Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ribuan Massa Kepung DPR: RUU Perampasan Aset dan Harga Pangan di Persimpangan

Ribuan Massa Kepung DPR: RUU Perampasan Aset dan Harga Pangan di Persimpangan
Minat|Asia Tenggara

Demo 27 Agustus di DPR: Ledakan Ketidakpuasan atas Korupsi dan Biaya Hidup

Demo 27 Agustus 2026 di depan Gedung DPR/MPR RI di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, adalah aksi unjuk rasa besar yang melibatkan ribuan massa dari berbagai daerah, aliansi mahasiswa, dan kelompok relawan, dengan tuntutan utama pengesahan RUU Perampasan Aset, penurunan harga kebutuhan pokok, hukuman mati bagi koruptor, serta evaluasi program pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada rakyat kecil. Aksi unjuk rasa DPR ini bukan sekadar ritual politik musiman, melainkan akumulasi kemarahan sosial: korupsi yang tak kunjung surut, harga pangan yang menekan dapur warga, dan program pemerintah yang dipersepsikan lebih sibuk membangun citra daripada menjawab keresahan sehari-hari. Demonstrasi Jakarta kali ini berpotensi menjadi barometer awal hubungan pemerintahan Prabowo-Gibran dengan basis masyarakat yang merasa diabaikan oleh kebijakan elit.

Ribuan Massa Kepung DPR: RUU Perampasan Aset dan Harga Pangan di Persimpangan

Peta Empat Kekuatan Utama: Dari Pati, Depok, Gerakan Mahasiswa hingga Relawan Madura

Kawasan Senayan diperkirakan akan menjadi episentrum demonstrasi Jakarta ketika empat kelompok utama menyatukan agenda dan kekuatan massa di depan DPR. Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) datang dari Jawa Tengah membawa misi ganda: mendesak pengesahan RUU Perampasan Aset dan mengusut dugaan suap serta gratifikasi yang menyeret Bupati Pati Sudewo, dengan angka Rp2,6 miliar dan potensi kerugian negara Rp42 miliar yang menjadi sorotan publik. "AMPB menuntut DPR memberikan komitmen tertulis untuk segera mengesahkan RUU Perampasan Aset," demikian salah satu poin tertulis yang mereka usung. Dari Depok, Aliansi Masyarakat Depok Bersatu (AMDB) memobilisasi sekitar 2.000 orang, terlebih dulu berdemo di DPRD Kota Depok sebelum bergabung ke Senayan, dengan tiga tuntutan tegas: RUU Perampasan Aset, hukuman mati bagi koruptor, dan penurunan harga kebutuhan pokok. Di sisi lain, Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) dan Relawan Madura Pengawal Program Presiden Prabowo (RMP4) membelah spektrum politik: GERAM membawa 10 tuntutan kritis, sementara RMP4 hadir sebagai blok pendukung program pemerintah.

Ribuan Massa Kepung DPR: RUU Perampasan Aset dan Harga Pangan di Persimpangan

RUU Perampasan Aset: Simbol Pertarungan Serius atau Sekadar Janji?

RUU Perampasan Aset menjadi kata kunci yang menyatukan hampir seluruh kelompok dalam aksi unjuk rasa DPR ini. AMPB dan AMDB secara terang meminta DPR bukan hanya mempercepat pembahasan, tetapi juga memberikan jaminan tertulis komitmen politik pengesahan. Di mata massa, rancangan undang-undang ini adalah ujian apakah parlemen berpihak pada publik atau pada jejaring oligarki yang diuntungkan oleh korupsi. GERAM membawa isu RUU Perampasan Aset dalam kerangka lebih luas: mereka menuntut pertanggungjawaban politik dan hukum Prabowo-Gibran atas kebijakan yang dinilai memperluas militerisme, melemahkan demokrasi, dan memperbesar ketimpangan ekonomi. Ketika hukuman mati bagi koruptor ikut diusung AMDB, kontrasnya terlihat jelas: rakyat frustrasi oleh impunitas, sementara elit masih memperlakukan korupsi sebagai penyimpangan yang bisa dinegosiasikan. Tanpa RUU yang tajam dan diterapkan secara konsisten, tuntutan hukuman mati menjadi cermin keputusasaan, bukan solusi kebijakan.

Harga Pangan, Upah, dan Program Pemerintah: Perang Narasi di Jalanan Senayan

Tuntutan harga pangan adalah benang merah yang menghubungkan ibu rumah tangga, buruh, dan mahasiswa dalam demonstrasi Jakarta kali ini. Massa menuntut penurunan harga kebutuhan pokok dan kenaikan upah buruh, mengeluhkan kebijakan pajak dan program yang dinilai tidak menyentuh akar biaya hidup sehari-hari. GERAM mendorong pendidikan dan kesehatan gratis serta menolak komersialisasi kampus dan pemangkasan anggaran layanan dasar, karena biaya layanan publik yang mahal memperparah beban rumah tangga. Mereka juga menuntut penghentian dan evaluasi menyeluruh Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Makan Bergizi Gratis (MBG), dengan tudingan minimnya transparansi anggaran dan potensi patronase politik. Di sisi lain, Relawan Madura Pengawal Program Presiden Prabowo (RMP4) hadir untuk mempromosikan MBG dan menunjukkan dukungan terhadap program pemerintah. Pertarungan narasi ini krusial: apakah program sosial menjadi alat perlindungan atau alat pencitraan dan kontrol politik?

Apa yang Dipertaruhkan: Legitimasi DPR dan Pemerintah di Mata Warga

Demo 27 Agustus 2026 bukan sekadar kerumunan yang memanaskan Senayan; ia adalah referendum informal atas legitimasi DPR dan pemerintah di mata warga. GERAM menempatkan aksi ini sebagai pengawasan langsung terhadap fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan DPR, sambil menuntut pimpinan dewan turun menemui massa untuk berdialog. Jika DPR kembali memilih bersembunyi di balik pagar dan prosedur, jarak politik dengan konstituen akan melebar. Sebaliknya, menerima dialog dan menindaklanjuti tuntutan — mulai dari RUU Perampasan Aset hingga kebijakan harga pangan — bisa menjadi titik balik membangun kepercayaan. Pada akhirnya, garis besarnya sederhana: masyarakat menuntut negara yang tegas terhadap korupsi, jujur dalam program sosial, dan peka terhadap dapur rakyat. Bila pesan yang lantang di Senayan diabaikan, demonstrasi Jakarta ini hanya akan menjadi bab pertama dari eskalasi ketidakpuasan yang lebih besar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!