Belajar dari Rumah di Tengah Kabut Asap: Melindungi Nyawa, Menjaga Hak Belajar
Pembelajaran jarak jauh akibat kabut asap adalah kebijakan darurat ketika kualitas udara di sekitar sekolah memburuk, sehingga peserta didik diminta belajar dari rumah melalui metode daring atau luring, dengan tujuan melindungi kesehatan mereka sambil memastikan proses pendidikan dan capaian belajar tidak terhenti dalam situasi bencana lingkungan pendidikan yang berulang. Dalam beberapa hari terakhir, raudhatul athfal, madrasah, dan pesantren di Kalimantan Utara menerapkan sistem pembelajaran dari rumah sebagai respons langsung terhadap kabut asap karhutla yang mengancam kesehatan warga satuan pendidikan. Kepala Kanwil Kemenag Kalimantan Utara menegaskan bahwa dalam kondisi ini, keselamatan jiwa adalah prinsip utama sehingga belajar dari rumah menjadi pilihan sementara bagi wilayah dengan kualitas udara yang tidak aman. Sikap ini seharusnya menjadi standar: pendidikan boleh beradaptasi, tetapi tak boleh mengorbankan kesehatan.

Tana Tidung dan Berau: BDR Sebagai Tameng Kesehatan di Bencana Lingkungan
Ketika kabut asap sekolah semakin tebal, Dinas Pendidikan Tana Tidung memilih langkah tegas: seluruh PAUD, SD, dan SMP melaksanakan Belajar Dari Rumah mulai 2 September dan berlangsung hingga kualitas udara membaik. Kebijakan ini bukan sekadar pengulangan masa pandemi, melainkan respons konkret terhadap ancaman ISPA yang menghantui anak-anak dan guru. Menurut Arman Jauhari, pembelajaran dari rumah tetap harus menyajikan materi dan tugas yang bisa dikerjakan dari rumah, dengan dukungan platform digital seperti akun belajar.id. Di Berau, kebijakan BDR diperpanjang dan diiringi penyiapan pola pembelajaran jarak jauh agar proses pendidikan tidak terhenti meski siswa absen dari kelas fisik. Kepala Dinas Pendidikan Berau, Mardiatul Idalisah, menilai infrastruktur digital kini jauh lebih siap dibanding masa Covid-19, sehingga alasan "tidak bisa belajar" karena BDR seharusnya sudah tidak lagi dapat diterima.
Teknologi, Ketimpangan, dan Risiko Menyulap BDR Jadi Tumpukan PR
Di atas kertas, pembelajaran jarak jauh tampak rapi: sekolah memakai Zoom, Google Meet, atau grup WhatsApp untuk menjaga interaksi guru–murid. Namun bencana lingkungan pendidikan membuka kembali luka lama: ketimpangan akses internet dan listrik. Disdik Tana Tidung terpaksa menawarkan jalur luring melalui modul cetak, buku paket, dan lembar kerja siswa bagi mereka yang sulit jaringan. Ini kompromi yang perlu, tetapi mengandung risiko BDR berubah menjadi sekadar tumpukan PR tanpa pendampingan. Menyadari bahaya itu, Kanwil Kemenag Kalimantan Utara secara eksplisit meminta satuan pendidikan tidak membebani peserta didik dengan tugas berlebihan dan menyesuaikan materi dengan kondisi masing-masing anak. Di Berau, dinas pendidikan bahkan mendorong aktivitas belajar yang ringan dan menyenangkan agar anak tetap nyaman, bukan tercekik target tugas. Kebijakan-kebijakan ini menunjukkan kesadaran penting: di krisis, empati pedagogis sama urgennya dengan koneksi internet.
Ketika Lingkungan Sekitar Menjadi Kelas: Menghindari Pelajaran yang Terputus
Di Berau, perpanjangan BDR akibat kabut asap memicu satu eksperimen pendidikan yang patut diapresiasi: guru didorong menerapkan kurikulum pembelajaran mendalam yang membuka ruang belajar dari lingkungan sekitar siswa. Setelah sesi online, anak diarahkan melakukan kegiatan yang relevan dengan materi di rumah, sehingga rumah dan halaman menjadi "laboratorium" belajar. Pendekatan ini adalah koreksi penting terhadap tradisi pendidikan yang terlalu terpusat pada buku dan ruang kelas. Dinas Pendidikan Berau juga melakukan monitoring dan evaluasi setiap tiga hari dengan kepala sekolah untuk memastikan proses pembelajaran tetap berjalan dan tidak ada materi yang tertinggal. Di sisi lain, Kanwil Kemenag Kalimantan Utara meminta satuan pendidikan terus memantau kualitas udara dan menyesuaikan pola pembelajaran mengikuti arahan daerah. Ini menegaskan bahwa kontinuitas belajar bukan sekadar soal tetap memberi tugas, tetapi soal menjamin hak pembelajaran bermakna di tengah kabut asap sekolah yang memaksa anak bertahan di rumah.
Kesimpulan: BDR Bukan Hanya Tombol Darurat, Tapi Ujian Serius Bagi Sistem Pendidikan
Serangkaian kebijakan belajar dari rumah di Kalimantan Utara, Tana Tidung, dan Berau memperlihatkan bahwa kabut asap bukan lagi gangguan musiman, melainkan stres test berkala bagi sistem pendidikan. Di satu sisi, kita melihat kemajuan: penggunaan platform digital, alternatif luring, pemantauan berkala, dan kurikulum yang mengakui lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Di sisi lain, tantangan klasik—akses teknologi, keterlibatan siswa, dan risiko beban tugas—masih kuat menghantui. Jika BDR terus diperlakukan sebagai tombol darurat yang hanya dipencet saat kabut datang, tanpa investasi jangka panjang pada infrastruktur, pelatihan guru, dan desain pembelajaran yang inklusif, setiap musim karhutla akan kembali mengancam hak belajar anak. Kesimpulannya tegas: kabut asap boleh memaksa pintu sekolah tertutup, tetapi tidak boleh menutup ambisi kita membangun pembelajaran jarak jauh yang setara, manusiawi, dan tahan bencana.






