilmu, teknologi, dan inovasi saat memimpin upacara tingkat Provinsi Kepulauan Riau di Tanjungpinang pada 22 Oktober 2026. Pada 30 Oktober, Nasaruddin kembali mengangkat pesan serupa dalam kegiatan Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta, yang dihadiri ribuan santri, kiai, pengasuh pesantren, dan tokoh agama. Kesamaan pesan dari pejabat di berbagai tingkat menunjukkan bahwa adaptasi teknologi telah menjadi agenda penting dalam peringatan ini.

Sejumlah langkah memberi gambaran bagaimana dorongan itu dapat diterjemahkan. Dalam peringatan di Kepulauan Riau, kegiatan mencakup deklarasi antikekerasan dan Kepri Bersholawat bersama 3.000 santri; Ansar juga menyebut penambahan kategori lomba pidato bahasa Mandarin pada 2027. Sementara itu, Kementerian Agama menyatakan komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan pesantren, memperkuat pengakuan lulusan, mendukung pembiayaan, serta mendorong kemandirian ekonomi. Perlindungan peserta didik juga tak boleh dipisahkan dari agenda kemajuan: pesantren harus aman dan nyaman, bebas dari kekerasan, perundungan, maupun pelecehan.

Pada akhirnya, keberhasilan agenda ini tidak diukur dari banyaknya seruan tentang teknologi, melainkan dari santri yang mampu menggunakan ilmu untuk memberi manfaat tanpa kehilangan akhlak dan tradisi keilmuan. Pesantren perlu menjaga kitab, sanad, serta penghormatan kepada guru, sembari memperluas akses sains, bahasa, dan keterampilan digital. Bila keduanya berjalan seimbang, tradisi pesantren tidak sekadar bertahan menghadapi perubahan, tetapi ikut membentuk arah perubahan itu.

Santri Menguasai Teknologi tanpa Melepas Tradisi Pesantren

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!