Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ketika Kabut Asap Memaksa Sekolah Beralih ke PJJ

Ketika Kabut Asap Memaksa Sekolah Beralih ke PJJ
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

PJJ Darurat Asap: Menghidupkan Kembali Pola Lama dengan Konteks Baru

Pembelajaran jarak jauh asap adalah pengalihan kegiatan belajar mengajar dari tatap muka di kelas menjadi proses belajar dari rumah, yang diberlakukan sekolah ketika kualitas udara memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan sehingga berisiko bagi kesehatan siswa, dengan tujuan menjaga kontinuitas pendidikan tanpa memaksa anak datang ke lingkungan yang tidak sehat. Kebijakan PJJ krisis udara sekolah di Banjarmasin dan Banjarbaru lahir bukan dari keinginan eksperimen teknologi, melainkan dari urgensi melindungi anak dari paparan kabut asap karhutla yang menyelimuti kawasan sekitar sekolah. Pemerintah kota mengalihkan pembelajaran untuk beberapa hari, dan ketika indeks pencemar udara tetap tidak sehat, PJJ diperpanjang. Ini bukan sekadar pengulangan era Covid: guru diminta tetap hadir di sekolah, sementara siswa belajar dari rumah, menjadikan ruang kelas sebagai pusat koordinasi pembelajaran darurat, bukan lagi tempat tatap muka harian.

Kebijakan Sekolah: Menimbang ISPA, Aspirasi Orang Tua, dan Hak Belajar

Keputusan beralih ke pembelajaran jarak jauh asap adalah kompromi sulit antara hak anak atas pendidikan dan hak atas udara yang bersih. Di satu sisi, data kasus ISPA yang mencapai 6.841 pada Juli menjadi peringatan keras bahwa menunda kebijakan hanya akan menambah jumlah anak sakit. Di sisi lain, sekolah seperti SMPN 15 Banjarbaru harus menampung suara orang tua yang saling bertentangan: mayoritas meminta PJJ demi kesehatan, tetapi sebagian mengeluh kewalahan mendampingi anak di rumah, apalagi bagi yang bekerja penuh waktu. PJJ di sana awalnya ditetapkan hingga Jumat, namun tetap terbuka untuk perpanjangan mengikuti perkembangan kabut asap dan karhutla. Sementara di Banjarmasin, PJJ yang awalnya hanya tiga hari berubah menjadi hingga 12 September karena Indeks Pencemar Udara masuk kategori sangat tidak sehat. Pesan kebijakan ini tegas: PJJ bukan libur, melainkan penataan ulang cara belajar.

Strategi Guru: Ponsel, Grup WhatsApp, dan Ruang Kelas yang Sepi

Inti strategi guru pembelajaran darurat di tengah PJJ krisis udara sekolah adalah pragmatis: gunakan apa yang ada di tangan. Bukan laboratorium komputer mewah, melainkan ponsel pribadi, grup WhatsApp, dan sesekali Google Meet atau Zoom. Di SDN Pengambangan 5, pola belajar jelas: siswa tetap mengikuti jadwal pelajaran, tugas dikirim sesuai jam, sementara guru memantau dari sekolah lewat WhatsApp dan pertemuan daring. Kutipan penting di sini: "Siswa belajar dari rumah, sementara para guru tetap datang dan bekerja dari sekolah seperti hari biasa". Di SMP Negeri 2 Banjarmasin, Zoom dipakai untuk memastikan interaksi tatap muka virtual, sementara tugas dikirim online. Di MTsN 2 Kota Jambi, para guru memanfaatkan smartphone masing-masing untuk terhubung dengan siswa, mengajar matematika dan bahasa Indonesia lewat Google Meet dari lingkungan madrasah. Infrastruktur sederhana, tetapi disiplin guru menjadi penentu apakah PJJ tetap bermakna.

Dampak di Lapangan: Ketimpangan Akses dan Risiko Belajar yang Tersamar

Kebijakan pembelajaran jarak jauh asap menyelamatkan anak dari paparan kabut, namun menyingkap ketimpangan lama: tidak semua keluarga punya perangkat dan koneksi memadai. Di SDN Pengambangan 5, sekolah bahkan harus membuka opsi orang tua datang mengambil tugas langsung ke sekolah bagi yang tidak memiliki ponsel dengan aplikasi WhatsApp. Di SMPN 15 Banjarbaru, masalah lain muncul: siswa tidak aktif mengikuti pembelajaran daring secara maksimal, mengancam kualitas pemahaman mereka meski proses formal tetap berjalan. Dampak kebakaran hutan pendidikan terasa ganda: anak yang datang ke sekolah berisiko ISPA, anak yang di rumah berisiko tertinggal materi. Peran keluarga makin berat, karena orang tua diminta menjadi pendamping belajar sekaligus penjaga kesehatan, sesuatu yang banyak dari mereka akui sulit ketika jam kerja tidak ikut menyesuaikan. PJJ krisis udara sekolah, tanpa dukungan sosial yang kuat, mudah berubah menjadi sekadar pengiriman tugas, bukan pembelajaran.

Pelajaran Kebijakan: Menjadikan PJJ Darurat Lebih Manusiawi dan Berkelanjutan

Jika kabut asap menjadi rutin, pembelajaran jarak jauh asap tak bisa lagi diperlakukan sebagai solusi sekali pakai. Praktik di Banjarmasin, Banjarbaru, dan Jambi menunjukkan bahwa sekolah mampu bergerak cepat dengan panduan indeks kualitas udara, surat edaran, dan kanal digital seadanya. Namun ke depan, PJJ krisis udara sekolah perlu dirancang dengan standar minimum yang lebih manusiawi: modul ringkas yang realistis dikerjakan dari rumah, pengaturan jam sinkron agar tidak membebani keluarga, serta skema dukungan bagi siswa tanpa gawai. Strategi guru pembelajaran darurat yang mengandalkan WhatsApp dan ponsel harus diimbangi pelatihan pendek agar interaksi tetap berpusat pada pemahaman, bukan sekadar pemberian tugas. Kesimpulannya, kebakaran hutan tidak boleh terus-menerus mengorbankan mutu pendidikan; kabut asap memang memaksa PJJ, tetapi kebijakan yang cermat bisa mengubah krisis menjadi momentum perbaikan cara kita mengajar dan melindungi anak.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!