Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Edukasi Antinarkoba di Sekolah Harus Menjadi Bekal Nyata

Edukasi Antinarkoba di Sekolah Harus Menjadi Bekal Nyata
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Pencegahan lebih kuat ketika hadir di sekolah

Edukasi narkoba sekolah adalah upaya memberi pelajar pengetahuan dan keterampilan untuk mengenali risiko penyalahgunaan, menolak ajakan, serta mencari bantuan dalam lingkungan belajar yang dekat dengan kehidupan mereka. Pendekatan ini penting karena larangan saja tidak membekali remaja menghadapi tekanan pergaulan atau bujukan yang muncul sehari-hari. Pada Jumat, 30 Oktober 2026, BNN Kota Surakarta menggelar talkshow P4GN dan tatap muka interaktif bertema “Ananda Bersinar: Cerdas Memilih, Berani Menolak, dan Berprestasi Tanpa Narkoba” di SMAN 9 Surakarta. Kegiatan tersebut diikuti 60 siswa. Dua hari kemudian, Senin, 2 November 2026, Kapolsek Pangkalan Banteng IPTU Agung Sugiarto menyampaikan imbauan dan edukasi bahaya penyalahgunaan narkoba kepada siswa SMKN 1 Pangkalan Banteng melalui pertemuan daring. Kedua kegiatan menunjukkan bahwa pesan pencegahan perlu dibawa langsung ke sekolah, bukan dibiarkan berhenti sebagai slogan.

Angka risiko menuntut edukasi yang lebih konkret

Pentingnya pencegahan narkoba pelajar terlihat dari data yang dipaparkan dalam kegiatan BNN. Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba BNN mencatat angka nasional 2,11 persen atau setara 4,15 juta penduduk usia 15–64 tahun pada 2025, naik dari 1,73 persen pada 2023. Di Surakarta, kepolisian mencatat sedikitnya 126 kasus peredaran dan penyalahgunaan narkoba dengan 169 tersangka sepanjang 2025. Remaja rentan terhadap pengaruh teman sebaya, tekanan sosial, rasa ingin tahu, dan keputusan impulsif. Karena itu, edukasi yang hanya menakut-nakuti berisiko kurang berguna: siswa perlu memahami bahaya kesehatan sekaligus berlatih menentukan respons saat menghadapi situasi nyata. Talkshow di SMAN 9 mencoba memperluas pembahasan dari dampak narkoba hingga cara menolak dan meminta pertolongan.

Data BNN menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkoba nasional mencapai 2,11 persen pada 2025, setara 4,15 juta penduduk usia 15–64 tahun, meningkat dari 1,73 persen pada 2023.

Pengetahuan harus bisa dipakai saat menghadapi tekanan

Materi BNN di SMAN 9 menyentuh tiga ranah yang semestinya hadir dalam setiap talkshow P4GN sekolah: kesehatan, hukum, dan keterampilan sosial. Dokter BNN menjelaskan dampak narkotika terhadap tubuh dan perkembangan otak remaja; jaksa membahas risiko hukum bagi pengguna maupun pihak yang terlibat dalam peredaran. Sementara itu, pemateri dari Yayasan KAKAK mengajak siswa mengenali tekanan teman sebaya, membedakan situasi pergaulan yang aman dan berbahaya, serta menggunakan sikap asertif untuk menolak. Peserta juga berdiskusi tentang cara membantu teman yang diduga terpengaruh narkoba dan prosedur pelaporan yang aman. Materi ini lebih bernilai daripada peringatan umum karena memberi pelajar tindakan yang dapat dilakukan: menjauh dari situasi berisiko, menolak membawa paket tak dikenal, dan mencari orang tepercaya.

Sekolah bukan sekadar tempat penyuluhan

Kegiatan kepolisian di SMKN 1 Pangkalan Banteng menekankan dampak narkoba bagi kesehatan dan masa depan, sekaligus konsekuensi hukum penyalahgunaan maupun peredaran. Pesan itu penting, tetapi pencegahan akan lebih meyakinkan bila hubungan antara sekolah, keluarga, aparat, dan layanan bantuan tidak berhenti pada satu sesi. BNN Surakarta turut mengawali acara di SMAN 9 dengan Deklarasi Sekolah Bersinar, yang menegaskan komitmen bersama membangun lingkungan belajar aman dan bebas narkotika. Kedua pendekatan menempatkan sekolah sebagai ruang pembentukan kesadaran, bukan hanya lokasi ceramah. Namun, ukuran keberhasilan edukasi narkoba sekolah seharusnya bukan sekadar jumlah peserta atau deklarasi, melainkan apakah siswa mampu mengenali risiko, berani menolak, dan tahu kepada siapa harus meminta bantuan.

Kesimpulan: bekali siswa, jangan hanya memperingatkan

BNN Kota Surakarta dan Polsek Pangkalan Banteng sama-sama membawa pencegahan narkoba langsung ke lingkungan sekolah, dengan format yang berbeda tetapi tujuan serupa: membantu pelajar menjauhi penyalahgunaan dan peredaran. Langkah ini patut didukung, terutama ketika ancaman dan kerentanan remaja tercermin dalam data nasional maupun lokal. Namun, pesan “berani menolak” akan lebih kuat bila disertai pemahaman tentang dampak kesehatan dan hukum, latihan menghadapi tekanan teman sebaya, serta akses bantuan yang jelas. Sekolah perlu menjadi tempat siswa memperoleh bekal praktis, bukan sekadar mendengar larangan. Itulah inti pencegahan narkoba pelajar yang layak diperluas: pengetahuan yang bisa diterapkan, keberanian untuk berkata tidak, dan lingkungan yang siap memberi dukungan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!